Konflik dari ‘Amplop Kiai’ – Sinyal PPP Game Over di Pemilu 2024?

 Konflik dari ‘Amplop Kiai’ – Sinyal PPP Game Over di Pemilu 2024?

Kedua Kubu Suharso Monoarfa vs Muhammad Mardiono sedang konflik

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sedang dilanda konflik internal. Partai Kabbah itu berpotensi terganggu perolehan suaranya di pemilu 2024 mendatang jika masalah tersebut tidak segera diselesaikan.

Sebelumnya, PPP tidak ada tanda-tanda akan terjadi konflik di internal seperti saat ini. Secara tiba-tiba tanpa ada yang menduga ada ‘amplop kiai’ yang merasuki partai tersebut. Semua bermula saat Suharso Monoarfa sebagai Ketua Umum DPP PPP tak bermaksud apa-apa di KPK dan itu tidak ada apa-apa karena sudah mafhum semua soal sumbangan ke kiai. Namanya kecelakaan, ya ada saja jalan hingga Suharso lengser gegara ‘amplop kiai’.

Kemudian masalahnya tak sesederhana itu pasca Suharso lengser. Nasib perahu PPP yang harus diselamatkan pada pemilu 2024 mendatang. PPP perlu waspada sejak dini dan bersiap-siap tidak lolos kembali ke DPR RI jika tidak berani mengambil langkah populis agar tetap diminati oleh rakyat.

PPP perlu berpikir estra keras saat ini. Masih ada waktu bagi PPP membenahi diri hingga beberapa bulan ke depannya jika tidak ingin bernasib sama dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang tidak lolos ke Senayan untuk periode 2019-2024. Apakah PPP tamat riwayatnya di DPR RI di pemilu 2024-2029? Tidak ada yang tahu. Namun, elit PPP perlu kerja keras menurunkan ego dalam mengambil kebijakan yang tentu bijak. Ingin ego dipertahankan atau perahu bernama PPP ikut arus.

Banyak pengamat bahkan lembaga survei menyebut PPP tidak lolos ke DPR RI lagi pada periode 2024-2029 mendatang. Di sejumlah survei menyebutkan PPP tidak lolos ke Senayan seperti yang dilansir Poltracking Indonesia pada Rabu (31/8/2022) lalu.

Tengok saja hasil survei Poltracking Indonesia menyebut elektabilitas PPP hanya 3,1 persen, tidak cukup 4 persen sebagai ambang batas di parlemen PT (parliamentary threshold) melangkah ke Senayan. Sejatinya angka 3,1 adalah angka positif buat PPP menjelang Pemilu 2024. Sebab, survei-survei sebelumnya menempatkan PPP ada di angka 1 dan 2 koma. Beruntung hasil survei terakhir berada di angka 3,1 sedikit lagi melampaui ambang batas PT 4 persen.

Itu artinya, PPP tinggal sedikit lagi bekerja keras bisa mencapai 4 persen PT. Bahkan bisa lebih baik lagi jika ingin bekerja lebih keras lagi, tak tertutup kemungkin PPP bisa mencapai angka dua digit, 10 persen paling minim. Kenapa? PPP punya segudang pengalaman yang dimiliki sejak mengikuti pemilu sejak di Orde Baru sebagai partai Islam tertua, PPP punya pengalaman bertarung dengan partai yang ada di basis massa Islam.

PPP mirip Timnas Belanda di Piala Dunia dan Piala Eropa. Meski PPP tak pernah menang di masa lalu, tapi masih disegani oleh sejumlah tim lawan dengan pemain dan pengalaman yang dimiliki. Tinggal bagaimana PPP bermain berani. Atau menerapkan strategi pragmatis Chelsea saat melawan Barcelona di Liga Champion.

Sebagai contoh, PPP dengan berani dari awal mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon Presiden. Toh, sebelumnya di daerah banyak partai yang telah mendeklerasikan itu. Tentu ini agak berat bagi elit PPP karena Anies Baswedan di luar ‘oligarki’ yang ada. Tapi apapun, strategi pemenangan PPP harus diambil jika ingin berlanjut di ‘babak berikutnya’ untuk mempertahankan partai ada di ‘tim unggulan’ hingga memenangkan pemilu.

Meski PPP berat menjadi pemanang di pemilu 2024, tapi partai tengah menjadi target sangat realistis. Dan tentu para elit partai itu realistis melihat kondisi sekarang. Setidaknya PPP meraih posisi ketiga di pemilu 2024 mendatang seperti pemilu 1999 dengan raihan suara 11.329.905 dengan kursi 58 di DPR sebagai capaian luar biasa di atas Golkar dan PDIP sebagai pemenang kala itu.

Jika PPP tidak segera berbenah atau melepaskan baju ego masing-masing elit di dua kubu yang bertikai maka partai Islam itu tinggal menunggu waktu kehilangan momentum dan bisa saja mengikuti jejak PBB, PDS dan Hanura.

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) usai mengesahkan struktur kepengurusan PPP kubu Muhamad Mardiono. Kubu Suharso Monoarfa kukuh meski sudah dilengserkan tapi menyiapkan puluhan pengacara untuk ‘melawan balik’ kubu sebelah dengan berkirim surat ke Menteri Hukum dan HAM Yassona Laoly karena menganggap proses penentuan Plt tidak sah.

Jika ditilik lebih jauh, kedua kubu yang ada bisa didamaikan. Dari masing-masing kubu adalah kawan lama. Di kubu Mardiono ada Wakil Ketua Umum DPP PPP ada Arsul Sani cenderung ingin merangkul kubu Suharso yang sedang ‘dimainkan’ oleh Ketua DPP PPP Syaifullah Tamliha.

Sejatinya, kedua kubu yang dimainkan oleh Arsul Sani vs Syaifullah Tamliha sudah saling paham pola permainan keduanya. Kedua nama Arsul vs Tamliha sama senior di partai itu meski pengalaman Arsul lebih tinggi. Tapi kedua memiliki satu frekwensi yang mampu menyatukan kembali PPP meraih kemenangan pada Pemilu 2024.

Selanjunya, bagaimana melepaskan ego masing-masing kubu mengembalikan masa keemasan partai tersebut tentu dengan kesepakatan-kesepakatan kaum elit PPP. Jika tak berhasil mengendalikan ego, maka tamat riwayat PPP.

Caranya, kubu Suharso tak perlu lagi membawa persoalan ini ke jalur hukum apalagi mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Terima saja takdir yang sudah terjadi dan perbaiki niat untuk kemaslahatan umat seperti cita-cita besar PPP.

Tidak perlu lagi merasa paling benar, karena waktu yang tersisa tinggal menghitung bulan. Jika elit PPP telat star maka berakhir sudah permainan ini. Batas waktu tinggal menghitung masa Game Over! Benarkah Game Over, semua ditentukan oleh elit PPP sendiri!?

Atau The game is over, seperti kata-kata mantan Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy saat menjabat Sekretaris Jenderal DPP PPP kala itu 9 hakim konstitusi mengeluarkan putusan menolak seluruh permohonan pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Kamis (21/8/2014 ) lalu. Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi dengan PPP?!

Digiqole ad

Berita Terkait