Amin Ak: Empat Pilar Kebangsaan dan Kearifan Lokal Adalah “Antibodi” Hadapi Ancaman Krisis Global

 Amin Ak: Empat Pilar Kebangsaan dan Kearifan Lokal Adalah “Antibodi” Hadapi Ancaman Krisis Global

LUMAJANG – Sejarah sering kali berulang; ketika kesulitan hidup menghantui rakyat, nalar kolektif bangsa kerap diuji. Bara konflik Amerika Serikat-Israel vs Iran berpotensi memicu gejolak ekonomi dunia yang tentu juga bakal dirasakan masyarakat Indonesia.

Saat menyampaikan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Nararya Kirana, Kelurahan Citrodiwangsan, Kecamatan Sambikerep, Kabupaten Lumajang, Minggu (15/3/2026), Anggota MPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak mewanti-wanti pentingnya memperkuat ikatan sosial. Di tengah situasi global yang kian tidak menentu, ketahanan nasional kembali diuji. Amin Ak menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar teks sejarah, melainkan “antibodi” vital bagi persatuan bangsa saat menghadapi tekanan ekonomi dan provokasi sosial.

Ia membawa pesan krusial. Di tengah badai geoekonomi yang melumpuhkan industri dan melambungkan harga pangan, sejatinya kekuatan lokal adalah jangkar utama agar biduk NKRI tidak karam.

Wakil Rakyat dari Dapil Jatim IV itu memotret realitas pahit di lapangan. Ketergantungan industri pada bahan baku impor yang harganya selangit kini menjadi bumerang. Ditambah ancaman krisis energi, hal ini berpotensi menciptakan tekanan psikologis di tingkat akar rumput.
Ia mengingatkan, dalam kondisi “gerah” secara ekonomi, provokasi menjadi komoditas yang mudah laku.

“Saat tekanan sosial ekonomi menguat, biasanya daya tahan sosial kita melemah. Isu-isu sensitif yang mengadu domba antargolongan akan lebih mudah menyulut api. Jika kita tidak punya ‘antibodi’ berupa kearifan lokal dan persatuan, bangsa ini bisa koyak dari dalam,” ujarnya di hadapan 150 pemuda dan kelompok wanita pegiat pemberdayaan masyarakat Kabupaten Lumajang.

Bagi Amin, Empat Pilar MPR RI yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika jangan hanya dihafal sebagai teks mati, melainkan harus dihidupkan sebagai strategi bertahan hidup (survival strategy). Dalam tafsir kekinian Amin, Pancasila berarti kemandirian ekonomi dan keadilan bagi mereka yang paling terhimpit krisis.

“Kearifan lokal seperti gotong royong dan lumbung pangan warga adalah bentuk nyata pengamalan Pancasila. Itulah benteng asli kita. Jangan menunggu bantuan dari luar yang belum tentu datang, mari perkuat kemandirian dari desa, komunitas, dan keluarga,” tegasnya.

Lumajang, menurut Amin, memiliki modal sosial yang kuat. Tradisi saling menjaga antarwarga adalah modal utama untuk menangkal upaya-upaya delegitimasi yang ingin membenturkan rakyat dengan pemerintah, atau antar-sesama warga akibat kesulitan hidup. Sejatinya, kedaulatan bangsa tidak dimulai dari meja perundingan internasional, melainkan dari ketahanan di setiap keluarga di pelosok negeri.

Strategi kemandirian bangsa harus dimulai dengan menempatkan desa sebagai episentrum pembangunan. Perlu terjadi transformasi dari sekadar wilayah konsumen menjadi produsen mandiri yang berdaulat melalui revitalisasi sistem lumbung. Kekuatan ini kemudian dipertebal oleh solidaritas organik, yakni menghidupkan kembali “jaring pengaman sosial” alami berbasis gotong royong yang memungkinkan komunitas lokal saling menopang tanpa harus selalu bergantung pada birokrasi pusat.

Menutup agendanya, Amin Ak mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali ke akar budaya. Ia mendorong penguatan sektor pangan lokal sebagai jawaban atas ketidakpastian global. Menurutnya, masyarakat yang mandiri secara pangan adalah masyarakat yang paling sulit diprovokasi.

“Jika dapur kita tetap mengepul karena kita kuat secara lokal, maka provokasi apa pun untuk mengoyak kesatuan akan mental dengan sendirinya. Mari jadikan krisis ini sebagai momentum untuk kembali pada kekuatan jati diri bangsa,” pungkasnya.

Facebook Comments Box