Bertemu Airlangga, Puan Bisa Saja Gabung ke KIB

 Bertemu Airlangga, Puan Bisa Saja Gabung ke KIB

JAKARTA – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani akan bertemu Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut akan membuka peluang koalisi PDIP dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Pertemuan itu bisa saja menghasilkan kemungkinan koalisi akan terbentuk antara KIB dan PDIP. Asalkan ada ketertarikan KIB pada PDIP,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno kepada wartawan, Jumat (30/9/2022).

Adi juga menilai PDIP juga masih terbuka untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra-PKB maupun Partai Nasdem, PKS, dan Partai Demokrat. Mengingat pemilu 2024 mengharuskan tiap parpol bersikap cair untuk memenuhi syarat.

“Poros-poros politik ini kan sedang hampir mulai terbentuk semua. Tinggal menyisakan PDIP, mau bergabung dengan yang mana, ke KIB, Gerindra-PKB, atau Nasdem, PKS, Demokrat yang sebenarnya sudah mulai terkonsolidasi tinggal deklarasi,” ungkapnya.

Diketahui, Puan dan Airlangga semestinya dijadwalkan bertemu pada Agustus 2022. Namun, kala itu Airlangga yang juga Menko Perekonomian mendampingi kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Lampung. Kini, rencana pertemuan kembali dirancang.

Adi mengatakan pertemuan tersebut tentu sebagai upaya penjajakan yang dibangun PDIP terhadap Golkar. Lantaran keduanya baik itu Airlangga dan Puan Maharani sama-sama ingin menjadi calon presiden di 2024.

“Semuanya dalam proses penjajakan tentu saja. Sebelum janur kuning melengkung, sebelum ada yang bisa dipastikan siapa yang maju dan daftar ke KPU ya semuanya serba mungkin,” jelasnya.

Menurut Adi, kunjungan tersebut adalah bagian dari komunikasi politik yang dilakukan Puan untuk memastikan tiket dan dukungan guna berlaga pada Pilpres 2024.

“Ini kan sebenarnya komunikasi politik yang dibangun oleh Puan untuk memastikan bisa maju dan bisa didukung oleh partai-partai politik yang lain. Inti dari komunikasi politik kan begitu. Pasti membawa kepentingan partai dan dirinya untuk bisa maju,” tegasnya.

Jika komunikasi tersebut produktif dan mencapai kesepakatan politik, tidak menutup kemungkinan koalisi antara PDIP dan Golkar akan terbentuk. Namun hal itu memerlukan waktu dan pertimbangan politik yang matang.

“Kalau PDIP, misalnya, dengan Golkar maju ya pasangannya dari PDIP dan Golkar kalau itu cocok ya koalisi terbentuk,” tuturnya.

Menurut Adi, penjajakan dan kemungkinan koalisi PDIP bukan pada persoalan kekuatan figur pasangan calon, melainkan pada kepastian untuk bisa maju dalam Pilpres 2024.

“Ini bukan soal kuat-kuatan, karena elite partai semua ingin maju. Tentu bagi mereka ingin memastikan bahwa ada partai dan figur yang memiliki kepentingan yang sama yaitu bisa menampung dan mengakomodir kepentingan politik mereka,” paparnya.

Sementara itu, peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro mengungkapkan saat ini poros koalisi menunggu langkah dari PDIP. Pasalnya, PDIP menjadi satu-satunya partai yang dapat mengusung calon presiden dan calon wakil presiden.

“Salah satu variabel yang menentukan adalah sikap PDIP, sebagai partai terbesar yang bisa maju sendiri, langkah dia dinantikan oleh yang lain. Mau sendiri atau bergabung dengan embrio koalisi lain, misal KIB atau Gerindra. Nah, itu akan membayangi embrio koalisi yang sudah ada,” imbuhnya.

Laporan: Gia

Editor: Adip

Digiqole ad

Berita Terkait