Partai Setan Versus Partai Tuhan

Partai Setan Versus Partai Tuhan

SHARE
Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al- Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Oleh: Ujang Komarudin*

It’s now or never (sekarang atau tidak sama sekali). Tomorrow, next year, will be too late (besok, tahun depan, sudah terlambat), itulah sepenggal tausiyah Amien Rais usai mengikuti acara Gerakan Indonesia Salat Subuh berjamaah di Masjid Baiturrahim,
Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jum’at (13/4/2018) kemarin.

Jika kita cermati dan dalami apa yang dinyatakan Amien Rais bisa saja merupakan bentuk kritikan kepada pemerintah. Karena pemerintah “dianggap” tidak memihak kepada “umat Islam” dan sudah salah jalan.

Oleh karena itu, pergantian presiden di 2019 adalah keniscayaan. Dan tahun 2019 lah waktu yang tepat untuk mengganti presiden secara
konstitusional melalui Pemilu.

Di tempat terpisah dan dihari yang sama, ada yang menarik dari pernyataan Hendropriyono, yang secara mengejutkan, pamit dari dunia politik nasional, dia mengatakan, bulan depan usia saya 73 mau 74 “kalau tidak mau berhenti juga diberhentikan Tuhan”, enough is enough.

Hendropriyono ingin mengatakan bahwa dia sudah tua, dan ingin memberi kesempatan kepada yang muda untuk meniti karir di politik. Hendropriyono lebih memilih berhenti, sebelum diberhentikan Tuhan. Karena banyak juga elit di negeri ini yang jabatannya dihentikan Tuhan.

Hendropriyono, yang sudah malang melintang di dunia politik, mundur teratur dengan bijak dan terhormat. Hendropriyono sudah merasa lebih cukup dalam mengabdi untuk bangsa dan negara. Ada penggalan pernyataa Hendropriyono yang menarik bagi saya, “…kalau tidak mau berhenti juga diberhentikan Tuhan,…”.

Walaupun konteks pernyataan Hendropriyono dengan Amien Rais sangat jauh berbeda. Dimana mien Rais ingin mengganti presiden di 2019, sedangkan Hendropriyono ingin berhenti dari dunia politik, karena pasti suatu saat diberhentikan oleh Tuhan. Namun jika dilihat dan dibaca lebih dalam, maka akan terlihat benang merah pernyataan kedua tokoh
nasional tersebut, yaitu “Penggantian presiden dan diberhentikan Tuhan”.

Baca juga :   Cinta Negeri dengan Iman pada Ilahi

Pergantian presiden yang diinginkan Amien Rais, bisa saja bertali-temali dengan pernyataan Hendropriyono. Tuhan selalu punya cara untuk mengangkat dan menjatuhkan
hambanya. Apakah pernyataan Amien Rais dengan pernyataan Hendropriyono akan menjadi kenyataan. Hanya Tuhan yang tahu. Ya hanya Tuhan yang tahu. Walau pun pernyatan Hendropriyono tersebut bersifat pribadi dan tidak berlaku bagi orang lain.

Namun harus menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jika pernyataan Amien Rais berjodoh dengan pernyataan Hendropriyono, maka bisa jadi ganti presiden di 2019 akan terjadi. Namun semua bergantung pada kuasa dan kehendak Tuhan dan keinginan rakyat Indonesia. Yang memiliki hak penuh untuk mempertahankan
atau mengganti presidennya di 2019 nanti.

Amien Rais juga menyinggung tentang partai setan (hizbusy syaiton) dan partai Tuhan (hizbullah). Istilah partai setan yang digunakan oleh Amien Rais sudah diklarifikasi oleh Drajat Wibowo, sang loyalis Amien Rais, bahwa partai setan maknanya kelompok, golongan, atau group. Dan istilah partai setan atau “hizbusy syaiton” merujuk pada surat Al-Mujaadalah (ayat 19). Bukan merujuk pada partai politik yang ada saat ini.

Dan istilah partai Tuhan atau “hizbbullah” merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Maidah (ayat 56). Kelompok, golongan, atau partai Allah tentu merupakan golongan yang taat dan
beruntung, baik di dunia mau pun di akhirat kelak. Namun begitu juga sebaiknya, merugilah orang yang termasuk golongan dari partai setan. Sungguh merugi bagi orang yang berada dalam golongan partai setan.

Kita jangan memaknai dan menuduh bahwa pernyataan Amien Rais tersebut sebagai bagian dari serangan kepada partai-partai pendukung pemerintah. Karena dengan jelas bahwa yang dimaksud partai setan adalah golongan setan. Bukan merujuk kepada partai-partai dalam makna politik praktis.

Baca juga :   DEMOKRASI INDONESIA DI TEPI JURANG

Bukan partai A, B, C, D, E, F atau G. Tetapi lebih dimaknai kepada cara berpikir seorang muslim dalam menentukan pilihan. Apakah
termasuk pada golongan partai Tuhan atau partai setan. Apakah ada dalam golongan yang menyeru dalam kebaikan. Ataukah masuk golongan penebar kebencian dan kedzoliman.

Orang yang berpihak pada partai Tuhan, tentu merupakan bagian orang yang beruntung dan baik. Karena sejatinya orang yang memilih jalan Tuhan adalah orang-orang yang diselimuti dengan kebaikan. Ucapan, sikap, dan tindakannya akan mencerminkan nilai-nilai kebaikan, keadilan, kemulian, kearifan, kesucian, keagungan, kematangan, dan
kedewasaan.

Namun merugilah orang yang termasuk golongan “partai setan”, karena berada dalam jalan kesesatan, kegelapan, dan kerugian. Selaiknya golongan para penghamba setan,
hidupnya akan rugi, sesat dan menyesatkan. Partai setan akan selalu ada dalam jalan kehinaan.Karena jalan yang ditempuh menyalahi dan bertentangan dengan kodrat Ilahi.

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa jika ada kebaikan, sudah pasti ada kejahatan. Ada partai Tuhan, juga ada partai setan. Ada siang, juga ada malam, ada gelap, juga ada terang,
ada laki-laki, juga ada perempuan, ada kemuliaan, juga ada kehinaan, ada panas, juga ada hujan, ada cantik, juga ada jelek, dan ada pintar, juga ada orang bodoh.

Partai setan bukanlah merujuk pada partai-partai politik yang ada seperti saat ini. Bukan partai-partai pendukung Jokowi atau partai oposisi. Bukan partai pemerintah atau partai
non-pemerintah. Bukan partai pemenang Pemilu atau yang kalah. Bukan partai yang ikut Pilkada, Pileg, atau Pilpres. Tetapi partai “golongan” yang sifatnya merujuk pada ajaran
tauhid dalam Islam yang merujuk pada golongan orang-orang yang merugi.

Kebenaran dan kebathilan akan selalu ada. Selama manusia masih hidup. Begitu juga dengan partai Tuhan dan partai setan akan selalu ada selama dunia masih ada. Partai Tuhan yang menjunjung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran akan selalu ditentang oleh partai setan yang mengusung kerusakan. Akan selalu ada dan akan terus ada pertarungan antara partai Tuhan dengan partai setan. Dan partai Tuhanlah yang akan memperoleh kajayaan dan kemenangan.

Baca juga :   Politik Kotor Provokator

Tak perlu galau dan risau dalam menanggapi pernyataan Amien Rais tersebut. Selama kita berfikir positif dan selalu mengedepankan nilai-nilai silaturrahmi dan kebaikan, pernyataan
tersebut menjadi pelecut bagi kita semua, agar kita selalu berada di jalan partai Tuhan.

Partai atau golongan orang-orang yang diberi rahmat dan diberkati. Dan partai yang selalu mengusung kebenaran. Justru kita bersyukur dengan pernyataan Amien Rais tentang partai setan tersebut. Karena sejatinya Amien Rais sedang mengingatkan kita semua, agar kita menghindari dan menjauhi cara-cara curang dan licik dalam menjalani kehidupan dan dalam meraih kekuasaan.

Partai setan tentu akan meraih kekuasaan dengan menggunakan segala cara ala Machiaveli. Yang tentu berbeda dengan partai Tuhan, partai yang selalu menanamkan etika, moralitas, dan kebaikan dalam meraih kekuasaan.

Pilih mana. Partai Tuhan atau partai setan?Wallahu’alam Bisshowab.

*Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-
Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

 

Facebook Comments
Iklan: