Ketua DPR Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Sistem Pembelajaran Lebih Inovatif

Ketua DPR Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Sistem Pembelajaran Lebih Inovatif

SHARE
Bamsoet saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional "Peranan Perguruan Tinggi Dalam Era Revolusi Industri 4.0", di Universitas Semarang, Jawa Tengah, Kamis, (19/07/18).

SEMARANG – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif. Caranya dengan melakukan penyesuaian kurikulum, meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data teknologi informasi, internet of thing, big data analitic, serta mengintegrasikan obyek fisik, digital dan manusia.

“DPR RI juga mendorong perguruan tinggi melakukan perubahan kelembagaan yang adaptif dan responsif terhadap Revolusi Industri 4.0 dengan mengembangkan program cyber university. Semisal, penerapan sistem perkuliahan jarak jauh sehingga mengurangi pertemuan dosen dan mahasiswa. Program ini sangat baik untuk membantu anak-anak di daerah terpencil agar bisa mengikuti jenjang pendidikan tinggi,” jelas Bamsoet saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional “Peranan Perguruan Tinggi Dalam Era Revolusi Industri 4.0”, di Universitas Semarang, Jawa Tengah, Kamis, (19/07/18).

Hadir sebagai pembicara lain Ketua Yayasan Alumni Universitas Diponegoro Prof. Muladi, Rektor IPB Arif Satria, Guru Besar Universitas Sampoerna Teddy Mantoro, Guru Besar Universitas Semarang Kesi Widjayanti serta Staf Ahli bidang Penguatan Struktur Industri Kementrian Perindustrian Soerjono. Dari DPR turut hadir anggota Komisi X DPR RI Mujib Rohmat, anggota Komisi IX DPR Mukhamad Misbakhun serta anggota Komisi III DPR Sahroni.

Bamsoet menegaskan perguruan tinggi harus mampu menjadi pioneer dalam era Revolusi Industri 4.0. Menunjang hal tersebut, DPR RI tak segan akan melakukan evaluasi atas undang-undang yang terkait dengan pendidikan, riset, dan teknologi, serta industri dan ketenagakerjaan.

“Terutama harus ada peningkatan kualitas dosen dan peneliti yang responsif terhadap Revolusi Industri 4.0 yang didukung peningkatan sarana dan prasarana serta infrastruktur pendidikan, riset dan inovasi. Perguruan tinggi juga harus melakukan terobosan dalam riset pengembangan, khususnya dalam bentuk tekonologi terapan,” terangnya.

Baca juga :   Selamat Hari Guru, Fadli Zon: Guru Indonesia Tulang Punggung Mencerdaskan Bangsa

Mantan Ketua Komisi III DPR ini menjelaskan Revolusi Industri 4.0 tidak hanya melahirkan smartphone dan smartcity, tetapi juga smartlabour. Smartlabour adalah para pekerja yang mampu menggunakan kecanggihan smart technology.

“Kehadiran teknologi tinggi dalam era Revolusi Industri 4.0 tidak semata mendatangkan ancaman, tetapi juga memberikan peluang karena tetap menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Untuk itu, DPR mendukung program link and match antara perguruan tinggi dan industri,” papar Bamsoet.

Politisi Partai Golkar ini juga memaparkan DPR selalu mendukung peningkatan anggaran untuk pengembangan pendidikan, riset, dan teknologi, industri dan ketenagakerjaan serta perdagangan online. Termasuk pengembangan start up di kalangan anak-anak muda.

“Untuk anggaran pendidikan tahun 2018 sebanyak Rp 444,13 triliun untuk alokasi pusat dan daerah. Peningkatan anggaran ini merupakan pemihakan nyata DPR dan pemerintah bagi pendidikan dan riset di Indonesia,” kata Bamsoet.

Bamsoet menambahkan keberhasilan mendayagunakan Revolusi Industri 4.0 akan membuat Indonesia menjadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia. Pencapaian tersebut diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030.

“Keberhasilan tersebut akan ditandai dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 6-7 persen, kontribusi ekspor netto sebesar 10 persen, pengeluaran R&D mencapai 2 persen serta mendapat manfaat optimal dari bonus demografi. Perguruan tinggi harus menjadi motor utama pencapaian keberhasilan itu,” pungkas Bamsoet. (MM)

Facebook Comments