Bahasa Melayu Jakarta Pemersatu Kaum Muda ‘SCBD’ di Arena CFW

 Bahasa Melayu Jakarta Pemersatu Kaum Muda ‘SCBD’ di Arena CFW

Citayam Fashion Week (CFW) menjadi fenomena menarik akhir-akhir ini. Sekelompok anak muda, bahkan remaja, melakukan pemberontakan budaya yang amat kreatif. Budaya pinggiran Jakarta yang biasanya dianggap sebelah mata (agak norak, kurang bernilai seni tinggi), melakukan serangan budaya, langsung di Jantung Jakarta.

Semacam gerakan “Desa mengepung kota”. Mereka melakukan serangan budaya tepatnya di area Stasiun Dukuh Atas di jalan Sudirman yang amat dekat dengan Bundaran HI dan hanya beberapa ratus meter dari Monas, ikon pusatnya Jakarta.

Dunia fashion yang biasanya didominasi oleh kaum elit ekonomi menengah ke atas, kaum jet set yang senantiasi wangi dan bersih, tradisinya dibuat terbalik. Lalu, arena fashion show yang biasanya dilakukan di hotel yang mahal serta berbayar tinggi, dibuat tak berlaku semua citra itu di arena CFW.

Anak-anak remaja dari pemukiman padat pinggiran Jakarta (wilayah urban dan budayanya pun budaya urban), seperti dari Depok, Bojong Gede, dan Citayam, berbondong-bondong datang ke kawasan perkantoran elit Sudirman. Mereka datang dengan aneka pakaian dan aksesoris yang unik, namun dengan harga yang amat terjangkau (sangat tidak mahal). Dengan menumpang kereta api ekonomi yang murah.

Mereka berlenggak-lenggok bak peragawan peragawati profesional. Berbagai kreatifitas yang mereka tampilkan, mampu menarik perhatian media. Awalnya mereka meramaikan media sosial, namun secara meyakinkan mereka ramai pula diliput oleh massa profesional yang sudah mapan, baik itu cetak, apalagi elektronik, termasuk oleh stasiun televisi papan atas.

Fenomena CFW ini pun amat masif menyebar dan menjadi tren di kalangan anak muda Indonesia. Arena budaya seperti CFW, mulai diadakan di kota-kota di Indonesia, seperti di Bandung, Malioboro Yogya, Malang, Makassar, Palembang, dan yang di kota lainnya.

Di Arena CFW, mereka berasal dari berbagai kalangan yang tentu juga berlatar belakang budaya yang berbeda-beda, sebagaimana beragamnya budaya kaum urban penyangga ibukota. Mereka ada yang berlatar belakang budaya, Sunda, Jawa, Betawi, Madura, Bugis, Minang, Palembang, Flores, Manado, dll.

Dengan begitu, bahasanya pun beragam, akan tetapi mereka bisa guyub dalam satu bahasa anak muda Jakarta Raya. Lalu, bahasa apa yang sesungguhnya mampu menyatukan kaum muda di Indonesia itu? Itulah bahasa Melayu Jakarta.

Fenomena bahasa tersebut, baik disadari atau tidak telah menjadikan bahasa Melayu Jakarta sebagai bahasa pemersatu anak muda di Indonesia. Televisi, radio, media sosial yang berciri anak muda di kota-kota di Indonesia, semua sama. Mereka menggunakan bahasa Melayu Jakarta yang akarnya adalah bahasa Melayu Betawi. Bahasa Melayu Jakarta di kalangan remaja di Indonesia. Ia telah berterima di sanubari anak muda Indonesia. Bahkan hampir tak lagi disadari bahwa bahasa tersebut dari luar kultur bahasa ibu mereka.

Pilihan-pilihan kata seperti bener, enggak, ngapain, majuin, ngedapetin, masukin, cepetin, dst. merupakan diksi bahasa Melayu Jakarta yang induknya adalah bahasa Melayu Betawi. Bahasa Melayu Betawi, telah pula eksis sebelum negara Indonesia ada dan sebelum bahasa Indonesia dicetuskan. Mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia formal dengan diksi, benar, tidak, mengapa, majukan, mendapatkan, masukkan, percepat, dst.

Bahasa Melayu Jakarta, menjadi bukti sumbangan yang amat besar dari etnik Melayu Betawi terhadap bangsa Indonesia. Bahasa Melayu Jakarta terbukti dapat menyatukan anak muda di seluruh Indonesia, termasuk sampai ke pelosok desa. Bahkan kaum muda di luar negeri, orang asing yang belajar bahasa Indonesia, merasa lebih nyaman dan lebih natural ketika mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Melayu Jakarta.

Hal ini bisa kita lihat di kanal YouTube atau media sosial lainnya yang dikelola oleh orang asing yang pandai berbahasa Indonesia dengan mengikuti program belajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing), salah satunya kanal YouTube Yuna Nuna dari Korea Selatan.

Dengan perkataan lain, bahasa Melayu Jakarta telah menjadi bahasa kaum muda Indonesia yang universal. Bersatulah kaum muda milenial di arena CFW serta di media sosial di Indonesia. Jadikanlah bahasa Melayu Jakarta sebagai pintu pertama untuk kemudian mengenalkan bahasa Indonesia bagi kaum muda di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, baik melalui media sosial maupun media massa.

Jakarta, 2 Agustus 2022
Erfi Firmansyah, Pengamat Bahasa dan Sastra UNJ

Digiqole ad

Berita Terkait

1 Comment

  • Sejak kapan suku betawi diklasifikasikan ke dalam etnik melayu, jangan gunakan propaganda melayu disini ya, suku melayu hanya mencakup pesisir timur sumatra dan pesisir kalimantan, suku betawi merupakan perpaduan antara suku suku nusantara, yang merantau ke jakarta, ada pengaruh melayu, ada juga pengaruh jawa, minang dan khususnya sunda yang sangat kental, suku betawi tidak pernah dikategorikan sebagai suku melayu! Hati hati kalau buat pendapat seenaknya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.