Taliban Itu Konsekwensi Kemuakan dan Dialektika Historis Masyarakat Afghan

Taliban Itu Konsekwensi Kemuakan dan Dialektika Historis Masyarakat Afghan

BERBAGI

Di Indonesia, masyarakat Muslimnya masih betah diperdaya, diperkuda, diperbudak dan diperkosa elit-elit sekularnya. Setelah lama diperdaya rezim sosialis sekular era Soekarno, dilanjutkan dengan diperkuda oleh rezim kapitalis militeristik sekukar era Soeharto.

Setelah reformasi, lagi-lagi masih betah diperkosa lalu dicampakkan oleh para politikus dan pengincar kekuasaan. Lihatlah sekarang, mereka mempermasahkan dan marah-marah mengapa mereka ditinggalkan Prabowo.

Dan Prabowo sekarang bergabung dengan rezim yang mereka jadikan sebagai musuh bersama. Padahal dalam sistem politik sekular yang berlaku, tidak ada hak mereka marah-marah, dan wajar saja orang mau loncat sana loncat sini. Siapa juga yang salah dan menyuruh Anda mendukung ini mendukung itu.

Di Afghanistan dulu juga begitu. Taliban waktu itu masih suatu komunitas santri yang berserak dan cair. Belum diorganisir. Tetapi bukan mereka tak memelototi elit-elit sekular yang rusak dan jahat.

Setelah era monarki, Afghanistan diubah menjadi sosialis sehingga mengundang Uni Soviet. Era sosialis ini, antar internal elit komunis saling mangsa. Semula naik Babrak Karmal, lalu Taraki, kemudian Najibullah yang berakhir digantung di tiang listrik.

Mujahidin menang terhadap sosialis sekular. Burhanuddin Rabbani naik. Afghanistan diganti sistem, dari Republik Sekular Sosialis (Republik Demokratik Afghanistan) menjadi Republik Islam Afghanistan. Era Republik Islam Afghanistan ini yang hakikatnya merupakan koalisi antar pengusir Uni Soviet. Sebagian elit komunis masih bercampur. Kemudian Taliban naik mengambilalih kekuasaan pada tahun 1994 – 2001. Taliban merupakan cerminan mayoritas umat Islam Afghanistan.

Pada tahun 2001, Taliban diusir paksa oleh Amerika. Lalu disusunlah Pemerintahan gado-gado berdasarkan suku-suku dan terutama yang sekular boneka Amerika. Taliban bertahan dan bergerilya. Tapi rakyat sudah terlanjur suka sama Taliban. Karena para pejabatnya sederhana dan gampang diakses. Sementara para pejabat sekular, walaupun heboh beretorika patriotis, hanya palsu. Mereka seperti Dostum, Amrullah Saleh, dan Asyraf Gani, hanya memperkaya diri.

Akhirnya, sejarah dinamikanya berubah. China merongrong Amerika lewat perang dagang. China juga merongrong pengaruh Amerika di Pakistan. China kerjasama bikin pesawat tempur dengan Pakistan sehingga ketergantungan Pakistan terhadap Amerika mengendur. Investasi China di Pakistan juga makin besar. Pakistan akhirnya punya keleluasaan memperkuat Taliban. Walhasil, Amerika tidak kuat lagi menanggung bangkrut di Afghanistan.

Apalagi ternyata, proyek perang di Afghanistan hanya dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika yang rakus dan korup. Sementara Taliban makin profesional, terlatih dan makin mengakar. Ujungnya, Amerika tidak ada pilihan cabut dari Afghanistan.

Keberhasilan Taliban memang ditopang oleh sikap mereka yang konsisten dan konsekwen. Bukan tak ada rayuan untuk bergabung dengan pemerintahan boneka Amerika. Malahan lebih dari sekedar tawaran komisaris kereta api. Mereka jelas tidak mau menjual umat dan marwah ulama. Masak mullah dan maulawi dibarter cuma dengan komisaris kereta api. Nggak sudilah Taliban serendah itu.

Demikianlah akhirnya para mullah Taliban itu akhirnya dapat kembali mengambil kekuasaan mereka di Afghanistan. Bukan hanya ghonimah alutsista dari Amerika, sekarang mereka menjadi penguasa tunggal Afghanistan melalui kemenangan perang. Bukan kemenangan kotak suara kardus yang digembok.

Sebagai pemenang perang terhadap adidaya, bukan tak mustahil kelak mereka dapat menjadi adidaya Sunni di Asia Tengah dan Asia Selatan. Sebab, suatu bangsa yang menang perang semangatnya beda jauh dengan bangsa yang dikibulin tiap hari oleh pemimpin korupnya.

~ Torkinn Lee

Facebook Comments