Pengamat: Setnov Berpeluang Besar Terpilih di Munaslub tapi Buruk Buat Masa Depan Golkar

 Pengamat: Setnov Berpeluang Besar Terpilih di Munaslub tapi Buruk Buat Masa Depan Golkar

JAKARTA, LintasParlemen.com – Pengamat Anggaran Politik dan Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Kadafi berharap kepada pemilik suara untuk lebih teliti dan lebih cermat memilih caketum untuk menahkodai Golkar ke depannya.

Uchok menilai, dari 8 caketum yang sah bersaing pada Munaslub Golkar kali ini yang berpeluang dimenangkan oleh kandidat yang ‘dijagokan istana’ yakni Setya Novanto yang akrab dikenal ‘Papa Minta Saha’ dan ‘Papa Minta Ketum’.

“Kalau saya lihat, ‘Papa minta Ketum” saat ini di atas angin, dan bisa memenangkan pertarungan caketum Golkar ini. Karena dibantu orang-orang yang ada dekat dengan pihak-pihak istana,” kata Uchok saat dihubungi, Jakarta, Sabtu (14/05/2016).

Ia memprediksi, jika ‘Papa Minta Ketum’ yang terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar maka partai beringin itu dengan mudah melanggeng ke istana tanpa ada intervensi lagi dari pihak istana.

“Kalau ‘Papa Minta Ketum’ jadi ketua umum Golkar maka Golkar akan aman, tidak akan lagi ada intervensi kekuasaan dari kementerian Hukum dan HAM. Atau istilahnya tidak akan diobok-obok lagi oleh pemerintah,” ungkapnya.

Alasannya, terangnya, selama ini Setya Novanto sudah dikenal luas oleh masyarakat sangat dekat dengan pihak istana. Itu ditandai dengan adanya kasus ‘Papa Minta Saham’ dan ‘Papa Minta Ketum’ yang menyeret-nyeret nama Menteri kepercayaan Presiden, Luhut Panjaitan.

“Karena (Setya Novanto) telah dianggap sebagai orang kita alias orang istana. Tapi dampak dari ‘Papa Minta Ketum’ adalah, Golkar tidak bisa mengritisi atau jadi partai yang mandiri untuk kebutuhan rakyat,” pungkasnya.

Hanya saja, lanjut Uchok, dukungan Partai Golkar itu kepada Pemerintahan Jokowi-JK berkonsekwensi negatif yang membuat citra buruk partai beringin itu berada di titik nadir.

“Ada konsekwensinya, Golkar akan menjadi partai yang bercitra semakin buruk karena harus mengikuti banyak kebijakan yg tidak pro rakyat. Kalau PDIP, biar dekat kekuasaan tapi masih bisa punya rasa protes bila melihat kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan hati nurani partai,” jelasnya.

“Tapi kalau Golkar, ibarat manusia. Leher sudah dikasih tali kendali agar bisa dikendalikan oleh orang-orang istana,” sambung Uchok. (Mahabbahtaein)

Digiqole ad

Berita Terkait