DPR: Kematian ABK WNI di Kapal Nelayan China Sudah Sering Terjadi

DPR: Kematian ABK WNI di Kapal Nelayan China Sudah Sering Terjadi

BERBAGI

JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR Hermanto mendesak Presiden Joko Widodo agar mengirimkan nota protes kepada Pemerintah China atas berlanjutnya kekerasan terhadap anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di kapal nelayan China.

Kekerasan terakhir mengakibatkan tewasnya Hasan Afriandi, nelayan asal Lampung akibat penyiksaan oleh mandor kapal nelayan berbendera China Lu Huang Yuan Yu 118.

“Kematian ABK WNI di kapal nelayan China sudah terjadi berulangkali. Sudah saatnya Presiden memberikan perhatian serius, salahsatunya dengan melayangkan nota protes terkait hal ini kepada Pemerintah China,” papar Hermanto dalam keterangan tertulisnya.

“Dengan pengiriman nota protes tersebut diharapkan kejadian kematian yang sangat mengerikan seperti dialami oleh Hasan Afriandi tidak terjadi lagi di kemudian hari,” tambah legislator FPKS ini.

Diberitakan, Hasan Afriandi mengalami penyiksaan yang tidak berperikemanusiaan sampai akhirnya meninggal. Jasadnya lalu disimpan dalam freezer penyimpangan ikan.

“Saya mengapresiasi kinerja aparat yang berhasil menemukan jenazah Hasan. Kalau aparat tidak menemukan, sangat mungkin jenazah tersebut akan dibuang di laut internasional seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” tuturnya.

“Ungkap kasus ini secara menyeluruh dan transparan. Jatuhkan hukuman yang setimpal atas semua pelakunya,” tandas legislator dari dapil Sumbar I ini.

Sebelumnya, awal Mei lalu diberitakan 3 jenazah ABK WNI dibuang ke laut dari kapal nelayan berbendera China. Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, M. Abdi Suhufan menginformasikan dalam periode November 2019 – Juni 2020 tercatat 30 orang awak kapal Indonesia menjadi korban kekerasan saat bekerja di kapal nelayan China. Rinciannya: 7 orang meninggal, 3 orang hilang dan 20 orang selamat. (Joko)

Facebook Comments