Buat Ngabalin, Kritik Itu Bukan Comberan

Buat Ngabalin, Kritik Itu Bukan Comberan

SHARE

Oleh: Muslim Arbi, Pengamat Sosial Politik

Mengkritik itu tidak sama dengan mulut comberan. Jika Pemerintah ini tidak dikritik dan membiarkan pemerintah bawa negara ini ke arah yang salah, maka akibatnya negara ini akan hancur dan rusak.

Apakah mengkritik itu cari-cari kesalahan? Kritik itu pantas dilakukan oleh siapa saja. Kapan saja dan di mana saja. Fungsi kontrol terhadap pemerintah bisa dilakukan oleh DPR. Tapi kalau DPR juga seperti orang bisu dan gagu terhadap jalannya pemerintah, maka siapa saja berhak awasi pemerintah dan lakukan kontrol terus menerus. Termasuk apa yang di lakukan oleh Pak Amien Rais.

Apa yang dikatakan oleh Ali Mokhtar Ngabalin bahwa Pak Amien Rais bermulut comberan adalah sesuatu yang sangat salah dan keterlaluan.

Sebagai Tokoh Reformasi, apa yang dilakukan Pak Amien Rais adalah hak sebagai warga negara dan Tokoh Pergerakan.

Negara ini akan dibawa ke arah yang kediktatoran dan otoritarianis, jika saja mendiamkan hal yang salah apa dilakukan penguasa.

Dengan menyebut mulut comberan oleh Ngabalin terhadap Pak Amien Rais adalah sebuah penghinaan terhadap Demokrasi dan Reformasi. Boleh saja Ngabalin lakukan penjilatan terhadap Jokowi sebagai bosnya, tapi sudah sangat berlebihan jika kritikan dianggap sebagai seuatu yang kotor yang keluar dari comberan.

Apakah Ngabalin lupa terhadap bosnya itu, Jokowi yang karena suka keluar masuk got sehingga dengan pencitraannya itu jadi presiden. Meski pencitraan murahan itu tidak terkait apa pun dengan kinerja yang perlu di lakukan ketika berada dalam got.

Got itu tempat comberan. Dan Jokowi pernah keluar masuk got. Meski Ngabalin perlu nasehati Jokowi soal keluar masuk got. Karena itu hanya bikin tertawaan bagi yang berakal sehat.

Baca juga :   Pilgub DKI dan Evaluasi Manajemen Kaderisasi Partai

Ngabalin juga perlu beri advis agar jangan lakukan tindakan yang dianggap comberan oleh publik dengan cara nyeker di sawah dan kluyuran di sawah, sementara beras diimpor pada saat musim panen.

Pencitraan murahan seperti nyeker di sawah itu bagi publik hanya lah perbuatan comberan yang tidak punya arti apa-apa dalam penataan pertanian dan produksi pangan jika impor beras yang dikritik banyak pihak tetap dijalan kan pemerintah.

Ada perbuatan yang dianggap comberan juga oleh publik dengan ucapan seorang presiden yang juga kepala negara dengan kesan adu domba rakyat yang mengarah kepada konflik sipil.

Tapi, ketika dikonfirmasi wartawan; dengan santai santainya Jokowi bilang, siapa yang bilang?

Padahal semua rekaman dan video sudah viral di medsos. Dan sejumlah pembantunya sibuk membantah omongan bos nya itu.

Ucapan Presiden kemudian di bantah sendiri itu dikesan kan seperti Orang yang lupa ingata atau Amnesia. Gawat kan kalau Presiden Amnesia?

Tindakan yang terkesan seperti comberan itu mesti juga dikritik oleh Ali Mokhtar Ngabalin.

Tapi satu hal dengan omongan kasar dan tanpa santunan itu, Ngabalin akan semakin membuat rezim ini semakin jatuh harganya di mata publik. Ancaman krisis ekokomi karena pengelolaan ekonomi secara amburadul ini mengancam kebangkrutan Bangsa dan Negara ini.

Kritik itu tidak sama dengan Comberan Tuan Ngabalin. Hehehe

Nasping amat sih lo Lie? Mbo jilat sih jilat tapi jangan berlebihan dong, hehehe.

Depok, 9 Agustus 2018

 

Facebook Comments