Berapa Besar Daya Tahan Ekonomi Indonesia Mengadapi Gejolak Kurs Dollar?

Berapa Besar Daya Tahan Ekonomi Indonesia Mengadapi Gejolak Kurs Dollar?

SHARE
Helmi Adam (foto: LP)

Oleh: Helmi Adam*

Cadangan devisa Indonesia bulan Maret masih di angka 128 Milyar USD. Namun di bulan Juli menjadi 118 milyar USD.

Itu artinya dalam lima bulan kita telah “membakar” uang untuk intervensi sebesar 10 milyar USD atau setara dengan 147 trilyun, jika kita mengunakan kurs dollar Rp. 14.700.

Tapi penurunan nilai tukar rupiah tetap berlanjut, dan tidak juga menunjukan penguatan rupiah yang signifikan, malah justru semakin dalam terpuruk. Pertanyaanya apakah kita harus “membakar” cadangan devisa terus menerus untuk menstabilkan harga rupiah ?

Padahal kita ketahui bahwa penyebabnya adalah fundmental ekonomi kita yang lemah. Karena adanya defisit anggaran berjalan, kesimbangan primer negatif, deficit perdagangan.

Semua ini menunjukkan Indonesia tidak memiliki pendapatan yang memadai, untuk bayar hutang. Padahal jika seseorang pinjam uang untuk utang ke bank, ditanya pendapatannya dulu, berapa dia punya pendapatan, sehingga utang bisa dibayar.

Oleh karena itu, aneh juga jika ada yang mau meminjamkan Indonesia utang, karena Indonesia tidak memiliki pendapatan yang memadai untuk bayar utang. Jangan-jangan si kreditor ada “Udang di balik batu” sehingga mau meminjamkan uangnya, atau inikah yang dinamakan “Jebakan Betmen” utang, untuk mengusai negara?

Jika kita berkaca pada tahun 1998 ketika krisis moneter terjadi, saat itu kita masih punya pendapatan, sehingga pemerintah masih bisa menalangi utang swasta walaupun akhirnya jadi kasus BLBI.

Terlepas dari itu pemerintah masih bisa menalangi dari pendapatannya. Hal ini di karenakan sampai 1998, perdagangan kita masih surplus, sehingga dalam waktu sekejap kita berhasil pulih dari krisis.

Pertanyaannya justru berapa besar kemungkinan kita bisa keluar dari krisis yang akan menimpa jika dollar terus merambah naik? Berapa besar daya tahan ekonomi Indonesia mampu untuk mengadapi gejolak kurs dollar.

Baca juga :   Pemerintah dan Bank Indonesia harus Antisipasi Anjloknya Nilai Rupiah 2018

Jika kita belajar dari Turki yang berhasil menaikkan kembali liranya dalam waktu sepekan dikarenakan kecintaan dan kepercayaan rakyatnya dengan pemerintah yang cukup besar. Lalau apakah pemerintah kita dipercaya rakyatnya dan di cintai rakyatnya?

Bukankah selama ini justru pemerintah terkesan membiarkan perpecahan terjadi, dan membiarkan keadaan ketidakadilan sehingga rakyat menjadi kurang peduli bahkan saling serang.

Hal ini merupakan PR besar pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya.

Penulis adalah kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Borobudur, Jakarta

Facebook Comments