Hetifah Ingatkan Pelatih Baru Timnas: Bangun Sistem, Bukan Solusi Instan

 Hetifah Ingatkan Pelatih Baru Timnas: Bangun Sistem, Bukan Solusi Instan

JAKARTA – Ketua Komisi X DPR RI dari Dapil Kalimantan Hetifah Sjaifudian, mengingatkan agar penunjukan pelatih baru Tim Nasional Indonesia tidak kembali mengulang pola lama yang serba instan. Ia menilai, pergantian pelatih seharusnya menjadi pintu masuk pembenahan menyeluruh sepak bola nasional, bukan sekadar langkah reaktif atas kegagalan mencapai target tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan Hetifah menanggapi keputusan PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 3 Januari 2026, menggantikan Patrick Kluivert.

Menurut Hetifah, perubahan kepemimpinan di kursi pelatih perlu dimaknai sebagai momentum evaluasi fundamental, terutama setelah Timnas gagal melaju ke Piala Dunia 2026.

“Sepak bola tidak bisa dibangun dengan pendekatan instan. Kita membutuhkan perencanaan jangka panjang, konsisten, dan berbasis sistem. Pergantian pelatih harus diikuti dengan pembenahan ekosistem pembinaan secara menyeluruh,” ujar Hetifah dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Ahad (25/1/2026).

Politisi Fraksi Partai Golkar itu menekankan pentingnya penguatan pembinaan usia dini sebagai fondasi utama prestasi sepak bola nasional. Ia menyebut, keberlangsungan akademi sepak bola, kompetisi yang berjenjang, serta keberpihakan terhadap pengembangan pemain lokal menjadi kunci regenerasi yang sehat.

“Jika pembinaan usia muda tidak berjalan baik, maka strategi pelatih sehebat apa pun akan sulit menghasilkan prestasi yang berkelanjutan. Regenerasi adalah faktor penentu,” katanya.

Lebih lanjut, Hetifah menegaskan Komisi X DPR RI berkomitmen mengawal reformasi tata kelola sepak bola nasional agar tidak bergantung pada sosok pelatih atau elite federasi semata. Ia menjelaskan, prestasi jangka panjang hanya dapat dicapai jika PSSI membangun sistem yang transparan, profesional, dan berkesinambungan.

Ia juga menyinggung berakhirnya kerja sama dengan pelatih sebelumnya melalui mekanisme mutual termination sebagai kesempatan untuk merumuskan ulang arah pembangunan sepak bola Indonesia, termasuk filosofi permainan dan sistem pembinaan yang lebih terstruktur.

“Pelatih bisa berganti, tetapi visi dan arah pembangunan sepak bola nasional tidak boleh berubah-ubah setiap kali kita mengalami kekalahan. Yang harus dibangun adalah sistemnya, bukan kultus figur,” tutup Hetifah.

Facebook Comments Box