Asyik Berpeluang Besar Menangkan Pilkada Jabar 2018

Asyik Berpeluang Besar Menangkan Pilkada Jabar 2018

SHARE
Ubedilah Badrun Analis sosial politik UNJ

Oleh : Ubedilah Badrun*

Tanggal 27 Juni 2018 mendatang tidak hanya mendebarkan bagi warga Jawa Barat tetapi juga mendebarkan bagi semua lembaga survei.

Pada tanggal tersebut warga Jawa Barat akan memilih pemimpinya untuk lima tahun mendatang dan pada hari itu lembaga survei akan diuji kredibilitasnya apakah hasil surveinya mendekati fakta hasil pilkada atau melenceng jauh.

Lembaga survei berdebar-debar karena fakta historisnya dua kali pilkada Jawa Barat (2008 & 2013) hasilnya selalu jauh dari prediksi hasil survei, yang diprediksi menang oleh lembaga survei justru kalah.

Selisih persentasi antara hasil survei dengan pemenang berada pada angka yang cukup signifikan antara 10 sampai 20 %. Angka selisih yang tidak sedikit. Pada pilkada 2008 pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf memperoleh suara 40.50%, padahal hasil surveinya selalu kalah tidak sampai 25 %.

Begitu juga pada pilkada Jabar 2013 yang dimenangkan Ahmad Heryawan-Dedy Mizwar dengan perolehan suara 32.39% padahal hasil surveinya selalu kalah tidak sampai 20%. Itulah sebabnya pilkada Jawa Barat sering disebut sebagai lapangan kuburan bagi lembaga survei.

Kini pasangan nomor 3 Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) hasil survei mayoritas lembaga survei selalu dibawah angka 20%. Pasangan yang diusung Partai Gerindra, PKS, dan PAN ini menjadi perhatian banyak analis untuk diajukan pertanyaan apakah pasangan Asyik ini akan memenangkan pilkada 2018 sebagaimana kemenangan Aher-Dede pada 2008 dan Aher-Demiz pada 2013?

Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab jika mengetahui jawaban faktor apa yang paling dominan yang telah memenangkan pasangan yang diusung PKS, PAN, dll pada pilkada Jabar 2008 dan 2013 lalu?

Cara terbaik menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan jawaban secara akademik (perspektif ilmiah). Bahwa diantara perspektif ilmiah adalah dengan menggunakan perspektif empirik. Secara empirik faktor yang dominan mempengaruhi kemenangan di Pilkada Jawa Barat bukan karena faktor financial capital (modal finansial) yang dimiliki pasangan calon dan tim, bukan juga elektabilitas hasil survei, tetapi faktor bekerjanya mesin politik pasangan cagub-cawagub.

Baca juga :   Andi Arief, Yudhoyono dan keteladanan Sandiaga Uno

Mesin politik (partai & relawan) pasangan Sudrajat-Ahmad Syaiku dikenal sebagai mesin politik yang gigih. Dari banyak hasil penelitian tentang partai politik menyimpulkan bahwa PKS dikenal sebagai partai yang banyak memiliki kader muda yang gigih dalam bergerak mempengaruhi dan mengajak pemilih, disusul kemudian PAN dan kini Gerindra.

Jika mencermati pengalaman empirik pilkada Jawa Barat pada 2008 dan 2013 dan analisis empirik faktor dominan kemenangan (mesin politik) maka pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) memiliki peluang cukup signifikan untuk memenangkan pilkada Jawa Barat 2018.

Faktor lainya yang turut mempengaruhi kemungkinan pasangan Asyik adalah Faktor ketokohan Prabowo dan Aher yang berada di pihak pasangan Asyik. Sebagaimana diketahui bahwa pada pilpres 2014 Prabowo memenangkan pilpres di Jawa Barat dengan perolehan suara yang sangat signifikan mencapai 59.78 % dibanding Jokowi yang memperoleh suara 40.22 %. Suara Prabowo yang signifikan tersebut kemungkinan besar turut memberi pengaruh pada pilkada Jawa Barat.

Sementara Aher adalah Gubernur Jawa Barat dua periode yang secara faktual menoreh ratusan prestasi. Aher mampu memimpin Jawa Barat dengan segudang Prestasi. Hingga 2017 terdapat 250 prestasi provinsi Jawa Barat.

Banyak penghargaan utama diperoleh provinsi Jawa Barat seperti pemerintah provinsi berkinerja terbaik secara nasional dua tahun berturut-turut (2016-2017) pada puncak peringatan Hari Otonomi Daerahke XXI tahun 2017 pada 25 April 2017.

Selain itu, Pemprov Jabar juga menjadi Pemda paling sering meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI selama enam kali berturut-turut dari tahun 2011-2016. Yang terakhir, penghargaan pemda terbaik tersebut diberikan Presiden Jokowi kepada Ahmad Heryawan di Istana Negara Jakarta, pada Kamis 14 September 2017 lalu.

Faktor Prabowo dan Aher menjadi faktor yang menguntungkan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang turut mendorong mesin politik bekerja dan turut mendorong pemilih menjatuhkan pilihan pada pasangan nomor 3 tersebut.

Baca juga :   Pudjoharsoyo Harus Berani Prakarsai Reformasi MA

Hal lain yang secara empirik faktual patut dicermati adalah ada sekitar 52% lebih pemilih di Jawa Barat masuk kategori floating mass (massa mengambang), mereka tidak terafiliasi dengan partai politik, diantara mereka ada swing voters (pemilih yang sering berpindah pilihan) dan undicided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan). Angka 52% inilah yang sering membuat lembaga survei di Jawa Barat masuk kuburan.

Terhadap masa mengambang 52% ini hanya mesin politik yang bisa menyentuh mereka. Oleh karenanya hanya pasangan cagub-cawagub yang memiliki mesin pilitik tangguh yang bisa memenangkan Pilkada Jawa Barat, begitu juga sebaliknya kekalahan juga menunjukan tidak bekerjanya mesin politik.

Analisis diatas akan diuji pada 27 Juni 2018 mendatang. Apakah mesin politik pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu bekerja optimal. Jika bekerja optimal maka kemungkinan besar kemenangan pilkada di Jawa Barat ada pada mereka. Wallahu a’lam.

Analis sosial politik UNJ

Facebook Comments