Benarkah Tidak Ada Penjajahan Belanda?

 Benarkah Tidak Ada Penjajahan Belanda?

“Kita pernah dijajah selama 350 tahun.”

“Ah, bohong.”

“Belanda adalah penjajah.”

“Tidak betul. Yang menjajah kita, bangsa sendiri.”

“Kita tidak pernah dijajah. Justru Belanda memberi kita kereta api, kapal laut, jembatan, sistem sekolah sehingga kita dapat berkembang seperti sekarang. Pembangunan yang diberikan Belanda, jauh lebih berkesan ketimbang yang dibuat oleh tiga zaman tanpa Belanda.”

***

Anda pernah mendengar narasi seperti itu? Biar diketahui, narasi yang menihilkan adanya penjajahan di masa lalu, mulai muncul dan populer di percakapan komentar medsos seperti Facebook, YouTube dan TikTok.

Mungkin narasi itu refleksi kejengkelan terhadap tidak adanya kemajuan signifikan yang dicapai oleh Indonesia pasca penjajahan Belanda, terutama dalam pemenuhan janji-janji kemerdekaan untuk mewujudkan keadilan ekonomi, hukum, pemerataan tingkat kesejahteraan dan hak-hak rakyat lainnya. Boleh dikatakan, semua orang saat ini bersaing untuk menjadi Belanda terhadap rakyat. Memeras, menipu, merajai, merampok dan memoles diri sebagai yang termoncer dan termulia.

Tapi narasi tidak ada penjajahan Belanda di Indonesia, merupakan narasi sesat dan menyesatkan, dan membahayakan masa depan semua orang. Sebab, bisa-bisa penjajah akan diundang lagi, tanpa rasa penolakan dan bisa penjajahnya macam-macam asing.

Terkait tidak adanya penjajahan, hendaknya yang menghembuskan narasi itu menyadari bahwa Belanda sendiri secara resmi membuat suatu kementerian di masa lalu dengan nomenklatur, Menteri Urusan Jajahan atau Minister of Colonial Affairs. Engkau masih bilang tidak ada penjajahan? Penjajahnya sendiri membuat kementerian urusan jajahan.

Kejamnya Penjajahan Belanda

Suatu ketika, di masa mudanya sebagai pasukan KNIL, Hendrikus Colijn, seorang yang kemudian diangkat sebagai Menteri Urusan Jajahan Belanda yang berkuasa dari 26 May 1933 – 24 June 1937, menuliskan kesaksian dan keterlibatan dirinya dalam pembantaian terhadap wanita-wanita pribumi Indonesia. Menurut standar modern, aksi brutalnya ini jelas dipandang sebagai kejahatan perang yang parah:

“Aku melihat seorang ibu yang membawa seorang anak berusia sekitar 6 bulan di sisi kirinya, dengan tombak panjang di tangan kanannya, yang diacungkan ke arah kami. Salah satu peluru kami membunuh ibu itu beserta anaknya. Bila dari sekarang kita tak bisa memaafkannya, hal itu sudah terlambat. Aku sungguh memberikan perintah untuk mengumpulkan 9 orang wanita dan 3 anak yang disuruh minta ampun dan mereka ditembak bersamaan semuanya. Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, namun pekerjaan lain tidak mungkin. Dengan senang hati prajurit kami menikam mereka dengan bayonet mereka. Hal yang mengerikan. Aku akan berhanti melaporkan sekarang.” Masih engkau bilang tidak ada penjajahan Belanda?

Welsink, Colijn, J.B. van Heutsz, Van Daalen dan Hans Christoffel, merupakan legenda manusia penjajah yang telah menanamkan rasa dendam dan nyeri pada masyarakat Aceh dan Batak. Kelima orang Penjajah Belanda ini berkarir militer di Aceh dan Batak, suatu medan peperangan yang sulit dan lama. Perang Batak sendiri berlangsung selama 30 tahun dari 1877-1907.

Perang Aceh lebih lama lagi. Segala upaya Belanda kerahkan untuk menaklukkan Aceh dan Batak. Untuk memotong ruang gerak gerilya Sisingamangaraja XII dan pasukannya, Welsink sebagai Residen Tapanuli memaksa ribuan orang Batak untuk bekerja membuat terusan yang memotong hubungan daratan antara bagian tepi Danau Toba dengan perbukitan yang menjorok ke danau atau Pusuk Buhit. Jadilah seperti sekarang yang dikenal dengan Tano Ponggol.

Lain lagi dengan Kapten Christoffel. Orang Swiss ini, telah membantai Sisingamangaraja XII hingga kepalanya dipotong untuk ditunjukkan ke penguasa Belanda sebagai barang bukti. Walaupun ada yang memberi kisah, kepala yang dibawa pasukan marsose pimpinan Christoffel tersebut orang yang mirip dengan Sisingamangaraja XII. Tapi jelas hal itu suatu kejahatan yang tak terampuni.

Selain Sisingamangaraja XII, yang dibunuh turut juga Boru Lopian, putri Sang Raja, seorang gadis belia yang ikut berjuang dan berkorban hingga gugur dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 di Aek Sibulbulon Pearaja Dairi, Sumatera Utara.

Dua putra Sisingamangaraja XII, yaitu Patuan Nagari dan Patuan Anggi gugur bersama pejuang lainnya dalam pertempuran tersebut.

Panglima-panglima Sisingamangaraja, sebanyak puluhan orang, di antaranya Teuku Nyak Bantal dan Teuku Muhammad Ben, Mat Sabang dan lain-lain dari Aceh, yang bercampur dengan pasukan-pasukan Batak ikut mati syahid. Kuburan mereka dibuat satu liang di Tanah Batak saat ini.

Pasukan Marsose Melebihi Unit Pasukan Khusus Gurkha

Unit pasukan anti gerilya ini, hakikatnya pasukan bayaran yang berasal lintas etnis dipimpin oranb Eropa yang khusus untuk menumpas perlawanan gerilya dari pribumi. Pasukan ini digambarkan sebagai pasukan teror, haus darah dan sangat kejam. Christoffel sendiri adalah orang Swiss yang mengadu nasib di Hindia Belanda.

Pasukan Khusus ini digembleng di Cimahi, kompleks militer Belanda. Yang terkenal dari keunggulannya dalam pertempuran adalah tidak bergantung pada suplai logistik, tidak bergantung pada angkutan militer serta terbiasa jalan kaki, tidak terlalu mengandalkan senjata api, melainkan senjata tajam seperti klewang untuk menghabisi lawannya dalam jarak dekat, memiliki daya gempur yang dahsyat, memiliki daya tahan yang tinggi di berbagai medan, memiliki kemampuan bertempur yang kuat dibanding pasukan biasa, dan merupakan unit infanteri dengan mobilitas tinggi. Karena mengandalkan senjata tajam, seperti halnya Gurkha, membantai dengan kelewang dan pisau merupakan gaya dari pasukan bayaran ini.

Pada leher baju tentara marsose tertera simbol jari-jari berdarah dan melilitkan sapu tangan merah sebagai tanda bahwa pasukannya sangat berani dan kejam. Christoffel menyebut pasukannya sebagai kolone macan (Tijger Colonne).

Bhre Wira, Penulis Tinggal di Jakarta

Facebook Comments Box