PBB Nilai Ahok Tak Paham Pancasila

 PBB Nilai Ahok Tak Paham Pancasila

Pemanasan Politik AHok vs Yusril Sebelum Ajang Pilkada DKI 15 Februari 2017

JAKARTA, LintasParlemen.com–Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) pada tanggal 30 Maret 2016 lalu “Jangan taruh orang yang mauubah sila pertama Pancasila. Orang Partai Bulan Bintang (PBB) itu kan ingin ubah Pancasila kayak Masyumi. Itu masalah”, menuai polemik.

Pernyataan Ahok tersebut menuai reaksi keras dari pengurus DPP PBB. Partai pimpinan Yusril Ihza Mahendra ini menyesalkan pernyataan Ahok tersebut, karena menuding kader PBB ingin merubah Pancasila.

Ketua Harian DPP PBB, Jamaluddin Karim mengatakan, pernyataan Ahok tersebut tidak mendasar dan mencerminkan bahwa Ahok tidak memahami sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia.

“PBB adalah parpol yang berkiprah di NKRI, berazaskan Islam yang memperjuangkan hak-hak rakyat dan anggotanya secara sah dan konstitusional, serta berlandaskan falsafah Negara Pancasila,” tegas Jamaluddin di Kantor DPP PBB, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (6/4/2016).

Jamaluddin mengatakan, persoalan statement Ahok itu sudah sangat serius, dan menyinggung partainya. Oleh karena itu, pihaknya merasa perlu untuk mengklarifikasi dan menyampaikan sikap terkait statement Ahok tersebut.

“Itu soal serius sekali, partai harus menanggapi. Kami  khawatirkan, Gubernur ini tidak paham sejarah perumusan Pancasila,” imbuhnya.

Diketahui, statement Ahok tersebut sebenarnya mengcounter pernyataan Dubes RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra – adik Yusril yang dimuat di media sosial, tentang pernyataan Letjen (Purn) Yohanes Suryo Prabowo yang mengajak etnis Tionghoa, untuk tidak sok jago ketika berkuasa atau dekat dengan penguasa. Namun Ahok mencounter balik dengan menyerang PBB dengan statement itu.

Adapun pernyataan Yusron yang mengutip Yohanes Suryo adalah, “Kalau sayang dengan teman-teman atau sahabat dari etnis Tionghoa, tolong diingatkan agar jangan ada etnis Tionghoa yang sok jago ketika berkuasa atau dekat dengan penguasa. Kasihan kan Tionghoa yang lainnya, yang baik-baik atau yang miskin, kalau ada yang mau membantai atau menjarah, mereka khan enggak bisa kabur keluar negeri. Tolong jaga Bhinneka Tunggal Ika dan sama- sama membangun harmoni dalam keberagaman”

(rmol)

Digiqole ad

Berita Terkait