Pidato Ketua DPR: Rapat Paripurna Penutupan Masa Sidang I Tahun Sidang 2018-2019

Pidato Ketua DPR: Rapat Paripurna Penutupan Masa Sidang I Tahun Sidang 2018-2019

SHARE

PIDATO KETUA DPR RI
PADA RAPAT PARIPURNA DPR RI
PENUTUPAN MASA PERSIDANGAN I
TAHUN SIDANG 2018-2019

RABU,  31OKTOBER 2018

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Salam Sejahtera bagi kita semua,

Yang kami hormati:
• Para Wakil Ketua DPR RI;
• Para Anggota DPR RI;
• Hadirin sekalian yang berbahagia.

Pertama-tama, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga dapat hadir dalam Rapat Paripurna Penutupan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2018-2019. Masa Persidangan ini telah berlangsung sejak tanggal 16 Agustus sampai dengan 31 Oktober 2018.

Sebelum menyampaikan pidato penutupan masa Persidangan I Tahun Sidang 2018-2019, izinkan kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada korban dan keluarganya atas jatuhnya pesawat Lion Air JT610 Rute Jakarta-Pangkal Pinang di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada tanggal 29 Oktober 2018.

Kami mengharapkan pihak berwenang untuk melakukan upaya penanganan secara cepat serta investigasi atas kejadian tersebut.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak kita sekalian untuk melakukan refleksi bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2018, tiga hari yang lalu.

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, Indonesia adalah fondasi kebangsaan yang telah dipatrikan menjadi sila persatuan Indonesia. Sebagai bangsa yang mejemuk, kita perlu secara terus menerus menyuarakan Persatuan Indonesia, kita pupuk dan terus kita perkuat. Karena ancaman disintegrasi bangsa akan selalu hadir kapan dan dimana saja, terutama dari dalam diri kita sendiri.

Belakangan ini kita sangat risau, karena pemilu yang seharusnya menjadi festival demokrasi, ajang adu gagasan dan program, adu prestasi dan reputasi berubah menjadi ajang saling menyudutkan, saling merendahkan, dan saling mengecilkan.

Media sosial bukan lagi sarana edukasi bagi masyarakat, melainkan telah menjadi saluran penyebaran informasi dan berita-berita palsu (hoax), yang terkadang menyesatkan dan membuat kita saling bermusuhan.

Oleh karena itu, saya ingin menyerukan kepada semua elemen bangsa terutama semua pihak yang terlibat dalam pemilu untuk membangun narasi kebangsaan, narasi kebinnekaan, narasi untuk saling menguatkan dan membesarkan dalam rangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.

Masyarakat sangat merindukan agar para kontestan pemilu mendemonstrasikan pikiran-pikiran dan program-program cemerlang untuk mengakselerasi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Kita tengah menyiapkan sebuah pertunjukan atau pesta demokasi yang sangat spektakuler yang akan menjadi tontonan dunia. Yaitu pemilu serentak, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan anggota DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten-Kota serta pemilihan anggota DPD RI sekaligus. Barangkali inilah satu-satunya pemilu terumit di dunia, dan itu baru ada di Indonesia.

Baca juga :   Polisi Brutal di Depan Istana, Viva Yoga: Itu Tak Bisa Terjadi di Era Modern karena Bisa Ganggu Pemerintahan Jokowi...

Apabila kita bisa melewati itu dengan baik, sukses dan lancar, Indonesia akan tercatat dalam sejarah demokrasi dunia dengan tintas emas. Namun, kalau yang terjadi sebaliknya, dimana para pendukung calon dan partai-partai politik saling serang, saling menyebar kebencian, dan menimbulkan perpecahan bangsa, maka kita akan dicemooh oleh dunia. Itulah sebabnya, mengapa pidato saya kali ini saya beri judul “BEDA PILIHAN BUKAN BERARTI BERMUSUHAN.”

“Ke kota paris membeli berlian,
Indah dipakai buat perhiasan.
Pemilu bukan ajang saling menjatuhkan,
Tapi pesta demokrasi yang menyenangkan.”

“Indonesia elok negeri kepulauan,
Indah bagaikan ratna mutu manikam.
Beda pilihan tidak harus bermusuhan,
Mari jadikan pemilu damai dan berkeadaban.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Dalam kesempatan ini, sesuai dengan Pasal 225 ayat (2) Peraturan DPR tentang Tata Tertib, Pimpinan DPR akan menyampaikan Pidato Penutupan yang menguraikan hasil kegiatan selama Masa Sidang I, rencana kegiatan dalam masa reses, dan beberapa permasalahan yang dipandang perlu untuk disampaikan dalam Rapat Paripurna ini.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Dalam pelaksanaan fungsi legislasi, selama Masa Persidangan I, DPR bersama Pemerintah telah menyetujui 2 (dua) RUU, yaitu:

1. RUU tentang Pengesahan Nota Kesepahaman antara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Kerajaan Belanda tentang Kerja Sama Terkait Pertahanan; dan

2. RUU tentang Pengesahan Persetujuan Kerjasama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi;

Pengesahan kedua RUU tersebut diharapkan dapat menjadi payung hukum bagi upaya kerja sama di bidang pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Belanda serta Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Hubungan kerja sama di bidang pertahanan ini didasari atas kepentingan bersama yang saling menguntungkan, saling percaya dan saling pengertian untuk meningkatkan dan memperkuat kerja sama bilateral antar negara.

Rapat paripurna hari ini telah mengesahkan RUU prioritas 2019 sejumlah 55 RUU yang terdiri dari 12 RUU usulan baru dan 43 RUU yang berasal dari Prolegnas 2018. Walaupun tahun 2019 merupakan tahun politik dan akhir masa bakti DPR periode 2014-2019, pimpinan tetap mengharapkan agar DPR tetap meningkatkan produktivitas serta menjamin kualitas RUU yang dihasilkan. Bahkan pada akhir masa bakti diharapakan lebih banyak dan lebih baik.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Dalam hal pelaksanaan fungsi anggaran, DPR dan Pemerintah telah menyetujui RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2019, dengan beberapa kesepakatan antara lain: angka pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,3%, laju inflasi 3,5%, nilai tukar rupiah Rp15.000 per dolar AS, harga minyak mentah 70 dolar per barel, lifting minyak 775.000 barel per hari, dan lifting gas setara 1.250.000 barel per hari.

Baca juga :   Ketua DPR: Jangan Terprovokasi karena RI Sangat Kondusif

Kemudian untuk pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp2.165,1 triliun, belanja negara sebesar Rp2.462,3 triliun dan defisit sebesar Rp297,2 triliun atau 1,84% dari PDB.

​Untuk itu, DPR mengharapkan agar APBN tersebut mampu direalisasikan dalam rangka pemerataan pembangunan dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkualitas melalui pembangunan manusia, pengurangan kesenjangan antarwilayah, peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja serta pemantapan ketahanan energi, pangan, dan sumber daya air.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan, pada masa persidangan ini DPR telah menerima Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2018 dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diserahkan pada Rapat Paripurna tanggal tanggal 2 Oktober 2018 yang lalu.

Hasil Pemeriksaan BPK tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBN yang dilaksanakan oleh pemerintah. Selanjutnya, DPR melalui Komisi-Komisi dan BAKN dapat menindaklanjutinya sesuai dengan mekanisme yang ada.

Kemudian untuk menyelesaikan defisit BPJS Kesehatan yang bersumber dari dana cadangan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebesar Rp4,99 triliun, DPR mendesak pemerintah cq Kementerian Keuangan RI untuk segera mencairkan dana cadangan tersebut.

Selain itu, DPR telah melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap M. Syahyan sebagai calon pengganti anggota Komisi Informasi Pusat (KIP) periode 2017-2021 yang menggantikan Tulus Subardjono yang meninggal dunia pada tanggal 31 Mei 2018.

Pada masa persidangan ini juga DPR telah memberikan pertimbangan/persetujuan terhadap 6 (enam) Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Negara Sahabat pengangkatan Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Negara Sahabat, serta memberikan pertimbangan/persetujuan terhadap 22 (dua puluh dua) Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Sahabat.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Dalam rangka penanganan bencana yang terjadi di NTB dan Sulawesi Tengah, DPR telah mengambil langkah untuk mendorong percepatan penanganan dan recovery pasca bencana dengan upaya membentuk Tim Pengawas DPR RI terhadap Pelaksanaan Penanganan Bencana NTB dan Sulawesi Tengah. Melalui Tim Pengawas ini DPR berharap agar rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dilaksanakan dengan baik.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Dalam rangka pelaksanakan peran diplomasi parlemen, selama Masa Sidang I, DPR telah berpartisipasi dalam sejumlah Sidang dan Konferensi Organisasi Parlemen Regional dan Internasional, diantaranya:

1. APPF Global Health pada tanggal 23-24 Agustus 2018 di Manila, Filipina;
2. Sidang Umum ke-39 ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) pada tanggal 3-9 September 2018 di Singapura;
3. Sidang the 10th Asia Europe Parliamentary Patnership (ASEP) pada tanggal 27 – 28 September 2018 di Brussels, Belgia;
4. Sidang the Asian Parliamentary Assembly (APA) Standing Committee on Social and Cultural Affairs pada tanggal 4-6 Oktober 2018, di Izmir, Turki;
5. Sidang the 3rd Speakers of Eurasian Countries’ Parliaments pada tanggal 8-11 Oktober 2018, di Antalya, Turki;
6. 42nd session of the Steering Committee of the Parliamentary Conference on the WTO on the Occasion of the Annual WTO Public Forum pada tanggal 5 Oktober 2018 di Jenewa – Swiss;
7. The 139th of IPU and related meetings pada tanggal 14-18 Oktober 2018 di Jenewa – Swiss;
8. International Anti Corruption Conference pada tanggal 22-24 Oktober 2018 di Copenhagen – Denmark;
9. Sidang Standing Committee Asian Parliamentary Assembly (APA) on Political Affairs and Special Committee for Creation of Asian Parliament (SCCAP) pada tanggal 29-31 Oktober 2018 di Gwadar -Pakistan;

DPR juga menjadi tuan rumah dalam Penyelenggaraan Sidang the Second World Parliamentary Forum on Sustainable Development, pada tanggal 11-14 September 2018 di Bali, membicarakan tema mengenai Energi Berkelanjutan, dan Penyelenggaraan Sidang the 4th Meeting of MIKTA, pada tanggal 14-18 September 2018 di Bali, membicarakan tema mengenai Peran Parlemen dalam menciptakan Perdamaian dan Kesejahteraan.

Baca juga :   Bamsoet Minta Aparat Siapkan Alternatif Rute Ganjil-Genap

Disamping itu, DPR akan mengundang negara sahabat untuk memantau pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, sebagai upaya menjalankan fungsi diplomasi parlemen.
Sebelum mengakhiri pidato penutupan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2018-2019 ini, saya menghimbau kepada kita semua untuk senantiasa menjaga iklim politik yang kondusif bagi penyelenggaraan pemilu serentak 2019.

Sidang Dewan yang Terhormat,

Akhirnya, atas nama Pimpinan DPR, saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, mulai besok DPR memasuki Masa Reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2018-2019. Reses ini akan berlangsung mulai tanggal 1 November sampai dengan 18 November 2018. Ini merupakan kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi kepada para wakilnya, sekaligus bagi Anggota untuk menyerap aspirasi masyarakat di daerah pemilihan masing-masing.

Masa Persidangan berikutnya akan dimulai pada tanggal 19 November 2018. Selamat bekerja, semoga DPR dapat terus meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan tugas dan fungsi konstitusionalnya bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Buah semangka buah mentimun,
Ditanam petani turun temurun.
Walau masa jabatan tinggal setahun,
Kinerja DPR tidak akan menurun.”

“Tugas DPR membuat legislasi,
Menyusun anggaran dan mengawasi.
Turun ke dapil seminggu dua kali,
Supaya kita semua terpilih kembali.”

Billahittaufiq Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

KETUA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

BAMBANG SOESATYO

Facebook Comments