Bahasa Melayu Jakarta Ikon Budaya Populer di Arena CFW

 Bahasa Melayu Jakarta Ikon Budaya Populer di Arena CFW

Citayam Fashion Week (CFW) sedang menjadi tren di kalangan kaula muda. Kalangan anak muda dari pinggiran Jakarta, seperti dari Citayam, Bogor, Depok yang mereka populerkan menjadi SCBD (Sudirman, Citayam, Bogor, Depok). Padahal SCBD sebelumnya dikenal sebagai kawasan elit bisnis Jakarta, yaitu, Sudirman Central Business Districk (SCBD).

Kalangan anak muda dari pinggiran Jakarta dengan ciri budaya kaum urbannya menjungkirbalikkan kemapanan budaya kaum elit berdasi di Jakarta. Mereka menampilkan kreasi budaya urban kaum muda pinggiran Jakarta berbusana dengan harga yang amat terjangkau, terbilang amat murah jika dibandingkan dengan busana yang sering ditampilkan para peragawan/ peragawati di catwalk di hotel berbintang.

Sebagai kaum muda urban dari berbagai suku bangsa di Nusantara, mereka menggunakan bahasa gaul yang sama, bahasa yang tren di kalangan anak muda di Jakarta, yaitu bahasa Melayu Jakarta yang akarnya adalah bahasa Melayu Betawi. Bahkan bahasa Melayu Jakarta yang mereka gunakan telah pula menyebar ke kalangan anak muda di seluruh Indonesia melalui media sosial, bahkan melalui media massa, termasuk televisi yang meliput berbagai kegiatan mereka di arena Citayam Fashion Week.

Kalau kita telusuri, bahasa Melayu Jakarta, yang diksinya seperti enggak, lupain, pacarin, dengerin, kagetin, putusin, yang tren di kalangan anak muda di CFW, sesungguhnya telah pula menjadi tren dikalangan anak muda Jakarta dan Indonesia di masa sebelumnya.

Sekira era tahun 90-an misalnya, penggunaan bahasa Melayu Jakarta begitu populer di radio FM seluruh Indonesia, termasuk di televisi. Bahkan, lagu formal yang dinyanyikan oleh kelompok band anak muda yang amat terkenal pada masa itu, juga menggunakan bahasa Melayu Jakarta dalam liriknya. Sebut saja kelompok musik Slank misalnya.

Tentu kita ingat lirik lagunya yang amat terkenal masa itu, “balikin, eh eh balikin, masa gue seperti dulu lagi. Elo bakal kena tanggung jawab …” Syair lagu ini amat kental menggunakan bahasa Melayu Jakarta. Tren bahasa Melayu Jakarta seperti ini pun terjadi di kalangan anak muda di era sebelumnya, yaitu era 1980-an.

Pada masa 1980-an, ikon anak muda tren yang mengusung budaya populer khas ibukota pada masa itu, yaitu Lupus. Lupus sebagai ikon anak muda yang trendi, ganteng, cuek dan di gemari remaja putri dan menjadi idola remaja putra pada masa itu. Lupus telah menjadi cerita novel yang amat terkenal dan laris manis. Ketika novelnya diubahsuai ke dalam bentuk film dengan judul Lupus pun menjadi film (pengalihwahanaan) yang box office di seluruh Indonesia.

Dalam novel dan filmnya, sosok Lupus digambarkan sebagai anak muda yang tren, idola, dan ia menggunakan bahasa Melayu Jakarta sebagai bahasa gaulnya. Bahasa Melayu Jakarta digunakan sosok Lupus dalam pergaulannya yang mengesankan di Novel maupun film. Lalu, bahasa Melayu Jakarta yang selalu dijadikan ikon budaya populer yang tren di kalangan anak muda itu sebenarnya berakar dari bahasa apa?

Bahasa Melayu Jakarta berakar pada rumpun bahasa Melayu Betawi. Hal ini dapat ditelusuri dari ragam bahasa, diksi, termasuk dari struktur kalimat yang digunakan. Lalu, bahasa Melayu Jakarta mengapa tidak dikategorikan sebagai bahasa Indonesia dialek Jakarta?

Bahasa Melayu Jakarta tidak tepat dikatakan sebagai bahasa Indonesia dialek Jakarta, karena bahasa Melayu Jakarta sudah ada sebelum bangsa Indonesia ada pada 17 Agustus 1945 dan sebelum bahasa Indonesia dicetuskan pada Sumpah Pemuda 1928. Bahasa Melayu Jakarta yang berakar dari bahasa Melayu Betawi, dahulunya pada masa penjajahan Belanda dikenal sebagai bahasa Melayu Batavia. Bahasa Melayu Betawi, sebagai induk bahasa Melayu Batavia, telah pula eksis sebelum Indonesia ada dan sebelum bahasa Indonesia di cetuskan.

Lalu, mengapa Bahasa Melayu Betawi ada di Pulau Jawa, bukankah bahasa Melayu merupakan bahasa etnik yang ada di Pulau Sumatera dan di Semenanjung Malaysia, serta di Pulau Kalimantan (Brunei, Pontianak, Banjar, Sarawak, Sabah, dst)? Hal ini tentu menarik.

Bahasa Melayu Betawi ada di Pulau Jawa, yang dikelilingi etnik berbahasa non-Melayu, seperti bahasa Sunda dan bahasa Jawa (Banten berbahasa Jawa dan Sunda). Sebagaimana kita tahu, Batavia/ Jakarta merupakan kota pelabuhan, sejak zaman kolonial Belanda Batavia merupakan kota pelabuhan yang didiami beragam etnik di seluruh Nusantara.

Terlebih lagi Batavia merupakan pusat kekuasaan atau ibukota Hindia Belanda. Untuk menyatukan berbagai etnik di Batavia, digunakanlah bahasa Melayu sebagai lingua franca. Bahasa Melayu lingua franca yang digunakan berakar dari bahasa Melayu Betawi.

Penggunaan bahasa Melayu Betawi di Batavia lebih diperkuat dengan kedatangan penduduk dari Semenanjung Malaysia, tepatnya para pelarian dari kerajaan Malaka yang pada abad ke-17 mulai dikuasai penjajah Eropa, khususnya Portugis, tepatnya sekira tahun 1516.

Pada Masa itu, para prajurit kerajaan Malaka yang sebagian besar prajurit lelaki melarikan diri menggunakan perahu/ kapal laut, mereka menyebar ke sepanjang pantai Sumatera (Selat Malaka), sepanjang pantai Pulau Jawa, termasuk ke Batavia, bahkan sampai ke Kepulauan Maluku. Tidak mengherankan kalau kemudian ada kampung tua bernama Kampung Malaka di Batavia bahkan ada pula Kampung Melayu di Jakarta Timur. Kampung Malaka pun ada di Kepulauan Maluku.

Prajurit lelaki dari Malaka ini kemudian menikah dengan penduduk setempat/ penduduk tempatan, lalu beranak pinak yang menjadi bagian dari etnik Melayu Betawi di Jakarta sekarang. Jadi, tak dapat dipungkiri, nenek moyang etnik Betawi salah satunya berasal dari kerajaan Melayu Malaka. Pakaian kebaya perempuan Betawi pun amat mirip dengan kebaha perempuan Malaka di Malaysia.

Sebelum Batavia dan wilayah Barat Pulau Jawa dikuasai Belanda, wilayah tersebut merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Melayu Sriwijaya yang berkuasa dari abad ke-7 hingga abad ke-14. Sebagai wilayah kekuasaan kerajaan Melayu Sriwijaya menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca. Batavia pun sudah dirintis menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca pada masa itu. Setelah abad ke-14, wilayah Batavia menjadi wilayah kekuasaan Majapahit.

Uniknya, walaupun Majapahit berbasis di Jawa Timur yang berbahasa Jawa, tetapi di wilayah kekuasaannya yang amat luas di Nusantara, majapahit tetap menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca, sebagaimana yang telah dilakukan pendahulunya, yaitu kerajaan Sriwijaya. Majapahit menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca, termasuk di wilayah Batavia. Bahasa Melayu Betawi pun tetap eksis di Batavia dan sekitarnya pada masa itu.

Dengan begitu, boleh dikatakan bahasa Melayu Jakarta yang digunakan oleh kaula muda di arena CFW, sebenarnya bukanlah hal baru. Apa yang dilakukan anak muda di arena Citayam Fashion Week dengan menggunakan bahasa Melayu Jakarta sebagai bahasa pergaulannya, merupakan bahasa pengantar yang sudah amat lama digunakan di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya oleh kalangan muda di wilayah Nusantara.

Pertanyaannya kemudian, apakah bahasa Melayu Jakarta lambat laun akan menggerus penggunaan bahasa Indonesia di seluruh wilayah NKRI? Atau akankah bahasa Melayu Jakarta menyingkirkan penggunaan bahasa Indonesia di Asia Tenggara (wilayah ASEAN) bahkan di seluruh dunia yang disebarkan melalui pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), jawabannya tidak. Sebab, bahasa Melayu Jakarta merupakan bahasa populer di kalangan anak muda. Ia menjadi ikon budaya populer yang tren di kalangan anak muda.

Bahasa Melayu Jakarta pun menjadi bahasa yang renyah untuk digunakan oleh kaum muda asing di luar penutur bahasa Indonesia yang belajar bahasa melalui program BIPA. Para orang asing pelajar muda yang belajar BIPA menggunakan bahasa Melayu Jakarta dalam pergaulannya yang akrab di dunia nyata, maupun dalam pergaulan sesama kaum muda di media sosial.

Akan tetapi, lihatlah, mereka fasih menggunakan bahasa Indonesia formal ketika mereka bicara di forum resmi seminar. Artinya, bahasa Melayu Jakarta telah berperan menjadi pintu masuk untuk menguasai bahasa Indonesia formal yang digunakan di seluruh Indonesia, forum Asia Tenggara, bahkan di seluruh dunia.

Jakarta, 4 Agustus 2022

Oleh: Erfi Firmansyah, Pengamat Bahasa dan Sastra UNJ

Digiqole ad

Berita Terkait

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.