Jokowi Bohong, Tidak Buktikan Janji Politiknya

Jokowi Bohong, Tidak Buktikan Janji Politiknya

SHARE

Ketidak konsisten Presiden Jokowi dalam membuktikan janji politik saat Pilpres 2014 lalu dengan 66 janji politiknya kini semakin mempersulit situasi ekonomi nasional.

Semakin melemah posisi rupiah di hadapan mata Uang Dollar AS membuktikan hal itu.

Ada janji Politik Jokowi dan terutama dalam budang ekonomi adalah; “Jika menjadi Presiden maka Jokowi akan membuat dollar menjadi Rp 10.000 dan Pertumbuhan ekonomi di patok pada 7 %.”

Nah, ternyata pertumbuhan ekonomi stagnan pada angka 5 % dan Dolar sekara sudah bertengger di atas Rp 15.000.

Belum lagi janji lainnya adalah tidak akan utang dalam menggerakkan roda ekonomi nasional. Sekarang hutang luar negeri sudah melebihi batas yang diboleh oleh UU yaitu di bawah 30 persen.

Ternyata utang negara sudah di atas 30 %. Dan ini berpotensi langgar UU dan bisa di impeach seperti yang di lontarkan oleh Pakar HTN Prof Yusril Ihza Mahendara beberapa waktu lalu.

Akan halnya kegagalan Pemerintahan Presiden Jokowi dalam keterpurukan ekonomi nasional sekarang ini. Maka solusinya adalah Jokowi harus segera mundur dan mempercepat Pemelihan Umum.

Karena Menteri ekonomi malah membuat ekonomi nasional semakin menuju keterpurukan dan mengancan kebangkrutan ekonomi dan Bangsa ini.

Jika berlama-lama Presiden Jokowi dan tidak mundur maka kekacauan ekonomi dan kekacauan politik akan semakin besar dan kebangkrutan semakin nyata.

Melemahnya rupiah dan menguatnya dolar pada posisi di atas Rp 15.000 membuktikan pasar semakin tidak percaya Rezim.

Oleh karenanya, solusinya adalah agar bisa mengembakikan kepercayaan pasar dan menurunkan posisi dollar adalah Presiden Jokowi turun dan Pemilu dipercepat.

Jakarta, 6 September 2018

Oleh: Muslim Arbi, Koordinator Gerakan Perubahan (GarpU)

Facebook Comments
Baca juga :   Ketua DPR Minta Gubernur BI yang Baru Lakukan Akselerasi Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah