Kornas Kawan Indonesia Kutuk Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Tuduhan ke Pemerintah Dinilai Politik Adu Domba

 Kornas Kawan Indonesia Kutuk Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Tuduhan ke Pemerintah Dinilai Politik Adu Domba

JAKARTA – Koordinator Nasional (Kornas) Kawan Indonesia, Arief Darmawan, mengutuk keras aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, yang terjadi di kawasan Salemba, Jakarta, Jumat (13/3) dinihari.

Arief menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan kejahatan serius yang harus diusut tuntas oleh aparat penegak hukum. Namun ia juga mengingatkan agar peristiwa ini tidak langsung diarahkan menjadi tuduhan politik terhadap pemerintah tanpa dasar yang jelas.

“Kami mengutuk keras aksi penyiraman air keras ini. Itu adalah tindakan kriminal yang tidak bisa ditoleransi dalam negara hukum. Pelaku harus segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” kata Arief dalam keterangannya, Sabtu (14/3).

Menurut Arief, upaya sebagian pihak yang langsung menuding pemerintah sebagai dalang di balik insiden tersebut merupakan bentuk politik adu domba yang berpotensi merusak persatuan nasional.

“Menjadikan peristiwa kriminal ini sebagai alat untuk menuduh pemerintah tanpa bukti adalah bentuk politik adu domba yang sangat berbahaya. Narasi seperti itu hanya akan memecah belah masyarakat dan merusak persatuan nasional kita sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.

Arief menilai masyarakat Indonesia harus belajar dari sejarah panjang penjajahan, di mana kekuatan kolonial kerap menggunakan strategi divide et impera atau politik pecah belah untuk melemahkan kekuatan bangsa.

“Sejarah mengajarkan kita bahwa metode kolonialis menjajah Indonesia salah satunya melalui politik pecah belah. Jangan sampai pola yang sama dihidupkan kembali melalui narasi yang memprovokasi publik dan memecah persatuan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sebelum ada hasil penyelidikan resmi, semua pihak sebaiknya menahan diri dari spekulasi maupun framing politik yang dapat memperkeruh situasi. Arief mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk bergerak cepat mengungkap pelaku dan motif di balik serangan tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat.

“Kami percaya aparat penegak hukum mampu mengusut kasus ini secara profesional dan transparan. Pengungkapan yang cepat dan jelas penting untuk menghentikan berbagai narasi yang menyesatkan publik,” katanya.

Lebih lanjut, Arief mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat dengan menolak kekerasan sekaligus menolak politisasi yang dapat memperuncing konflik sosial.

“Solidaritas terhadap korban harus dibarengi dengan kedewasaan politik. Kita menolak kekerasan, tetapi kita juga menolak upaya memanfaatkan tragedi untuk memecah belah bangsa,” kata Arief.

Facebook Comments Box