DPR Ingatkan BPJS Ketenagakerjaan Kelola Dana Pekerja dengan Hati-hati

 DPR Ingatkan BPJS Ketenagakerjaan Kelola Dana Pekerja dengan Hati-hati

JAKARTA – Anggota Komisi IX PR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sutan Adil Hendra (SAH) angkat suara terkait pola manajemen pelaksanaan dana investasi para pekerja oleh BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek.

Sutan Adil mengingatkan BPJS Ketenagakerjaan mengelola dana investasi para pekerja secara hati-hati. Sutan menilai kurang terbukanya Direksi BPJS Ketenagakerjaan terkait investasi yang dilakukan di pasar saham.\

“Semestinya BPJS Ketenagakerjaan melakukan publikasi ke mana dana investasinya dialokasikan? Untuk saham apa saja?” tanya Sutan Adil seperti keterangan tertulisnya diterima Lintas Parlemen, Jakarta, Jumat (18/11/2022).

Soal saham atau investasi BPJamsostek, Politisi Partai Gerindra itu menegaskan manajemen BPJamsostek tidak boleh menutupi langkah atau pengelolaan investasi yang dilakukan. Seperti diketahui, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merekomendasikan BPJamsostek agar melepas kepemilikan saham di sejumlah perusahaan.

“Rekomendasi ini diberikan sebab BPK menilai tata kelola investasi BPJamsostek belum sepenuhnya memadai. Sehingga dikhawatirkan BPJamsostek justru akan menanggung kerugian besar,” terang Sutan Adil.

Secara rinci BPK merekomendasikan agar BP Jamsostek melakukan take profit atau cut loss saham yang tidak ditransaksikan antara lain saham Salim Ivomas Pratama (SIMP), Karakatau Steel (KRAS), Garuda Indonesia (GIAA), Astra Agro Lestari (AALI), London Sumatera Indosia (LSIP), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG).

Sebelumnya, Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo melaporkan hasil investasi dana pekerja yang dikelola naik 19,18 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp29,91 triliun sampai akhir September 2022. Dari total dana investasi BPJS Ketenagakerjaan Rp607,5 triliun per September 2022, obligasi mencapai 71,33 persen dari total dana. Selanjutnya deposito sebesar 11,85 persen, saham sebesar 10,8 persen, reksa dana dengan persentase 5,63 persen, properti 0,33 persen, serta penyertaan mencapai 0,06 persen.

Ke depan, Anggoro menuturkan bahwa BPJS Ketenagakerjaan akan terus meningkatkan instrumen deposito, hal ini mengingat suku bunga bank juga akan meningkat dan upaya ini menjadi salah satu antisipasi dari BPJS Ketenagakerjaan. “Sejak akhir tahun lalu (2021), kita sudah melihat proyeksi atau kecenderungan suku bunga meningkat karena adanya inflasi, maka kita meletakkan di instrumen seperti deposito dan juga obligasi,” katanya.

Editor: Habib Harsono

Digiqole ad

Berita Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.