Hari Sumpah Pemuda, Menko Polhukam Ajak Generasi Muda Cegah Hoaks

 Hari Sumpah Pemuda, Menko Polhukam Ajak Generasi Muda Cegah Hoaks

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengajak generasi muda untuk mencegah hoaks dan radikalisme dalam peringatan Sumpah Pemuda.

“Karena jasa pemuda lah maka Indonesia bisa merdeka. Bukti dari peran aktif pemuda dalam memerdekakan Indonesia bisa dilihat dari dua peristiwa, Sumpah Pemuda dan masa di sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945,” kata Mahfud kepada wartawan, Jumat (28/10/2022).

Dalam peristiwa Sumpah Pemuda, lanjut dia, terlihat jelas bagaimana rasa persatuan diantara pemuda dari berbagai daerah di Indonesia mengalahkan primordialisme berbasis kedaerahan.

“Kesediaan para pemuda mengakui satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa menjadi modal kuat menuju kemerdekaan,” ujarnya.

Padahal, terang dia, Indonesia terdiri dari 1.300 lebih suku bangsa dan 200 lebih bahasa yang tersebar di 17 ribu lebih pulau. Dan terbukti di tahun 1945 Indonesia berhasil meraih kemerdekaan.

“Begitu pula saat proklamasi akan dikumandangkan, para pemuda juga yang menolak jika proklamasi diselenggarakan sesuai janji pemerintah Jepang,” ungkapnya.

Para pemuda memaksa para pemimpin bangsa saat itu seperti Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sebab khawatir jika proklamasi dikumandangkan sesuai arahan Jepang maka kemerdekaan Indonesia disangsikan dunia internasional karena dianggap hadiah Jepang.

“Saya mengingatkan para mahasiswa yang hadir untuk bersyukur dengan kemerdekaan yang sudah diraih saat ini, dengan cara menjaga persatuan dan berkontribusi sesuai bidang dan kemampuannya masing-masing,” tuturnya.

Mahfud menjelaskan bahwa kemerdekaan menjamin setiap anak bangsa untuk berekspresi, berdemokrasi, menuntut ilmu bahkan menggapai mimpi. Sehingga salah satu sumbangsih yang bisa dilakukan pemuda adalah mencegah hoaks dan radikalisme.

Menurutnya yang terpenting para pemuda harus mensyukuri dan menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa yang mengayomi semua suku, agama dan perbedaan budaya di Indonesia.

“Kemudian tetap menjaga toleransi, pluralisme serta menghindari politik identitas. Apalagi saat ini sudah ramai isu calon presiden, hindari politik identitas namun jika identitas politik itu boleh,” paparnya.

Laporan: Gia

Editor: Adip

Digiqole ad

Berita Terkait