Bangun Kepekaan Sosial, Akademisi Dorong Mahasiswa Perkuat Jiwa Kebangsaan

 Bangun Kepekaan Sosial, Akademisi Dorong Mahasiswa Perkuat Jiwa Kebangsaan

JAKARTA – Akademisi Universitas Islam 45 (UM Indonesia), Dr. Rasminto mengingatkan mahasiswa agar tidak boleh menjadi kelompok intelektual yang jauh dari realitas sosial.

Menurut Rasminto, mahasiswa harus peka terhadap persoalan masyarakat sekaligus menyiapkan diri sebagai calon pemimpin bangsa yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki orientasi kebangsaan yang kuat. Pandangan itu ia sampaikan dalam materi bertajuk Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam dalam Membangun Kesadaran Sosial dan Kepemimpinan Bangsa pada Webinar Kuliah Umum Dewan Mahasiswa STAI Nurul Iman Bogor, 7 Maret 2026.

“Tantangan zaman hari ini tidak memberi ruang bagi mahasiswa untuk bersikap netral terhadap masalah-masalah kemasyarakatan. Ketika tekanan global ikut berdampak pada kedaulatan nasional, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pemburu gelar dan prestasi akademik. Mereka perlu hadir sebagai kelompok yang mampu membaca situasi, memahami kebutuhan masyarakat, dan menjaga nalar kebangsaan di tengah perubahan yang cepat,” kata Rasminto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Rasminto menegaskan, mahasiswa sejak awal memikul peran strategis sebagai agen perubahan, agen kontrol sosial, dan cadangan kepemimpinan bangsa. Posisi itu membuat mahasiswa tidak semestinya berdiri jauh dari denyut persoalan rakyat dan bangsa.

“Kampus, dengan demikian, harus dipahami bukan hanya sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai tempat pembentukan watak, keberanian moral, dan kesadaran untuk mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa”, ujarnya.

Menurut Rasminto, tanggung jawab itu menjadi semakin penting bagi mahasiswa perguruan tinggi agama Islam. Mereka, kata dia, tidak hanya membawa mandat intelektual, tetapi juga mandat moral dan spiritual dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

“Ilmu pengetahuan, dalam pandangan ini, tidak boleh berhenti pada penguasaan teori, melainkan harus menjelma menjadi kepedulian sosial, keteguhan karakter, dan kesediaan untuk berbuat bagi kepentingan yang lebih besar daripada diri sendiri,” tegasnya.

Ia menambahkan, mahasiswa yang dibutuhkan bangsa hari ini adalah manusia unggul yang terus belajar sepanjang hayat, berintegritas, memiliki wawasan luas, patriotik, dan peka dalam situasi kebangsaan.

“Rumusan itu menegaskan bahwa kepemimpinan mahasiswa tidak lahir dari popularitas semata, melainkan dari perpaduan antara pengetahuan, karakter, dan komitmen pada kepentingan bangsa. Dalam konteks itu, pendidikan tinggi perlu lebih sungguh-sungguh menyiapkan mahasiswa sebagai calon pemimpin yang matang secara intelektual dan kokoh secara etis,” jelasnya.

Rasminto juga menyoroti pentingnya kepemimpinan adaptif dalam pembentukan karakter mahasiswa. Kepemimpinan, menurut dia, harus dibangun di atas pemahaman nilai-nilai pembentuk karakter seperti loyalitas, tanggung jawab, dan rasa hormat, disertai keluasan wawasan lintas disiplin serta keberanian melakukan aksi nyata. Bagi dia, pemimpin muda tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus mampu menggerakkan organisasi agar efektif menjalankan tugas dan fungsinya.

“Peringatan itu menjadi relevan karena generasi muda juga hidup di tengah arus disinformasi yang kian deras. Apalagi situasi di era post-truth politics dan perang informasi yang membuat emosi kerap lebih dominan daripada fakta, sementara propaganda digital makin mudah membelokkan opini publik. Kita lihat saja data Komdigi yang mengidentifikasi 1.923 konten hoaks, berita bohong, dan informasi palsu sepanjang 2024, dengan kategori politik dan pemerintahan termasuk yang menonjol. Kondisi ini membuat mahasiswa dituntut menjaga akal sehat publik, tidak mudah terseret arus, dan tetap berpijak pada kepentingan bangsa,” tegasnya.

Rasminto berharap mahasiswa jangan sampai kehilangan hubungan batin dengan bangsanya sendiri. Di tengah bonus demografi dan perubahan besar yang sedang dihadapi Indonesia.

“Mahasiswa perlu tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli, tidak hanya kritis, tetapi juga berkarakter, tidak hanya vokal, tetapi juga siap memimpin dengan jiwa kebangsaan yang kuat. Bonus demografi Indonesia yang akan kita dapatkan pada 2045, akan menjadi peluang hanya jika generasi mudanya memiliki kualitas kepemimpinan dan kesadaran sosial yang memadai”, pungkasnya.

Facebook Comments Box