KH. Muhammad Syafi’i Hadzami: Ulama Betawi Karismatik di Selatan Jakarta

 KH. Muhammad Syafi’i Hadzami: Ulama Betawi Karismatik di Selatan Jakarta

Adalah KH. M. Syafi’i Hadzami salah satu di antara ulama Betawi yang disegani dan diakui kualitas ilmunya baik oleh muridnya maupun oleh masyarakat umum lainnya. Sejumlah pengakuan-pengakuan telah banyak menghampiri ke sosok kiai teladan umat ini.

Kualitas dan kapastis KH Ma’ruf Syafi’i ini bisa disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Syekh Junaid Pekojan, Guru Mansur Jembatan Lima, Guru Marzuqi Cipinang Muara, Guru Mughi Kuningan, Guru Majid Pekojan, dan K.H Abdullah Syafii (Jatiwaringin).

Wajar saja jika gelar mu’alim dan ‘allamah tersemat dalam diri sang Kiai. Gelar yang ada melekat dalam dirinya menunjukkan posisi beliau sangat dihormati pada hierarki keulamaan di Betawi, termasuk di wilayah Jabotabek.

KH. M. Syafi`i Hadzami lahir pada tanggal 31 Januari 1931 di Betawi (Jakarta). Semasa hidupnya banyak yang telah dipersembahkan untuk umat.

PENDIDIKAN
Berbicara soal jenjang KH. M. Syafi`i Hadzami semua dimulai sejak usai dini. Ia didik sejak kecil dengan latar agama Islam yang kuat. Semasa kecil, ia kerap kali diajak kakeknya ikut mengaji dan membaca zikir di kediaman Kiai Abdul Fattah (1884-1947). Kiai Abdul Fatta adalah seorang ulama kelahiran Cidahu, Tasikmalaya, Jawa Barat yang membawa Tarekat Idrisiah ke Indonesia.

Selain itu, beliau juga mengaji al-Qur`an, dasar-dasar ilmu nahwu dan shorof kepada Pak Sholihin. Dari tahun 1948 sampai dengan tahun 1953 atau selama 5 tahun. Di fase ini Kiai Syafi’i banyak belajar pondasi ilmu-ilmu agama sehingga keilmuannya makin kuat dan dalam.

Usai belajar di Pak Sholihin, kemudian beliau melanjutkan jenjang pendidikan dengan belajar kepada KH. Sa`idan di Kemayoran, Jakarta Pusat. Kepadanya,  Syafi`i remaja belajar ilmu tajwid, ilmu nahwu (dengan kitab pegangan berjudul Mulhatul-I`rab) dan ilmu fikih (dengan kitab pegangan berjudul Ats-Tsimar Al-Yani`ah yang merupakan sarah dari kitab Ar-Riyadh Al-Badi`ah).

Selain hebat pada disiplin ilmu-ilmu agama dengan belajar, Kiai Syafi’i juga belajar ilmu bela diri silat kepadanya. Dengan Ilmu silat Kiai Syafi’i bisa makin percaya diri menyampaikan kebenaran, sekaligus buat jaga-jaga. Maka dipilihlah tempat berlatih yakni KH. Sa`idan.

Tak hanya itu, ilmu silat juga didalami pasca dapat perintah dengan disuruh belajar kepada guru-guru yang lain, misalnya kepada Guru Ya`kub Sa`idi (Kebon Sirih), Guru Khalid (Gondangdia), Guru Abdul Majid (Pekojan), dan lain-lain. Dari situ kemampuan lahir dan batinnya makin meninggi sebagai bekal menyampaikan dakwah pada umat.

Dari KH. Mahmud Romli yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat ini, Kiai Syafi`i kembali menimba ilmu fikih dan ilmu tasawuf. Kitab fikih yang digunakan dalam belajar adalah Bujairimi, sedangkan kitab tasawufnya adalah Ihya `Ulumiddin. Ilmu-ilmu tersebut sebagai bekal menambah hasanah pola pikir Kiai Syafi’i.

Biasanya, yang membaca kitab-kitab tersebut adalah Guru Mahmud sendiri. Lebih dari 6 tahun (1950-1956), beliau menimba ilmu darinya. Juga berguru kepada KH. Ya`kub Saidi yang bermukim di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, seorang alim lulusan Mekkah. Sudah jadi mafhum, jika lulusan luar negeri, apalagi Mekkah punya kapasitas ilmu yang luar. Maka, bisa dipahami Kiai Syafi’i menimbah ilmu langsung dari sumber yang tepat.

Kepada gurunya ini, beliau mengaji banyak kitab yang dibacanya dihadapan Guru Ya`kub sampai khatam; terutama kitab-kitab dalam ilmu ushuluddin dan mantiq. Diantara kitab-kitab yang dikhatamkan padanya adalah Idhahul Mubham, Darwis Quwaysinin dan lain-lain. Dari sekian banyak buku yang dipelajarinya, Kiai Syafi’i semua dilahapnya dengan serius dan khusu’ penuh keseriusan yang tinggi.

Kiai Syai’i juga pernahberguru kepada KH. Muhammad Ali Hanafiyyah. Kiai Muhammad masih tergolong kakeknya Syafi`i. Kitab-kitab yang dipelajari KH. Syafi`i Hadzami dari beliau adalah Kafrawi, Mulhatul`Irab, dan Asymawi. Lebih kurang 5 tahun, yaitu sejak tahun1953 sampai tahun 1958, beliau belajar kepada KH. Mukhtar Muhammad di Kebon Sirih.

Beliau ini masih terhitung mertuanya sendiri dan juga murid dari Guru Ya`kub. Di antara kitab yang dibaca oleh KH Syafi`i Hadzami kepada beliau adalah kitab Kafrawi. Dari kiai-kiai yang dijadikan rujukan belajar Kiai Syafi’i, membuat dirinya menjadi teladan umat saat menyampaikan ilmu yang bermanfaat sebagai bekal menuju akhirat.

Digiqole ad

Berita Terkait