Firman Soebagyo: Teknologi Bioflok Itu Sistem Budidaya Ikan yang Mendaur Ulang Nutrisi Limbah sebagai Pakan Ikan

 Firman Soebagyo: Teknologi Bioflok Itu Sistem Budidaya Ikan yang Mendaur Ulang Nutrisi Limbah sebagai Pakan Ikan

JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo (FS) menyebut Teknologi bioflok merupakan sistem budidaya ikan yang mendaur ulang nutrisi limbah sebagai pakan ikan. Untuk itu, FS mengapresiasi kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atas peningkatkan program budidaya ikan terutama Bioflok. Menurut FS, kinerja tersebut perlu dipertahankan dan dilanjutkan.

FS menjelaskan, budidaya ikan ini dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan konsumsi ikan di masyarakat. Terlebih, melihat mutu gizi dan stunting di Indonesia yang sangat tinggi, pengoptimalan konsumsi ikan terutama bagi masyarakat di desa ini diperlukan.

Di mana bioflok, khususnya mikroorganisme yang dibudidayakan, dimasukkan ke dalam air untuk membentuk protein mikroba dari limbah ikan beracun dan bahan organik lainnya. Ini menjaga kualitas air serta menurunkan biaya.

“Waktu saya pimpinan Komisi IV itu mensosialisasikan susahnya luar biasa, Pak. Ternyata ini sekarang menjadi tren. Tren masyarakat di mana Bioflok itu sekarang sudah berinovasi sedemikian rupa dan itu ternyata memang sangat mudah dan kemudian sangat menyenangkan bagi masyarakat untuk melakukan budidaya. Dan terima kasih di sini udah ada alokasi yang cukup lumayan. Ini akan membantu,” kata dalam RDP Komisi IV dengan KKP di Gedung Nusantara, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (5/9/2023).

Lanjutnya Politisi Fraksi Partai Golkar itu juga menyatakan, mencermati pesan yang disampaikan Presiden Jokowi mengenai mutu gizi anak Indonesia yang masih sangat rendah dan meningkatnya kasus stunting. Menurutnya, peningkatan program budidaya ikan ini dapat menjadi jawaban terutama bagi masyarakat di tingkat desa yang asupan protein hewaninya masih sangat rendah dan tidak mampu untuk membeli telur, daging dan unggas.

“Oleh karena itu terobosan yang paling jitu itu adalah mengoptimalkan terhadap konsumsi ikan. Jadi budidaya ikan inilah yang bisa dimanfaatkan. Karena, masyarakat itu kalau satu rumah tangga itu keluarganya anak 3, bapak dan Ibu (berarti jumlahnya) 5 orang. Kalau dia beli lele 2kg itu bisa dikonsumsi 2-3 hari. Kalau dia beli daging Rp100.000 itu 1 hari selesai, nah ini luar biasa,” jelasnya.

Legislator dapil Jawa Tengah III itu mencontohkan hasil program inovasi yang telah ia lakukan di dapilnya dengan memanfaatkan alat kendaraan roda tiga untuk menjual hasil tangkapan ikan ke masyarakat.

“Oleh karena itu kami telah berinovasi dengan para ibu-ibu di Dapil saya. Itu kita berikan roda tiga kendaraan didesain untuk menjual hasil penangkapan ikan yang tidak di ekspor maupun dipakai untuk kepentingan lain itu ke desa-desa, menggunakan alat itu. Itu sangat efektif sekali. Jadi, ini juga menjadi salah satu terobosan,” tandasnya.

Berita Terkait