BAJA Kecam Wagub Jabar, Tuntut Datang ke Jakarta dan Minta Maaf Secara Resmi
JAKARTA — Barisan Jakarta (BAJA) melontarkan kritik keras terhadap Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan atas pernyataannya di media sosial yang dinilai memancing dan merawat rivalitas antara suporter Persija Jakarta dan Persib Bandung.
Direktur Agitasi dan Propaganda (Agiprov) BAJA, Rifki Alief Ramadhan, menegaskan bahwa sikap tersebut sangat tidak patut dilakukan oleh seorang pejabat publik. Menurutnya, seorang wakil gubernur seharusnya menjadi figur yang menyejukkan suasana, bukan justru ikut merawat rivalitas yang selama ini telah berulang kali memicu konflik di tengah masyarakat.
Rifki menekankan bahwa rivalitas antara Persija dan Persib bukan sekadar candaan sepak bola. Dalam perjalanan sejarahnya, konflik antar suporter bahkan telah merenggut banyak korban jiwa. Karena itu, setiap pernyataan yang berpotensi memprovokasi harus dihindari, terlebih jika datang dari seorang pejabat negara.
“Rivalitas ini bukan sekadar bahan guyonan. Kita semua tahu dalam sejarahnya sudah banyak korban berjatuhan. Oleh karena itu, tokoh publik seharusnya ikut menjaga komitmen perdamaian yang selama ini dibangun dengan susah payah oleh berbagai pihak,” tegas Rifki.
BAJA menilai pernyataan tersebut berpotensi merusak upaya rekonsiliasi yang selama ini terus dibangun antara kedua kelompok suporter. Berbagai elemen masyarakat, komunitas suporter, hingga tokoh-tokoh daerah telah berusaha keras menciptakan suasana sepak bola yang lebih damai dan sportif.
Atas dasar itu, BAJA secara tegas menuntut Wakil Gubernur Jawa Barat untuk menunjukkan tanggung jawab moral dengan datang langsung ke Jakarta dan menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada masyarakat, khususnya kepada para pendukung Persija.
“BAJA menuntut Wagub Jawa Barat datang langsung ke Jakarta dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ini penting agar situasi tidak semakin memanas dan sebagai bentuk penghormatan terhadap upaya perdamaian yang sudah dibangun,” lanjut Rifki.
BAJA juga mengingatkan seluruh pejabat publik agar lebih bijak dalam menggunakan ruang publik dan media sosial. Menurut mereka, sepak bola seharusnya menjadi sarana pemersatu masyarakat, bukan alat yang memperbesar perpecahan di antara warga.
“Jangan sampai ucapan seorang pejabat justru memicu kembali luka lama. Rivalitas boleh ada di lapangan, tetapi persaudaraan antar masyarakat harus tetap dijaga,” tutup Rifki.