Inflasi Pangan Makin Mengancam Daya Beli Masyarakat

 Inflasi Pangan Makin Mengancam Daya Beli Masyarakat

JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam menyebut tingginya inflasi pangan makin mengancam daya beli masyarakat. Sehingga dampak resesi global akan semakin nyata.

“Kenaikan yang tinggi pada pangan makin mengkhawatirkan masyarakat. Tercatat inflasi akan terdorong mencapai 6-7 persen jika tak dapat dikendalikan pemerintah,” kata Ecky kepada wartawan, Senin (31/10/2022).

Lebih jauh, Politisi PKS ini menyebutkan, bahwa harga-harga pangan naik cukup tajam pada akhir Oktober 2022 dibandingkan Oktober tahun lalu, kenaikan seperti beras naik 5%.

“Lalu daging sapi 7,5%, telur sebesar 23%, minyak goreng naik 10,7%, cabai rawit 23,3% dan pangan lainnya terpantau naik,” ujarnya.

“Jika ini tidak terkendali dan tidak diredam, pemulihan ekonomi akan terhambat, inflasi merangkak naik sehingga daya beli turun,” tambahnya.

Wakil Ketua Fraksi PKS ini menyatakan, bahwa selain kenaikan harga pangan, ancaman inflasi juga dari pelemahan rupiah, karena setiap pelemahan 1% rupiah akan berkontribusi atas 0,4 basis poin inflasi.

“Jika kita hitung sejak awal tahun rupiah sudah melemah sebanyak 8,87% , pemerintah dan BI seharusnya bekerja lebih keras,” ungkapnya.

Oleh karenanya, ia mendesak pemerintah fokus menjelang akhir tahun ini untuk menangani inflasi dan dampak-dampaknya. Sebab Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari sebelumnya 124,7 menjadi 117,2.

“Ini artinya terjadi penurunan signifikan pada keyakinan konsumen, situasi ini tidak baik karena kita akan menghadapi tantangan lebih berat tahun depan terkait ketidakpastian ekonomi global,” pungkasnya.

Laporan: Gia

Editor: Adip

Digiqole ad

Berita Terkait