Firman Pernah Diselamatkan dr Terawan: Di Negeri Orang Dihargai, Negeri Sendiri Dihakimi

Firman Pernah Diselamatkan dr Terawan: Di Negeri Orang Dihargai, Negeri Sendiri Dihakimi

SHARE
Saat dr Terawan mendapatkan penghargaan dari negara Jerman

Ia menilai, dr Terawan sangat terlatih dan laten dalam merawat pasien. Selain itu, kata Firman, dr Terawan sangat profesional di bidangnya.

Tak hanya itu, Firman merasa dr Terawan telah menyelamatkan nyawanya dari maut. Melalui tangan dr Terawan diobati dari sakit maut penyumbat darah yang dideritanya. Dr Terawan mampu menyembuhkan penyakit Firman hingga saat ini masih aktif di DPR berjuang untuk rakyat daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah III ini.

Dr Terawan sedang melakukan proses operasi terhadap Firman Soebagyo beberapa tahun lalu

“Saya pernah menjadi pasiennya. Dan dokter Terawan yang telah membantu saya mengobatai penyakit penyumbatan darah sudah sangat kritis dan mengancam jiwa saya,” ungkap Firman menceritakan masa pengobatan dengan dr Terawan, Sabtu (14/4/2018).

Anggota Komisi II DPR RI ini menyampaikan, keahlian dr Terawan telah mendapatkan pengakuan dunia internasional. Bahkan Jerman yang memiliki sistem kedokteran yang sangat canggih memuji dan memberi penghargaan pada dr Terawan. Tapi bagaimana dengan negara sendiri?

“Beliau banyak menginspirasi bahkan menolong orang dan keahliannya pun sudah diakui oleh Jerman memberikan banyak penghargaan kepada dokter Terawan dianggap sangat berdedikasi dalam dunia medis serta kedokteran,” ujar Firman.

Ternyata, sambung Firman, keahlian dan keterampilan dr Terawan sudah banyak mendapatkan apresiasi dari berbagai macam penghargan khususnya dalam bidang medis.

Baca juga :   Memaknai Hari Pahlawan Abad Milenial
dr Terawan Agus Putranto menerima penghargaan dari negara Jerman

Firman berharap, dengan adanya pengakuan dari sejumlah tokoh nasional seperti dirinya   sudah merasakan tangan dingin dr Terawan, IDI bisa mempertimbangkan pemecatan dr Terawan.

“Kita ini bangsa apa? Sesama profesi tidak saling menghormati dan jujur saja di negara lain seorang keahlian dr Terawan sangat dihormati di negara orang lain. Namun di negeri sendiri malah dicaci maki bahkan dihakimi apalagi sesama profesi. Kapan bangsa ini akan maju?” tanya Firman.

Sebelumnya Ketua Umum PB IDI Ilham Oetama Marsis menjawab pertanyaan publik para terkait sanksi etik kepada dr Terawan. Pihak IDI telah membantah pihaknya berlaku tidak adil terhadap Terawan.

Menurut IDI, dr Terawan telah mempraktikkan Digital Substraction Angiogram (DSA) alias ‘cuci otak’ sebagai tindakan terapi. Padahal DSA merupakan tindakan diagnosa, bukan terapi. Jika ingin menjadikan DSA sebagai tetapi, perlu penilaian dari Health Technology Assesement (HTA), bukan testimoni pasien semata. Perlu bukti ilmiah bahwa terapi itu benar-benar andal. (HMS)

Facebook Comments
Iklan: