2 Jemaah Umrah Tewas! Komisi VIII DPR Minta Kemenag Lakukan Langkah Pencegahan agar Kecelakaan Maut Tak Terulang di Arab Saudi

 2 Jemaah Umrah Tewas! Komisi VIII DPR Minta Kemenag Lakukan Langkah Pencegahan agar Kecelakaan Maut Tak Terulang di Arab Saudi

JAKARTA – Komisi VIII DPR RI meminta agar Kementerian Agama (Kemenag) melakukan langkah preventif atau pecegahan agar kecelakaan di Arab Saudi saat jemaah umrah melakukan proses ibadah di Mekkah. Komisi VIII DPR RI ingin agar kejadian serupa tak terulang lagi dikemudian hari.

Untuk itu, Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi kecelakaan mau itu yang merenggang dua nyawa dari Warga Negara Indonesia (WNI) meninggal dunia perlu dicari penyebabnya. Kahfi turut berduka atas kejadian tersebut.

Kahfi pun mengingatkan ke Kemenag menyampaikan pada jemaah untuk berhati-hati selama menyediakan transportasi bagi jamaah yang menjalani ibadah haji dan umrah di Arab Saudi. Karena, sesuai data yang dimiliki Kahfi, kecelakaan mobil menjadi nomor lima pembunuh di Arab Saudi.

“Kita punya data, sesuai catatan kita dari salah satu media lokal di sana, bahwa negara Arab Saudi adalah tingkat kecelakaan mobil tertinggi di dunia. Di mana kasus kecelakaan mobil menjadi nomor lima di negara itu,” kata Kahfi seperti keterangan tertulisnya diterima Lintas Parlemen, Jumat (28/10/2022).

Sebagai informasi, Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI telah merilis bahwa kecelakaan yang terjadi Selasa (25/10/2022) lalu waktu setempat adalah kecelakaan tunggal. Di mana dua orang yang meninggal dunia itu yakni pengemudi bus beserta muthawif yang kenal dengan sebutan sebagai pemandu jemaah haji dan umrah.

Ia juga mengusulkan, Kemenag segera membentuk sebuah tim kecil agar memverifikasi kelayakan bus ditumpangi para jemaah umrah yang telah disediakan pengelola travel tersebut termasuk verifikasi kelayakan layak pakai bus dan kemampuan SDM sopir yang membawa jemaah.

“Saya usulkan kepada Kemenag segera membentuk tim khusus supaya melakukan verifikasi pada perusahaan bus yang dipakai oleh pengelola travel Umrah. Dan verifikasi pada kelayakan kendaraan untuk digunakan, termasuk kelayakan atau kualifikasi SDM sopirnya yang membawa jemaah,” papar Kahfi.

Tak hanya itu, atas kecelakaan tersebut, negara Arab Saudi mengalami kerugian yang cukup signifikan atas kejadian tersebut. Arab Saudi harus merelakan uang riyalnya sebesar 13 miliar riyal pada kecelakaan itu.

Kahfi menjelaskan, atas kejadian tersebut Arab Saudi rugi setara dengan 3,46 miliar dolar AS per tahun disebabkan oleh kecelakaan kendaraan mobil. Selain itu, ada kerugian 4 miliar riyal bagi kecelakaan manusia dan 3,4 miliar riyal bagi kendaraan rusak.

“Bahkan media di Arab Saudi menyebutkan bahwa angka kerugian tersebut akibat yang ditimbulkan dari kecelakaan sangat besar, angka itu tak main-main,” terang Kahfi.

Politisi PAN ini menegaskan, pemerintah perlu mewanti-wanti pada pengelola travel haji dan umrah di tanah air untuk memilih transportasi yang digunakan pada jemaah dengan kualifikasi terbaik. Untuk itu, ia berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi di Arab Saudi menimpa jemaah asal Indonesia.

“Kita sangat paham, penyediaan infrastruktur transportasi di Arab Saudi itu merupakan kebijakan mereka termasuk lalu lintas, itu domain mereka. Sementara Pemerintah, dalam hal ini Kemenag bekerja sama dengan pihak swasta yang mengelola travel haji dan umrah agar bisa memastikan perusahaan bus yang disewa benar-benar punya kualitas terbaik,” tegas Kahfi.

Editor: Habib Harsono

Digiqole ad

Berita Terkait