Kecam Serangan ke Target Sipil Seperti di Saudi, Qatar dan Iran, HNW: Semua Pihak Harus Waspada Tidak “Diadu Domba” untuk Kepentingan Israel Raya
JAKARTA – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA (HNW) mengutuk serangan ke sejumlah negara di Timur Tengah, terutama ke target ekonomi sipil strategis di Saudi maupun Qatar, yang bisa memperluas medan konflik dan berdampak Saudi menghentikan produksi kilang Ras Tanura milik Aramco, dan Qatar Energy menutup produksi LNG nya. Juga serangan ke obyek sipil berupa sekolah khusus Perempuan di Minab Iran dan rumah sakit Gandhi di Teheran Iran.
HNW sapaan akrabnya meminta agar negara-negara anggora OKI di Timur Tengah yang terdampak akibat serangan Israel dan AS ke Iran, perlu waspada dan jangan mau jadi korban “diadu domba” melalui dugaan adanya operasi false flag (bendera palsu) oleh pihak manapun, yang ujung akhirnya menyeret negara2 Teluk pada perang terbuka lawan Iran, atau terlemahkan dengan cerai berainya negara-negara anggota OKI di kawasan itu. Karena disadari atau tidak, bahwa adudomba dan perang terbuka itu semua sesuai agenda Israel untuk memudahkannya melakukan ekspansi mewujudkan mimpi berdirinya negara Israel Raya.
“Adu domba dan penyerangan terhadap target-target sipil/ekonomi/non militer, merupakan pola yang selama ini dilakukan oleh Israel terhadap bangsa Palestina di Gaza dllnya. Dan harus diwaspadai ketika jurus ini juga terulang kembali dalam perang Israel terhadap Iran dimana sekolah bahkan yang khusus perempuan dan rumah sakit sudah menjadi korban dari serangan Israel. Tapi juga serangan balik Iran dengan disasarnya obyek ekonomi vital non miIiter di Saudi dan Qatar, siapapun pelakunya, juga harus diwaspadai dan dikutuk keras, karena penyerangan-penyerangan terhadap target non militer dan terhadap warga sipil jelas merupakan pelanggaran hukum internasional, tidak sesuai Piagam PBB, Statuta OKI, dan juga tidak dibenarkan dalam Islam,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Rabu(4/3).
HNW mengatakan bahwa aktivis dan pengamat politik dari kalangan konservatif dari AS ; Tucker Carlson, menyampaikan adanya keterlibatan pihak agen Mossad Israel yang menanam bom di Arab Saudi dan Qatar melalui operasi false flag. Dan pola ‘operasi false flag’ serupa ini juga nampak dari pernyataan yang disampaikan oleh Rabbi Yahudi Yousef Mizrahi terkait penyerangan terhadap Masjid alAqsha. Tapi pihak Qatar juga mengumumkan sudah menangkap dua kelompok jaringan yang mengaku sbg pro garda revolusi Iran yang beroperasi di Qatar. Ini menambah keharusan kewaspadaan.
HNW berharap agar organisasi internasional berkewenangan, seperti Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bisa segera mengambil tindakan yang nyata dan tegas untuk menghentikan perang, dan menjatuhkan sanksi kepada mereka yang terbukti non militer dengan menyerang target ekonomi vital seperti yang di Saudi maupun Qatar, maupun yang mentarget warga sipil yang di Iran, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun menggunakan ‘bendera palsu’.
“Agar perang segera bisa dihentikan dan tidak makin meluas karena menimbulkan makin banyak korban, terbanyak dari kalangan non militer/sipil termasuk proyek vital ekonomi non militer. Dan apalagi bila ujung dari seluruh serangan2 itu justru membuka jalan lebar-lebar untuk meluasnya penjajahan Israel menuju terbentuknya negara Israel Raya, dengan dilupakan/diabaikannya Gaza dan komunitas perlawanan/perjuangan di Gaza, terkuburnya Palestina sebagai negara merdeka padahal sudah diakui oleh lebih dari 153 negara anggota PBB, dan malah terwujudnya ekspansi Israel hingga mewujudkan klaim mereka berupa berdirinya negara Israel Raya, sekalipun “ekspansi” itu bertentangan dengan konvensi Internasional dan piagam PBB, serta keputusan-keputusan OKI,” jelasnya.
Lebih lanjut, HNW juga mengimbau kepada Sekretariat Jendral OKI untuk mengambil peran mewujudkan tujuan didirikannya OKI, selain penyelematan Masjid alAqsha dan merdekanya Palestina, juga agar negara-negara OKI di Timur Tengah yang terimbas langsung maupun tidak langsung akibat dari serangan Israel itu, terjaga kedaulatannya, agar mereka mewaspadai adanya skenario adu domba di antara negara-negara anggota OKI, dengan masing-masing pihak meningkatkan kewaspadaan, menahan diri untuk tidak saling menyerang satu sama lain, segera diselenggarakan KTT luar biasa OKI tingkat Kepala Negara, agar konflik ini tidak semakin diperluas, dengan korban yang makin banyak termasuk dari kalangan sipil maupun ekonomi, karena itu semua akan melemahkan potensi kekuatan negara-negara anggota OKI tsb untuk dapat mewujudkan berbagai keputusan OKI agar menyelamatkan Masjid alAqsha dan memerdekakan Palestina. Pasalnya, pihak yang terus melanggar aturan hukum internasional, bahkan sudah dijatuhi vonis oleh ICJ maupun adanya surat penahanan dari ICC, tapi masih juga terus melanggar perjanjian damai dalam konteks BoP yaitu adalah Israel, malah merupakan pihak yang diuntungkan dengan teradudombanya negara2 Teluk dengan Iran, dan itu memudahkannya untuk merealisir proyek mereka mendirikan negara Israel Raya. Proyek yang membahayakan kedaulatan negara2 OKI yang akan jadi korban mimpi kolonialis Israel Raya dengan menganeksasi sebagian kedaulatan negara-negara anggota OKI, seperti kerajaan Arab Saudi, Mesir, Iraq, Turki, Syria dan semua kawasan Kuwait, Yordania, dan Lebanon.
“Penting agar makar/konspirasi Israel itu malah menyadarkan negara-negara OKI untuk segera dapat mewujudkan kerjasama, saling menguatkan esensi mereka sebagai sesama anggota OKI yang didirikan untuk saling membantu dan menyelamatkan Masjid alAqsha dan kemerdekaan Palestina, bukan malah sebaliknya saling melemahkan, dan membiarkan Israel memperluas tanah jajahannya sehingga berdirilah negara Israel Raya yang melanggengkan penjajahan atas Palestina dan penghancuran Masjid alAqsha,” pungkasnya.