Dari Showcase AI ke Kebijakan Nasional: Menteri Meutya Hafid Dorong Startup Lokal Jadi Pemimpin
Meutya Viada Hafid
JAKARTA – Suasana penuh energi terasa di ajang Google for Startups AI Showcase Day, ketika puluhan founder mempresentasikan inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Di tengah geliat itu, muncul satu refleksi tajam: banyak founder masih terjebak pada operasional harian, padahal kunci untuk benar-benar “scale up” justru terletak pada kualitas diri dan kapasitas kepemimpinan mereka.
Dari situ seorang reporter di akun media Sosial mewawancarai Menteri Komunikasi dan Digital sekaligus pemilik akun itu Meutya Hafid
“Indonesia sering disebut sebagai pasar digital terbesar di ASEAN. Apa satu kebijakan paling krusial agar startup lokal tidak hanya jadi penonton, tapi bisa jadi pemimpin di negeri sendiri?” tanya reporter itu seperti dikutip Lintas Parlemen, Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Infrastruktur, Talenta, dan Modal Jadi Kunci
Menjawab pertanyaan itu, Meutya menegaskan, pemerintah tidak hanya fokus pada regulasi, tetapi juga membangun ekosistem dari hulu ke hilir.
Ia menyebut program seperti Pakika Rudas Park dan Garuda Spark sebagai wadah untuk melahirkan startup-startup lokal. Pemerintah, kata dia, menyiapkan ruang, fasilitas, hingga kolaborasi dengan perusahaan global.
“Kita ajak perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Google untuk mempercepat upskilling dan reskilling talenta kita. Kita padukan juga dengan venture capital, karena tanpa modal tentu sulit,” jelasnya.
Menurut Meutya, pendekatan ini dirancang agar inovasi tidak berhenti di ide, tetapi bisa tumbuh menjadi bisnis berkelanjutan yang kompetitif secara global.
Regulasi AI: Dari Roadmap hingga Etika
Tak hanya soal ekosistem, pemerintah juga menyiapkan fondasi regulasi. Meutya mengungkapkan adanya Peraturan Presiden (Perpres) terkait AI yang memuat peta jalan pengembangan teknologi tersebut.
Fokusnya mencakup sektor-sektor strategis seperti:
1. Ketahanan pangan
2. pendidikan
3. Keuangan
4. Kesehatan
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan aturan etika AI untuk memastikan perlindungan masyarakat.
“Yang penting bukan hanya teknologinya masuk, tapi bagaimana masyarakat tetap terlindungi,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebagai pasar digital besar, Indonesia membutuhkan “payung regulasi” yang kuat—sesuatu yang belum tentu dimiliki semua negara.
60+ Startup Lahir, Tantangan Baru Dimulai
Ajang ini sendiri mencatat capaian signifikan. Lebih dari 60 startup AI Indonesia telah diluluskan, termasuk 63 startup yang mendapat dukungan dari program akselerator dan AI Solutions Lab yang dijalankan bersama Google dan pemerintah.
Namun di balik angka tersebut, muncul tantangan baru bagi para founder.
Banyak pelaku startup dinilai masih terlalu fokus pada operasional jangka pendek. Padahal, untuk benar-benar tumbuh besar, dibutuhkan peningkatan kapasitas diri—mulai dari visi, kepemimpinan, hingga kemampuan membaca peluang global.
Pilihan di Tangan Founder
Ajang ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum refleksi.
Dengan dukungan ekosistem, regulasi, dan kolaborasi global yang semakin kuat, pertanyaannya kini bergeser:
Apakah startup Indonesia hanya ingin bertahan (survive), atau benar-benar siap untuk naik kelas dan memimpin (scale)?