Politisi Milenial Dimintai Ikuti Sikap Politik Idrus Marham Mundur dari Menteri Sosial

Politisi Milenial Dimintai Ikuti Sikap Politik Idrus Marham Mundur dari Menteri Sosial

SHARE
Ridwan Hisjam (foto: erman)

JAKARTA – Proyek PLTU Riau-1 telah menyeret nama besar Idrus Marham yang membuatnya harus mundur dari jabatan Menteri Sosial yang baru dijabat 7 bulan. Selain itu Idrus juga mencopot jabatannya dari kepengurusan di Partai Golkar.

Politisi Senior Golkar Ridwan Hisjam yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI ini meminta anak muda Indonesia yang ikut berjuang memperbaiki bangsa ini melalui politik tidak melakukan korupsi. Jika disebut terlibat korupsi atau kegiatan yang melanggar hukum, sejatinya kaum milenial mengundurkan diri seperti Idrus Marham.

Apalagi, sambung Ridwan, Idrus adalah salah satu mantan Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang notabene yang memiliki punya pengikut dari kaum milenial.

“Pengunduran diri saudara Idrus Marham patut diapresiasi oleh seluruh rakyat Indonesia. Ini baik bagi masa depan politik Indonesia. Apa yang diputuskan untuk mengundurkan diri patut dicontoh anak muda yang bergelut di dunia politik,” kata Ridwan ditemui usai memimpin rombongan kunjungan kerja Komisi VII DPR ke Tuban, Jawa Timur, Jumat (24/8/2018) malam.

Ridwan memuji sikap kesatria Idrus. Di mana saat bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan, Jakarta ia menanggalkan identitasnya sebagai pejabat saat mengundurkan diri.

Usai bertemu Jokowi, Idrus meninggalkan Istana tanpa terlihat mengenakan pin menteri dan mobil dinas berpelat RI untuk menteri.

Ridwan menceritakan, Idrus keluar dari pintu belakang Istana Negara, Jakarta, pukul 11.20 WIB, Jumat (24/8/2018) kemarin. Dia menumpangi mobil golf bersama Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin.

“Di era saat ini, hampir tak ada politisi secara jantan mengundurkan diri karena ingin fokus menyelesaikan kasusnya. Rata-rata politisi atau pejabat mencari cara bertahan pada jabatannya itu. Kita perlu belajar dari Saudara Idrus Marham, khususnya anak muda sebagai kaum milenial,” jelas Ridwan.

Baca juga :   Karena 'Bela' FPI, Kapolda Ini Diminta Dicopot dari Jabatannya

Untuk diketahui, PLTU Riau-1 sendiri tak lepas dari perusahaan multinasional BlackGold Natural Resources Limited atau BlackGold.

Dikutip laman BlackGold, 16 Juli 2018, BlackGold bersama konsorsium menerima letter of intent (LoI) untuk perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) yang diumumkan pada awal tahun ini untuk proyek PLTU Riau-1.

Konsorsium sendiri terdiri dari BlackGold, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), PT PLN Batubara (PLN BB) dan China Huadian Engineering Co Ltd (CHEC).

Adapun nilai dari proyek tersebut sebesar US$ 900 juta atau sekitar Rp 12,87 triliun (kurs Rp 14.300). Proyek pembangkit mulut tambang tersebut digarap lewat anak usahanya bersama konsorsium.

Di mana PLTU Riau-1 sendiri memiliki kapasitas 2×300 MW. Proyek ini ditargetkan beroperasi atau Commercial Operation Date (COD) di tahun 2023.

Dari kasus itu, ada nama Johannes Budisutrisno Kotjo atau Johannes Kotjo yang terseret kasus suap proyek PLTU Riau-1. Dia bos perusahaan tekstil APAC. Kini statusnya sudah dinyatakan tersangka.

Johannes Kotjo juga menjabat sebagai pemegang saham Blackgold Natural Resources yang punya kaitan dengan proyek PLTU Riau-1.

Johannes Kotjo juga masuk jajaran orang terkaya di Indonesia. Dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia 2016 yang dirilis GlobeAsia, Johannes Kotjo ada di posisi 116.

GlobeAsia melaporkan dia mengantongi kekayaan US$ 267 juta atau bila dihitung dengan nilai tukar rupiah sekarang, jumlahnya setara Rp 3,7 triliun.

Selain itu, ada nama Iwan Agung Firstantara terkait kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1. Dia adalah Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). Pada 30 Juli 2018, KPK memeriksanya dalam rangka menelusuri pembahasan proyek itu. (HMS)

Facebook Comments