Harga Mi Instan Naik di Tengah Ancaman Krisis Global

 Harga Mi Instan Naik di Tengah Ancaman Krisis Global

JAKARTA – Pemerintah meminta masyarakat dan pelaku industri pangan untuk terus waspada terhadap potensi krisis pangan global atas dampak perubahan iklim.

Terlebih saat ini impor gandum dari Ukraina tersendat sehingga hal itu memicu kenaikan harga mi instan, lantaran menjadi bahan baku utama.

“Kondisi ini turut mendapat perhatian besar dari pemerintah. Meski gandum bukan komoditas pangan utama, tapi kebutuhan gandum di Indonesia sangat tinggi,” kata Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik kepada wartawan, Jumat (12/8/2022).

“Padahal gandum bukan produk asli Indonesia dan sulit untuk dibudidayakan. Sehingga kebutuhan gandum masih dipasok oleh impor,” tambahnya.

Data BPS tahun 2019 menunjukkan bahwa konsumsi gandum per kapita penduduk Indonesia adalah 30,5 kg/ tahun. Sebagai perbandingan, makanan pangan pokok penduduk Indonesia yaitu beras, konsumsi penduduk Indoensia per kapita sebesar 27 kg/tahun.

Oleh karenanya, perang Rusia – Ukraina sangat memengaruhi pasokan gandum untuk kebutuhan global. Menurut laporan FAO, sekitar 50 negara menggantungkan sekitar 30% impor gandumnya dari Rusia dan Ukraina.

“Kebutuhan gandum terbesar adalah untuk industri produk pangan olahan, seperti mie instan, kue, dan roti,” ujarnya.

Untuk itu, terang Kuntoro, konflik masih bisa mempengaruhi pasar gandum Indonesia, karena total produk pangan yang diimpor dari Rusia dan Ukraina pada 2021 sebesar 956 juta dolar AS, di mana 98% di antaranya adalah gandum.

“Indonesia merupakan negara kedua dengan nilai impor gandum tertinggi di dunia, mengingat gandum sulit ditanam. Total nilai impornya 2,6 miliar dolar AS (5,4% dari total impor gandum dunia) pada 2020,” tandasnya.

Laporan: Gia

Editor: Adip

Digiqole ad

Berita Terkait