Susunan Kabinet Jokowi, PKS: Nama-nama Itu Tidak Diragukan Lagi

Susunan Kabinet Jokowi, PKS: Nama-nama Itu Tidak Diragukan Lagi

SHARE

JAKARTA – Ketua DPP PKS Habib Aboe Bakar Alhabsyi mengapresiasi susunan Kabinet Indonesia Unggul yang telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Bagi Habib Aboe, komposisi kabinet Jokowi di periode kedua ini lebih baik dari periode sebelumnya.

“Saya mengapresiasi susunan Kabinet yang diumumkan tadi dari 38, sebanyak 21 berasal dari kalangan profesional. Ini berarti setidaknya ada 55% para menteri berasal dari kalangan profesional, sedangkan yang sisanya sebanyak 45% berasal dari partai politik. Tentunya ini tidak dalam dikotomi keduanya, karena bisa jadi yang dari partai politik juga profesional di bidangnya,” jelas Habib Abeo kepada wartawan, Selasa (23/10/2019).

Seperti diberitakan, Kabinet Indonesia Unggul ini diisi 54 persen orang profesional dari 34 menteri. Di mana ari jumlah itu, ada 18 kursi di antaranya diisi oleh sosok dari kalangan profesional non-parpol, sedangkan 16 kursi diisi oleh sosok berlatar belakang parpol. Luar biasa.

“Saya juga mengapresiasi diambilnya nama nama profesional yang sangat jauh dari dunia politik. Seperti penunjukan dr Terawan sebagai Menkes, Wisnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif, Eric Thohir sebagai Menteri BUMN. Bisa jadi banyak ide besar dan kreatif yang mereka bawa untuk mengembangkan kementerian. Saya kira ini adalah langkah berani dari presiden yang bisa membawa harapan baru bagi masyarakat,” papar Habib Aboe yang juga Bendahara Fraksi PKS DPR RI ini.

Habib Aboe menyampaikan, sejumlah nama menteri yang diperkenalkan presiden adalah para incumbent yang selama ini memang telah diakui kemampuannya mengelola kementerian, misalkan saja Ibu Sri Mulyani di Kementerian Keuangan, atau Ibu Retno Marsudi di Kementerian Luar negeri.

“Nama nama tersebut pasti tidak akan diragukan oleh publik, karena selama ini dinilai memiliki kinerja yang baik,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, ada juga nama yang mungkin juga terlihat asing pada pos kementerian yang ditugaskan. Misalkan saja, Nadiem Makarim dari CEO Gojek diberikan tugas sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

“Ini tentunya publik bertanya latar belakang penunjukan pebisnis sebagai menteri pendidikan. Tentu saya tidak meragukan kemampuan Mas Nadiem Makarim dalam mengelola bisnis, namun tak salah juga jika saya mengkhawatirkan nasib dunia pendidikan kita kedepan. Ini akan dilihat seperti ada gambling pada dunia pendidikan kita. Padahal ini adalah sektor yang sangat menentukan masa depan bangsa,” pungkas Habib Aboe. (HMS)

Facebook Comments