Munaslub Partai Golkar ; Negarawan Versus Politisi

 Munaslub Partai Golkar ; Negarawan Versus Politisi

Oleh : saifuddin al mughniy*

Mungkin kita tidak dapat menafikkan bahwa sebuah proses demokrasi tidaklah segampang menutup mata di saat kita lelah untuk tidur.
Proses demokrasi sangatlah tidak mungkin untuk terpisahkan dari sebuah perjalanan konsesi politik yang berlangsung dalam ferforma partai. Dan saat ini Partai Golkar telah memperlihatkan kepada publik begitu suasana Munaslub di Bali dalam rangka meretas konflik sekaligus memunculkan sosok nahkoda baru di tubuh partai yang berlambang pohon beringin ini berlangsung secara demokrasi.

Bukanlah partai Golkar kalau kemudian setiap perhelatan politiknya tidak diwarnai dinamika yang sehat, kenapa demikian menjadi sebuah catatan pinggir sebab, Golkar yang memiliki kader yang luar biasa dan seringkali sebagian orang menyebutnya sebagai partai yang melekat dengan kekuasaan.

Betapa Golkar sebagai partai modern dan besar telah menjadi perekat dalam percepatan demokrasi (acseleration democratie) dibangsa ini. Yang konon melahirkan banyak kader yang kemudian kader-kadernya memilih untuk membentuk partai seperti Wiranto (Hanura), Surya Paloh (Nasdem), Prabowo (Gerindra) dan beberapa tokoh lain yang pernah dibesarkan dalam Golkar. Dan saya kira, kontekstasi politik yang diperankan Golkar hingga saat ini cendrung memeperlihatkan sebagai partai modern yang tidak terjebak pada ketokohan yang berlebihan di banding partai politik lainnya.

Munaslub Bali sebagai momentum proses politik yang terbuka, egaliter, humanis dan demokratis, pada prinsipnya telah memberikan pendidikan politik yang sangat luar biasa. Dimana ada delapan calon ketua umum muncul untuk memperebutkan posisi di partai beringin ini seperti Ade Komaruddin, Setya Novanto, Azis Syamsuddin, Airlangga Hertanto, Mahyuddin, Priyo Budi Santoso, Bambang Utoyo, dan Syahrul Yasin Limpo, itu membuktikan bahwa partai Golkar adalah partai yang mendorong perubahan iklim secara struktural dalam partai tersebut. Dinamika politiknya demikian hangat mewarnai jalannya momentum Munaslub.

Kenapa partai Golkar disebut sebagai perekat demokrasi, dalam momentum tersebut di hadiri Wiranto, Prabowo, Surya Paloh yang selama ini mungkin diantara mereka jarang sekali untuk duduk secara bersama-sama tapi karena hajatan politik Golkar maka mereka kemudian duduk bersama.dan bahkan presiden Jokowi pun memberikan apresiasi dengan mengatakan bahwa Partai Golkar dalam lintasan sejarah telah banyak berkontribusi terhadap proses pembangunan nasional dan pembangunan demokrasi di bangsa ini.

Ending Munaslub

Politik memang seringkali mengajarkan kita tentang ketidakpastian untuk menjadi sesuatu yang pasti. Munaslub Partai Golkar telah memperlihatkan sebuah pemandangan yang cukup estotik dengan melakukan sebuah proses pemilihan dengan cara demokratis dan terbuka. Sebagai partai modern Golkar telah melahirkan sebuah mekanisme proses pemilihan yang menempatkan kualitas serta kapabilitas kadernya untuk membangun partai ini kedepan.

Pada proses pemilihan dengan catatan bahwa akan dimungkinkan untuk melahirkan putaran kedua bila calon ketua umum pada putaran pertama calon ketua umum memperoleh 30 persen suara (170 suara) dari 544 suara yang diperebutkan. Sebuah perhelatan demokrasi yang dinamis ketika hingga dini hari perhitungan selesai Ade Komaruddin (173 suara), Setya Novanto (277 suara), Aziz Syamsuddin (41 suara), Priyo Budi Santoso (1 suara), Airlangga Hartanto (4 suara), SYL (27 suara), dan 10 suara tidak sah. Kalau merujuk kepada aturan dan mekanisme yang ada maka sesungguhnya Ade Komaruddin dengan Setya Novanto melaju ke putaran kedua untuk memperebutkan calon ketua umum.

Tetapi dalam prosesnya calon ketua umum nomor urut 8 SYL diminta untuk memberikan saran, dan sebagai seorang orator beliau dengan santun agar kiranya tidak perlu untuk melanjutkan pada putaran kedua demi sebuah kebersamaan untuk membesarkan partai. Sehingga Ade Komaruddin pun dengan tegas untuk menghargai perolehan suara yang diperoleh oleh Setya Novanto tanpa harus melanjutkan proses pemilihan di putaran kedua. Proses ini kemudian di sahkan oleh pimpinan siding Munaslub Nurdin Halid dan menyatakan Setya Novanto sebagai ketua umu Partai Golkar periode 2014-2019. Dan terbukti apa yang dikatakan Aburizal Bakrie bahwa Munaslub adalah momentum rekonsiliasi dari semua elemen partai Golkar untuk memantapkan langkah berikutnya menuju sebuah peradaban demokrasi.

Bagi saya, proses munaslub pada akhirnya rahim Golkar melahirkan tokoh Negarawan (Ade Komaruddin), dan sosok Politisi sejati (Setya Novanto). Ini sebuah warna baru dalam sebuah kontekstasi politik. Dan memang seharusnya demikian sebab Partai Golkar memiliki kader-kader terbaik untuk melanjutkan estafet kepemimpinan kedepan. Seperti Azis Syamsuddin dan SYL sebagai magnet dari timur. Ini semua membuktikan bahwa Partai Golkar dengan berbagai dinamikanya pada akhirnya melahirkan kepemimpinan demokratik. ***

Batavia, 17 Mei 2016

Saifuddin Al Mughny :
OGIE institute Research and Political Development
Lembaga Kaji Isu-Isu Strategis (LKiS) institute
Sekjen Forum Rakyat Indonesia
Anggota Forum Dosen Makassar

Digiqole ad

Berita Terkait