Waspada Berita Lawas Viral Lagi! Polisi Siksa Petani di Sulsel Minta Tolong ke Jokowi

 Waspada Berita Lawas Viral Lagi! Polisi Siksa Petani di Sulsel Minta Tolong ke Jokowi

JAKARTA – Beberapa hari belakangan ini muncul lagi berita lawas di sejumlah Media Sosial (Medsos) seperti grup Whatsapp, Facebook bahkan Twitter terkait foto para petani disiksa oleh polisi di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Aparat kepolisian yang disebut-sebut menyiksa petani itu adalah ‘polisi bayaran’ perusahaan PT Sadoka (Sinar Indonesia Merdeka) dari anak perusahaan Sintesa Grup. Benarkah demikian faktanya?

Jika dilihat kondisi para petani di dalam foto itu, maka muncul rasa iba atau kasihan sehingga banyak yang ikut meneruskan berita tersebut hingga viral. Redaksi Lintas Parlemen menerima banyak surat agar informasi tersebut ditindaklanjuti agar persoalan tersebut benar-benar selesai.

“Tolong di check kebenarannya,” tulis salah satu netizen mengirim pesan singkat melalui Whatsapp yang diterima Lintas Parlemen, Jakarta, Kamis (15/9/2022).

Hanya saja, berita itu adalah berita lama, liputan6.c0m sudah memuatnya di tahun 2020 lalu terkait fakta yang terjadi. Persoalannya sudah diselesaikan oleh pihak terkait termasuk pihak DPRD setempat dan PT Sadoka.

Info tersebut bisa disebut hoax karena faktanya persoalannya sudah selesai dan tidak ada penyiksaan seperti digambarkan dalam foto. Namun terjadi bentrok antara warga adat Pamona.

Peristiwa itu terjadi, berawal dari konflik PT Sindoka dengan warga adat Pamona dengan PT Sindoka. Di mana warga adat Pamona tinggal di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Tomoni, Luwu Timur, Sulsel.

Faktanya, foto itu yang heboh kali pertama diunggal oleh netizen atas nama Tanje Alosno di halaman facebook miliknya tepatnya 14 Juni 2020 lalu. Kemudian netisen lainnya meneruskan berita tersebut.

Kronologisnya, PT Sindoka memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan di tahun 1997  dan berakhir 2017.  Warga setempat mulai menggarap lahan itu berawal dari tahun 1998 dengan alasan PT Sindoka tidak menggunakan atau menelantarkan lahan tersebut.

Kemudian konflik terjadi, karena perusahaan berusaha mengambil alih lahan itu dengan menutup akses lahan. Kemarahan warga pun tersulut dengan membakar pos keamanan perusahaan dan PT Sindoko melibatkan aparat kepolisian sehingga terjadi aksi kekerasan atau bentrok polisi dengan warga setempat.

Atas aspirasi dari warga, maka sejumlah anggota DPRD Luwu Timur turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut dengan memanggil pihak PT Sindoka. DPRD Luwu Timur memediasi antara warga dengan PT Sindoka agar mengosongkan lahan untuk mencabut tanaman di lahan HGU itu.

Editor: Habib Harsono

Digiqole ad

Berita Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.