Indonesia Pasca Pilkada, Bandit yang Didukung Para Kartel Mafia

Indonesia Pasca Pilkada, Bandit yang Didukung Para Kartel Mafia

SHARE

Oleh: Sri Bintang Pamungkas

Pilkada Serentak baru saja berlalu. Sudah diduga ternyata kacau! Mereka yang mencalonkan diri itu mirip BANDIT yang didukung para Kartel Mafia.

Partai-partai Politik yang mencalonkan itu sudah menjadi Geng-geng Mafia yang kadangkala bersaing satu sama lain memperebutkan suatu wilayah operasi. Tapi lebih sering berkoalisi untuk kemenangan bersama, bagi-bagi hasil rampokan bersama.

Masing-masing tidak perlu malu tanpa punya Karakter, Platform Politik dan Tujuan Mulia Partai lewat calonnya masing-masing. Demi memperbaiki kesejahteraan rakyat. Mereka tidak bedanya dengan gerombolan predator pemangsa yang mencabik-cabik mangsanya bersama-sama.

Tidak peduli dengan sekelilingnya. Rakyatlah yang tertipu dengan memberikan suaranya! Dan para Konglomerat di belakang itu semua adalah Bandar-bandar Judi. Tidak beda dengan Judi Balapan Kuda. Bahkan di sini si Kuda tidak pernah membayar Mahar. Lebih punya moral!

Banyak yang tidak sadar, situasi Koalisi Mafia atau Predator Berjamaah itu sudah dirancang lewat Pasal 6 UUD PALSU, dengan mengatakan bahwa pasangan presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau koalisi partai politik.

Lalu diterjemahkan ke Pilkada! Padahal “koalisi partai” itu, khususnya dalam Sistim Parlementer, terjadi apabila pemenang hasil Pemilu tidak cukup suaranya untuk membentuk Kabinet. Dan karena itu perlu berkoalisi dengan partai lain. Koalisi terjadi sesudah Pemilu, bukan sebelumnya.

Karena itu, tidak heran kalau Pemilu macam di Indonesia tidak akan menghasilkan pemimpin-pemimpin macam Soekarno-Hatta. Mereka tidak punya Karakter Pemimpin! Soeharto hebat. Juga melawan. Tapi melawan Soekarno. Bahkan bekerja bersama Asing. Dia pun minta bantuan. Tapi juga kepada Asing. Akhirnya tersandung oleh ulahnya yang otoriter dan sewenang-wenang. Tentu saja ada sisi baiknya. 32 tahun tentu bukan waktu yang pendek.

Habibie tidak bisa menjadi pemimpin kalau tidak diambil Soeharto. Dia Ilmuwan, bukan pemimpin. Tidak pernah melawan. Tidak juga memperbaiki yang esensial! Suatu ketika nanti, Timor harus reunited, untuk mengoreksi kesalahannya. Tanpa melupakan kejahatan Soeharto, orang lupa ada 16 Pemuda dan Mahasiswa terbunuh di Semanggi. Di awal pemerintahan Habibie. Juga belasan, kalau tidak puluhan, anggota Pam-Swakarsa yang direkrutnya. Mati tercabik-cabik mengenaskan!

Baca juga :   Memandang Ahok dalam Perspektif Rindu dan Demokrasi

Gus Dur tidak lebih dari seorang Ulama yang demokratis, tapi Kebarat-baratan. Dia terpilih karena terpaksa, demi menolak Magawati yang perempuan. Dia tidak tahu Tata Negara, tapi suka dengan Kegaduhan. Bukan Perbaikan! UUD45 PALSU pun dimulai dari Gus Dur. Obligasi Rekapnya senilai 430 trilyun membikin pula Negara Porak Poranda. Dan Kebangkitan Mafia Cina!

Megawati juga terpilih karena terpaksa. Lebih percaya Atheis dan suka dengan Komunis, tapi sok Pancasilais. Berambisi menjadi legendaris. Tanpa modal apa pun selain anak Soekarno. Dan Partai berlambang Banteng. Tidak melawan apa pun selain yang memusuhi dirinya. Kebijakannya dengan Bunga Obligasi Rekap dari APBN, dari 2003 sampai 2033, justru mengatrol Jokowi-Ahok.

SBY pandai mencari peluang, sekalipun harus melawan keadilan dan kebenaran. Menjual diri kepada Asing dan Aseng pun tidak soal baginya. Bahkan Republik ini pun tidak ada harganya dibanding dirinya, dan keluarganya.

Kalau Jokowi sudah jelas. Dia Agen… yang diharuskan mengerjakan tugasnya satu periode lagi… agar kerusakan Indonesia menjadi sempurna! Si Agen sedang sibuk mencari pasangan Cawapres yang bisa mengatrol dirinya. Bisa saja pilihannya jatuh ke Megawati. Kalau tidak malah menghancurkannya.

Itu adalah Kepemimpinan masa lalu. Bagaimana dengan 2019?! Cerita tentang Jokowi memang sudah habis, selain berharap ada 20% Presidential Threshold. Yang disusul dengan People Power Indonesia yang justru akan menjatuhkannya!

Bagaimana dengan Prabowo Subianto?! Siapa yang tidak tahu dia?! Dari sejak Bapaknya, menjadi menantu Soeharto, lalu di Timor-Timur. Kalah perang. Juga berbagai tuduhan menghilangkan nyawa dan menculik para Aktivis, tuduhan kerusuhan 1998 yang mungkin fiktif, juga pengepungan terhadap rumah Habibie… semua belum clear, tapi ada!

Tapi, masak tidak ada segi baik Prabowo?! Orasinya?! Pidatonya?! Pikiran-pikirannya?! Hasil analisisnya terhadap situasi sekarang?! Rancangannya ke depan?! Bukankah dia Capres?! Cobalah, kalau ada, dicari dan diungkap Sisi Baiknya.

Baca juga :   Terima Ketua Parlemen Bahrain, Novanto Ajak Tingkatkan Hubungan Kerja Sama dan Menjaga Perdamaian Dunia

Lalu bandingkan dengan Soekarno-Hatta, sekalipun cuma secuil! Itu semua yang membikin dia selalu tampak ragu-ragu. Tidak yakin dan tidak meyakinkan!

Ternyata SBY masih belum kenyang juga dengan dua periode yang membikin NKRI semakin berantakan. Yang dipikir adalah kekuasaan semata, dengan uang semua bisa dibeli. Konon dia sudah menjadi Orang Terkaya Indonesia Nomor Tujuh. SBY rela mengorbankan apa pun demi dirinya dan keluarganya.

Partai Demokrat memang Partai Keluarga yang tidak beda jauh dari partai-partai lainnya. Rasa Ego SBY luar biasa, seolah-olah telah berbuat banyak untuk Negara. Dia pun naik, karena mantan anakbuah Soeharto tanpa prestasi apa pun yang bisa dikenang, selain Peristiwa 27 Juli.

Indonesua keluar dari OPEC, dan bikin UU PMA 2007 yang menjuali Aset-aset NKRI kepada Asing dan Aseng. Sekarang memperjuangkan anaknya yang masih ingusan untuk menjadi Capres atau dirinya sendiri.

Siapa yang mau mendampingi orang sombong yang merasa dirinya paling hebat ini?! Mungkin saja mereka yang belum punya kapal politik, seperti Rizal Ramli.
Tentu nama Rizal Ramli tidak bisa dikesampingkan. Dan tentu masih ada segudang lagi yang lain, tapi tidak satu pun yang lebih lantang dari satu Capres ini. Sayang RR tidak punya kendaraan politik.

Mungkin saja lewat transaksi tertentu, RR bisa mendapatkan posisi Capres… atau Cawapres atau sekedar Menko! Perlawanannya terhadap Soeharto memang masih diingat orang. Tetapi prestasinya pada masa Gus Dur praktis tidak terlihat sedang bergabungnya dengan Jokowi kemarin bisa saja justru menjadi sisi negatipnya.

Ambisinya menjadi Orang Pertama RI justru membikin takut para Pendiri dan Pemilik Partai. Kecuali kalau ada big deal! Rizal sudah melamar ke sana dan ke mari, tapi masih belum mendapat respon positip dari Pemilik Partai. Dia pun sudah kasak-kusuk ke Jepang, Eropa dan AS. Entah apa maksudnya! Mungkin untuk mendapat dukungan atau juga sambil menunggu Sistim UUD PALSU ini diganti.

Baca juga :   Firman: Perlunya Menata Kembali Pemahaman Nasionalisme Kedaulatan Kita!

Tiba-tiba muncul Amien Rais yang tiba-tiba merasa tidak kalah dari Mahathir menjadi Capres 2019. Selisih 20 tahun dari Mahathir untuk seekor Kuda, dia masih Anak Kuda! Anak Kuda ini memang berbahaya. Dia ingin mengulang Komitmennya atas Amandemen UUD 1945 kepada Asing dan Aseng. Bahwa dia masih sanggup menghancurkan NKRI menjadi Negara dengan identitas Non-Pancasila! Dengan embel-embel Kapitalis Neo-Liberalis, Tanpa Indonesia Asli, Tanpa embel-embel Mayoritas Islam, Tanpa embel-embel Pribumi Melayu… dst… dst!

Amien, yang mau menciptakan Bangsa Lain selain Indonesia dengan Sistim UUD PALSU ini Amien membutuhkan Koalisi Partai-partai. Pencipta Sistim Koalisi Partai-partai ini akan tambah menghancurkan Karakter Kepemimpinan menjadi Pemimpin Abu-abu, Pemimpin Abal-abal, Pemimpin Geng-geng Mafia, Pemimpin Transaksional. Yang menjadi permainan para Konglomerat Bandar Judi.

Golput memang tidak cuma menolak Pemilu model ini, menolak datang ke TPS, menolak mencoblos dengan benar, tapi juga menolak UUD PALSU. Sebelum 2019, insya Allah Bangsa Indonesia sudah Menyatakan Kembali Berlakunya UUD 1945 ASLI. Memberi kesempatan kepada para Pemimpin Sejati, macam Soekarno-Hatta, berkwalitas Dunia untuk tampil, membawa Indonesia sejajar dan terhormat di antara Bangsa-bangsa di Dunia! ***

 

Facebook Comments