Rupiah Longsor, Jokowi Didesak Mundur

Rupiah Longsor, Jokowi Didesak Mundur

SHARE

JAKARTA – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga mendekati angka Rp. 15.000,- membuat masyarakat resah. Komentar-komentar miring terhadap kinerja pemerintahan pun ramai di media sosial.

Dampak dari pelemahan ini adalah anjloknya saham IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sebesar 10 persen selama 1 tahun ini.

Kondisi ini membuat Ketua Umum Jaringan PAS (Pemuda Asal Sulawesi) Rusydi Anwar angkat bicara.

Menurutnya, Jokowi dan pemerintahannya harus bertanggungjawab terhadap hal ini.

“Sebab utama keterpurukan ekonomi kita adalah karena kebijakan hutang luar negeri yang begitu massif. Terutama hutang kepada Republik China.”

Tercatat hutang luar negeri kita dari data yang dikeluarkan Bank Indonesia di bulan April 356,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5.028 triliun (kurs Rp 14.090 per dolar AS).

“Hutang luar negeri ini semakin menjadi beban karena melemahnya rupiah. Beban negara dan juga rakyat ikut bertambah,” lanjut Rusydi Anwar.

“Kebijakan impor yang membabi buta ikut andil dalam terpuruknya rupiah ini,” tambah Rusmin Nuriadin Ketua Kajian Strategis Jaringan PAS.

Banyak produk-produk impor mulai dari barang elektronik hingga kebutuhan pokok yang diimpor oleh pemerintah bisa membuat harga-harga semakin tidak bisa dikendalikan.

“Bisa terjadi gejolak di akar rumput. Rakyat akan marah dan membuat kondisi sosial jadi tak karuan,” lanjut Rusmin yang juga caleg Partai Demokrat provinsi Sulawesi Tengah.

Karena kondisi yang carut marut ini, Rusydi Anwar menegaskan, “Jokowi harus bertanggungjawab, jika tidak mampu maka sebaiknya mundur sebagai presiden.” (IM3)

Facebook Comments
Baca juga :   Firman Soebagyo: Cegah Perpecahan Bangsa dengan Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat