DPR Beri Catatan Kasus Intoleran Sekolah di Jakarta

 DPR Beri Catatan Kasus Intoleran Sekolah di Jakarta

JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat atau biasa disingkat DPR RI menegaskan, bahwa sekolah harus menjadi tempat peserta didik mendapatkan pembelajaran mengenai nilai-nilai Pancasila.

Di mana nantinya para peserta didik mendapatkan pemahaman pluralisme, gotong royong, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Sekolah bukan menjadi tempat suburnya praktik-praktik intoleran,” kata Christina Aryani Anggota Komisi I DPR RI kepada wartawan, Jumat (12/8/2022).

Lebih jauh, Politisi Golkar in mengaku cukup prihatin banyak kejadian kecil maupun besar yang menyangkut intoleransi di lingkungan sekolah.

Apalagi, terang Christina, kejadian itu berada di DKI Jakarta yang notabenenya kota plural yang memperlihatkan model Indonesia seutuhnya karena terdiri atas berbagai suku, agama, dan budaya.

“Saya menyayangkan apabila citra tersebut tercoreng karena kejadian-kejadian intoleran di sekolah-sekolah,” ujarnya.

“Kami dorong agar pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah memberi perhatian khusus pada sekolah-sekolah di Jakarta agar tidak ada lagi kejadian serupa,” tukasnya.

Berikut merupakan daftar 10 sekolah negeri yang diduga ditemukan praktik intoleran:

1. SMAN 58 Jakarta Timur (terjadi pada November 2020)

TS, guru SMAN 58 Jakarta Timur, melarang muridnya memilih Ketua OSIS non-muslim. Dugaan aksi intoleran ini mencuat usai beredar tangkapan layar yang berisikan instruksi rasis oleh TS dalam sebuah grup WhatsApp.

2. SMAN 101 Jakarta Barat

Seorang warga menyampaikan keluhan tentang murid non-muslim yang diwajibkan memakai jilbab saat hari Jumat. Alasannya adalah penyeragaman pakaian sekolah.

3. SMPN 46 Jakarta Selatan

Siswi kelas 7 ditegur lantaran tak menggunakan jilbab di lingkungan sekolah. Ia tak pernah dirundung oleh temannya lantaran tak memakai jilbab.

Namun, begitu ditegur oleh gurunya secara berulang lantaran tak memakai jilbab, siswi itu justru tertekan.

4. SDN Cikini 2 Jakarta Pusat

Pengurus SDN Cikini 2 mewajibkan seluruh muridnya memakai baju muslim pada saat bulan Ramadhan. Padahal, di sekolah itu ada murid yang tak beragama Islam.

5. SMKN 6 Jakarta Selatan

Pada Juli 2022, murid-murid SMKN 6 Jakarta Selatan dipaksa mengikuti mata pelajaran Kristen Protestan. Padahal, mereka merupakan penganut agama Hindu dan Buddha.

6. SMPN 75 Jakarta Barat

Salah satu murid di sana dipaksa menggunakan jilbab. Sebelum menggunakan jilbab, murid itu mendapatkan sindiran dari guru di sekolah itu.

7. SMPN 74 Jakarta Timur

Murid di SMPN 74 Jakarta Timur dipaksa menggunakan jilbab. Pihak sekolah juga memaksa setiap murid untuk menandatangani surat pakta integritas yang salah satu poinnya berisikan instruksi agar semua murid mengikuti kegiatan keagamaan dan wajib mengenakan jilbab.

8. SDN 3 Tanah Sareal Jakarta Barat

Murid di SDN 3 Tanag Sareal diwajibkan mengenakan celana atau rok panjang. Hal itu menyebabkan para muridnya tak bergerak leluasa.

9. SMPN 250 Jakarta Selatan

Satu guru di SMPN 250 diduga membuat soal ujian akhir sekolah yang dinilai mendiskreditkan eks Presiden Megawati Soekarnoputri. Guru itu juga disebut mengampanyekan citra Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

10. SDN 3 Cilangkap Jakarta Timur

Murid SDN 3 Cilangkap beragana non-muslim dipaksa mengikuti kegiatan muslim dan diwajibkan berperilaku layaknya seorang muslim, mulai dari cara menyapa, berkegiatan di lapangan, pengajian di dalam mushala, dan berdoa ketika pulang.

Laporan: Gia

Editor: Adip

Digiqole ad

Berita Terkait