Ketua DPR: Energi Sebagai Sektor Utama Pembangunan Berkelanjutan

Ketua DPR: Energi Sebagai Sektor Utama Pembangunan Berkelanjutan

SHARE
Bamsoet saat membuka World Parliamentary Forum on Sustainable Development (WPFSD) di Bali, Rabu (12/09/18).

DENPASAR – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, menyampaikan ketersediaan energi seperti listrik merupakan elemen yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia, sekaligus menjadi kebutuhan mutlak untuk menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Melalui acara World Parlementary Forum on Sustainable Development (WPFSD) ini dia menekankan bahwa energi merupakan sektor utama pembangunan berkelanjutan. Poin ini atas dasar penetapan tahun 2012 sebagai tahun Tahun Internasional Energi Terbarukan atau International Year of Sustainable Energy for All oleh PBB.

Selain itu juga diperkuat dengan ditetapkannya Tujuan Pembangunan Global (SDG) pada tahun 2015, dan Paris Agreement mengenai perubahan iklim di tahun yang sama. “Keduanya mengidentifikasi energi sebagai salah satu sektor utama bagi pencapaian pembangunan berkelanjutan atau pun penanganan perubahan iklim,” papar Bambang dalam sambutan pembuka WPFSD, di Bali, Rabu (12/9/2018) kemarin.

Itulah yang menjadi alasan kepedulian masyarakat dunia terhadap isu ketahanan energi semakin meningkat. Disadari bahwa akses ke energi bersih, aman dan terjangkau, dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sejalan dengan SDG, PBB telah menetapkan tahun 2030 sebagai target waktu untuk memastikan akses ke energi yang terjangkau, handal, berkelanjutan dan modern bagi semua.

Menurut Bambang, meskipun terdapat rentang waktu yang cukup panjang, namun masih banyak yang harus dilakukan untuk mendorong kerja sama lintas sektor dan meningkatkan inovasi pada keuangan, teknologi, infrastruktur dan kemitraan untuk memastikan semua orang dapat memiliki akses ke energi yang berkelanjutan.

“Namun hal ini menjadi tantangan besar bagi kita semua mengingat ketergantungan pada energi fosil dan pengembangan sumber-sumber energi terbarukan masih sangat terbatas. Sementara pada saat bersamaan, permintaan energi semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan yang terus berkembang. Ketergantungan terhadap energi fosil terutama minyak bumi menimbulkan kekhawatiran mengingat energi tersebut bukan energi yang terbarukan,” jelas Bambang.

Baca juga :   Din Hadiri Pertemuan Para Tokoh Agama Dunia di Kyoto

Dia juga mengungkapkan, potensi energi terbarukan seperti biomasa, panas bumi, energi surya, energi air, dan energi angin cukup besar. Hanya saja sampai saat ini pemanfaatannya masih sangat terbatas. Hal ini antara lain disebabkan oleh harga energi terbarukan yang belum kompetitif bila dibandingkan dengan harga energi fosil, penguasaan teknologi yang rendah sehingga nilai impornya tinggi, keterbatasan dana untuk penelitian, pengembangan, maupun investasi dalam pemanfaatan energi terbarukan serta infrastruktur yang kurang memadai. (eko)

Facebook Comments