Boy Rafli Amar Raih Gelar Doktor Ilmu Komunikasi Unpad dengan Nilai Sangat...

Boy Rafli Amar Raih Gelar Doktor Ilmu Komunikasi Unpad dengan Nilai Sangat Memuaskan, A IPK 3,90

SHARE

BANDUNG – Luar Biasa! Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Wakalemdikpol) Irjen Pol Boy Rafli Amar raih gelar doktor ilmu komunikasi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa dengan nilai sangat memuaskan, A IPK 3,90.

Boy Rafli raih nilai A dari disertasi “Integrasi Manajemen Media dalam Strategi Humas Polri sebagai Aktualiasasi Prometer” di Gedung Balai Sawala Unpad, Rabu (14/8/2019) pagi tadi di Jatinagor.

Luar biasanya lagi, Boy Rafli berhasil mempertahankan disertasinya di depan Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Padjajaran doktor Dadang Rahmat Hidayat.

Disertasi itu menganalisis manajemen media Polri sekaligus merespon opini publik terkait peran Divisi Humas Polri sebagai pengelola manajemen media, implementasi siber publik relation Polri, serta integrasi manajemen media dalam strategi Kehumasan di Polri.

Boy Rafli melakukan pendekatan penelitian secara kualitatif dengan paradigma konstruktifisme untuk menjelaskan itu secara komprehensif suatu organisasi di institusi Polri.

Tak hanya itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun menjadi penguji dalam sidang doktor Ilmu itu. Tito didampingi Kadivhumas Polri Irjen Pol M Iqbal dan Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Sufahriadi.

Boy Rafli pun tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana Ilmu Komunikasi UNPAD dengan nomor mahasiswa 210130140034.

Boy Rafli diuji sembilan penguji yakni Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos.,SH.,M.Si., Dr. Dadang Sugiana, M.Si., Prof. Deddy Mulyana, MA.,Ph. D, Dr. Edwin Rizal, M.Si., Dr. Atwar Bajari, M.Si., Dr. Ninis Agustini Damayani, M.Lib., Dr. Siti Karlinah, M.Si., dan Jendral Pol. Prof. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

“Disertasi ini merupakan studi kasus dari implementasi manajemen media salah satu program prioritas Polri. Pendekatan studi kasus digunakan untuk menjelaskan secara komprehensif suatu organisasi dan program yang dikembangkan oleh institusi Polri,” kata Boy Rafli.

“Namun tidak dapat kita pungkiri, kinerja petugas kepolisian sering diterpa kritik tajam dari masyarakat. Kritik tersebut lahir karena adanya harapan publik tentang sosok petugas kepolisian yang memiliki karakter sempurna dan dapat menjadi manusia ‘super’ pelindung masyarakat. Publik menginginkan polisi menjadi pahlawan yang selalu siap menjawab tantangan yang hadir di masyarakat,” sambung Roy Rafli.

Boy Rafli dengan analisisnya mengungkapkan, polisi perlu mewujudkan jiwa humanis dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dan menciptakan anggota Polri yang SMART (Sigap Mengelola Aspek Rasional Teknologi).

“Terkahir, untuk mewujudkan aktualisasi postur Polri yang profesional, modern dan terpercaya (promoter), perlu mewujudkan anggota Polri yang memiliki kualifikasi PRIMA (profesionalisme, responsif, integritas, modern dan adaptif),” pungkasnya. (L3)

 

 

Hadir dalam acara itu Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Supriadi, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal, pimpinan TNI, pengamat, tokoh masyarakat, dan ratusan undangannya lainnya.

 

Boy menjelaskan disertasinya juga berdasarkan hasil penelitian yang mengungkap bahwa manajemen media merupakan commander wish dari Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sebagai jawaban atas tantangan publik yang diberikan kepada Polri untuk melakukan reformasi pada Polri.

Selain itu menurut Boy Rafli manajemen media diperlukan oleh Polri sebagai fungsi fact finding untuk memperoleh gambaran opini publik terhadap institusi Polri. Data tersebut lalu diolah dan dianalisis kemudian disusun menjadi rencana strategis Polri. Selanjutnya Divisi Humas Polri yang berperan sebagai pelaksana utama manajemen media memiliki peran mengelola opini publik, manajemen informasi, manajemen enggament, serta memberikan pelayanan informasi, kebijakan komunikasi hingga media sosial.

Sementara aktivitas siber publik relation sebagai upaya memberi literasi, edukasi kepada publik, memanfaatkan media sosial sebagai bentuk integrasi manajemen media dalam strategi humas yang diwujudkan dalam kerja sama media mainstream, optimalisasi media sosial, menekan berita negatif, penggunaan aplikasi IMM, dan desiminasi keberhasilan Polri. Selain merespon cepat sentimen negatif pengelola trending topik termasuk mampu membalikkan persepsi publik atas kinerja Polri, di mana institusi Polri berada pada tren positif, hingga citra Polri terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Kritik
Mantan Kadiv Humas Mabes Polri di hadapan para pengujinya memaparkan, tidak dapat dipungkiri bahwa kinerja petugas polisi sering diterpa kritik tajam dari masyarakat. Kritik tersebut lahir karena adanya harapan publik tentang sosok petugas kepolisian yang memiliki karakter sempurna dan dapat menjadi manusia “super” pelindung masyarakat.

Publik menginginkan polisi menjadi pahlawan yang selalu siap menjawab tantangan yang hadir di masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh August Vollmer mantan Kepala Polisi di California Amerika Serikat yakni ketika petugas mampu menjaga berbagai harapan masyarakat, persepsi kinerja petugas dapat menjadi positif, yang akhirnya berujung pada citra petugas yang baik secara umum. Selain “jalan pintas” yang dapat ditempuh oleh setiap institusi termasuk kepolisian untuk dapat menampilkan citra yang positif dengan menggunakan kekuatan media. Mengingat media berfungsi sebagai penyedia berita dan informasi yang disebarkan dapat mempengaruhi opini, sikap dan kepercayaan publik terhadap organisasi.

Oleh karenanya kemampuan membentuk isi pemberitaan media menjadi kerja utama dalam pengelolaan citra dan hubungan masyarakat oleh berbagai organisasi, termasuk Polri.

Media menjadi kekuatan pendorong bagi akuntabilitas kepolisian di mana mereka juga berperan sebagai mesin kritik bagi Polri.

Di masa lalu polisi memilih pendekatan yang reaktif terhadap “serangan” media dengan sikap defensif atau menutup sumber informasi yang harusnya disebarluaskan pada media.

Dijabarkan pesatnya perkembangan teknologi telah membuat ekosistem media pun berubah, seperti televisi, radio, dan surat kabar tidak lagi menjadi satu-satunya saluran komunikasi antara masyarakat dan organisasi.

Menurut Boy, era tahun 2000-an berkembang teknologi media baru yang membuat organisasi dapat langsung berkomunikasi dengan masyarakat via basis teknologi internet. Kecanggihan alat telekumunikasi ini membantu masyarakat terhubung dan bertukar informasi satu sama lain tanpa kehadiran gatekepeer.

Disebutkan, masyarakat dapat memiliki peran sebagaimana media yakni memproduksi berita di satu sisi, dan di sisi lain tetap mengkonsumsi informasi dari berbagai saluran yang tersedia. Dari itu Polri diharapkan bersikap proaktif memanfaatkan media baru untuk kepentingan pengelolaan informasi ke luar dan ke dalam organisasi. Pemanfaatan media baru ini sebagai bagian dari upaya melakukan harmonisasi harapan publik dengan kebijakan yang akan dihasilkan oleh institusi kepolisian.

“Saat internet sudah menjadi akrab dalam keseharian kita, jaringan pintar yang menghubungkan komputer dengan manusia pada tingkat tertentu sudah menjadi kebutuhan bagi orang yang membutuhkan informasi dan komunikasi. Menjadi ikon utama bagi kemajuan ranah TI, internet telah mengubah cara orang berpikir, bekerja, belanja, belajar dan berkomunikasi,” kata Boy.

Boy Rafli merupakan alumni Akpol 1988, lulus PTIK 1997, Sespim 2002, Sispimti 2011, dan Lemhanas 2013. Karirnya di Polri antara lain dimulai dari Kanit Resintel Polsek Gambir Polda Metro 1990, Kapusdalop Polres Sorong Irian Jaya 1997, Pamapta Polres Metro Jakarta Pusat 1998, kemudian Kasat Op Polda Irian Jaya Papua 1999, Wakapolres Jakarta Utara 2004, Kapolres Kepulauan Seribu 2004, Dirserse Kriminal Umum Polda Maluku Utara 2008, Kapoltabes Padang Sumbar 2008.

Selanjutnya menjabat Kadiv Humas Polda Metro 2009, Karo Penmas Divisi Humas Polri 2012, Kapolda Banten 2014, Kadiv Humas Mabes Polri 2016, Kapolda Papua 2017, Wakalemdikpol Polri 2018 sampai sekarang.

Facebook Comments