Refleksi Kampanye Akbar 01, Keringat, Darah dan Air Mata: Menatap Hari-hari ke Depan

 Refleksi Kampanye Akbar 01, Keringat, Darah dan Air Mata: Menatap Hari-hari ke Depan

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Diantar bau keringat yang memenuhi ruangan khusus di VVIP JIS kemarin, saya jongkok di sebelah Gus Muhaimin minta waktu semenit melaporkan hal penting. Sebelumnya dia dan saya saling memberi hormat salut, karena kami sebagai aktifis perjuangan telah berkenalan puluhan tahun, setidaknya berkenalan dalam ruang yang sama, menegakkan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat. Gus Imin mempersilahkan saya melaporkan.

Laporan saya adalah terkait kemungkinan rencana paslon tertentu yang akan mengumumkan kemenangan mereka pada tgl 14/2 pukul 4 sore. Diantara saya ada beberapa tokoh publik lainnya, yang digalang dan diminta untuk mendukung pengumuman kemenangan calon capres tersebut. Saya menyampaikan kepada Gus Imin, bahwa saya tidak akan berkhianat pada AMIN. Sebab, bedasarkan keyakinan intelektual saya, tidak ada paslon yang bisa menang satu putaran.

Gus Imin meminta saran saya, apa yang harus disampaikan pada rakyat, dalam kampanye akbar kemarin. Saya menginginkan Gus Imin dan pak Anies memberikan kebahagiaan kepada rakyat pendukungnya, yakni meneriakkan hidup mati bersama rakyat pendukungnya. Pemilu curang, Lawan!

Bau keringat dalam ruang kecil kemarin datang dari semua tokoh-tokoh yang ada di ruangan itu, seperti Capres dan Cawapres, Jusuf Kalla, Surya Paloh, Salim Segaf, Aboe Bakar Al-habsyi, Mahfudz Abdurrahman, Chandra Tirta Wijaya, Saan Mustafa, Faisal Assegaf, Bambang Widjojanto, Fadhil Hasan, Syahrin Hamid, dll yang sangat banyak lagi. Ada yang penting juga disebutkan yakni Thomas Lembong.

Tom Lembong ini, mungkin karena menempuh jalan sepanjang kiloan meter di antara jepitan rakyat yang bau keringat, hal mana juga pastinya sebagai pengalaman pertama (bayangkan Tom sebagai top “wall Street Man”), berusaha menenangkan diri menempel di dinding di belakang saya. Beberapa emak-emak di dalam berusaha berinteraksi dengannya, namun dia menolak. Mungkin karena sudah sekarat.

Seratusan ribu orang didalam panggung JIS, ratusan ribu dalam radius ratusan meter dan totalnya jutaan orang yang tidak mencapai JIS merupakan fenomena revolusioner seperti rakyat yang berkumpul di Tahrir Square Mesir pada era Arab Spring, mirip jutaan orang di Hongkong ketika revolusi Umbrella beberapa tahun lalu, dan mirip dengan suasana jutaan massa rakyat mendukung Lula Da Silva, tahun lalu di Brazil. Rakyat datang dengan harapan berjumpa dengan Anies dan Muhaimin. Rakyat berharap merasakan tatapan Anies Muhaimin. Dan Rakyat berharap saatnya perubahan terjadi.

Namun, sayangnya, dalam perebutan kekuasaan faktanya pertarungan yang terjadi selalu antara segelintir elit politik haus kekuasaan yang bersekongkol dengan oligarki rakus, berhadapan dengan kekuatan rakyat. Berbagai upaya dilakukan segelintir elit kekuasaan memanipulasi demokrasi, yang seharusnya jujur, adil, bebas dan rahasia, menjadi terdesain curang secara sistematis, terstruktur dan massif. Dokumentari film, “Dirty Vote”, yang sedang heboh viral saat ini menggambarkan bagaimana desain itu bisa dilakukan.

Dirty Vote menceritakan liku-liku Jokowi dan rezimnya mendesain kemenangan sejak lama, antara lain menunjuk puluhan pejabat gubernur dan pejabat Walikota/bupati yang dikendalikan, menggalang kepala desa, mempolitisasi bantuan sosial, menggunakan aparat untuk mengintimidasi kekuatan yang tidak pro Prabowo-Gibran, dlsb. Upaya ini sepertinya berbarengan dengan lembaga-lembaga survei yang dikendalikan untuk menggiring oponi bahwa pasangan yang didukung Jokowi, yakni Prabowo-Gibran, akan menang dalam satu putaran.

Kecenderungan pengumuman Prabowo-Gibran menang satu putaran semakin besar. Hal ini terlihat dari lembaga-lembaga survei yang sudah berani menyatakan pasangan tersebut menang di atas 50%. Apakah mereka mungkin menang satu putaran?

Secara teoritis sesungguhnya menang satu putaran adalah nihil. Securang-curangnya pemilu yang ada tidak mungkin merubah suara rakyat dalam totalitas. Berkaca pada tahun 2019, Jokowi yang incumbent dengan segala kekuatan aparatur yang ada ditangannya, hanya mampu menang tipis dari lawannya. Kenapa, karena rakyat militan mampu mengimbangi politik Jokowi. Saat ini, Jokowi bukan “incumbent”. Sangat sulit untuk mengendalikan kekuatan aparatnya secara total.

Kenapa? Pertama kekuatan politik terbelah antara Jokowi di satu sisi dan Megawati di sisi lainnya. Megawati yang menguasai kepemimpinan BIN, Kejaksaan Agung dan Kemenkumham serta berpengaruh terhadap beberapa kementerian juga menginginkan menang satu putaran. Hal itu diungkapkan Bu Mega pada pidato kampanye akbar pasangan Ganjar-Mahfud di GBK beberapa hari lalu.

Dengan demikian, yakni tanpa kemampuan totalitas mengendalikan kekuatan negara, keinginan Jokowi memenangkan Prabowo-Gibran satu putaran sulit terjadi. Disamping itu, kita melihat semangat rakyat yang mendukung Anies-Muhaimin juga tidak terbendung lagi. Anies-Muhaimin yang secara relatif bersandar pada dukungan rakyat, kelihatannya akan mengimbangi suara Prabowo-Gibran dan juga Ganjar-Mahfud, atau bahkan jauh di atas suara mereka.

*Lalu bagaimana jika Prabowo-Gibran mengumumkan kemenangan pada 14/2/2024 sore hari?*

Merujuk pada tahun 2019, Prabowo juga melakukan hal yang sama. Prabowo dan jajarannya mengumumkan kemenangan di sore hari pemilu. Ketika ternyata Prabowo dinyatakan kalah, berbagai tokoh-tokoh pendukungnya dimasukkan ke penjara, seperti Eggy Sudjana dan Alm. Lieus Sungkharisma. Prabowo ketakutan dan menyatakan tunduk pada keputusan KPU yang memenangkan Jokowi.

Pada tahun 2024 ini tentunya Prabowo merasa berkuasa. Sehingga dengan mengumumkan kemenangan boleh jadi Prabowo-Gibran mempertahankan klaim kemenangan tersebut dengan kekuatannya. Bagaimana tanggapan pasangan lainnya?

Situasi akan buruk ke depan. Sebab, Prabowo-Gibran kemungkinan di back up oleh KPU yang selama ini dituding meloloskan Gibran secara melanggar UU. Legitimasi KPU lemah sejak DKPP mengumumkan KPU melanggar etika. Jika KPU mengumumkan kemenangan Prabowo-Gibran satu putaran, kecurigaan terhadap hasil pilpres akan lemah sekali.

Hal ini akan memancing reaksi perlawanan dari kelompok 01 dan 03 serta rakyat pendukungnya. Dalam suasana panas belakangan ini, berbagai kekuatan sosial akan siap menghadapi tekanan kekuasan. Namun, diperkirakan situasi akan berdarah-darah. Sebab, bentrokan antara kekuatan negara dengan rakyat akan berlangsung lama.

Inilah poin diskusi kita yang saya angkat dalam judul tulisan, yakni berdarah-darah. Namun, kekuasaan yang diperebutkan dengan darah dapat dihindari, jika realitas sosial bahwa pemilu tidak mungkin satu putaran difahami betul oleh pihak-pihak, khususnya penguasa dan paslon yang didukungnya.

Penutup

Keringat dan darah adalah bagian dari perjuangan panjang rakyat untuk menegakkan demokrasi, kebebasan dan keadilan di negeri ini. Rakyat harus bersiap menerima kenyataan ini. Mengorbankan keringat sudah, tinggal darah.

Ini pula satu-satunya jalan untuk memastikan Prabowo-Gibran kalah dalam pemilu, sehingga transformasi sosial kearah demokrasi dan kebebasan dapat dilakukan. Oligarki rakus dapat ditumbangkan.

Anies dan Muhaimin telah berjalan kaki diantara jutaan rakyat yang memadati stadion dan luar stadion dalam radius 5-10 km. Rakyat dan pemimpinnya sudah mengeluarkan keringat yang sama. Anies dan Muhaimin sudah menyatakan janji akan sehidup semati dengan pendukungnya, yang disampaikan dalam orasi kampanye akbar kemarin. Tidak ada pengkhianatan. Rakyat pendukungnya juga sudah membuktikan kesetiaan dengan cucuran keringat. Tinggal cucuran darah, mungkin, jika dibutuhkan.

Semoga Allah memberikan kekuatan Nya turun ke bumi pertiwi. Memberikan kita air mata. Tangis. Tangis kemenangan. Dengan keringat, darah dan air mata kita rebut kekuasaan di jalan Allah.

Berita Terkait