Demer Hadiri Upacara Ngeeb di Pura Bale Agung Tajun, Tegaskan Nilai Sakral Harmoni Kehidupan

 Demer Hadiri Upacara Ngeeb di Pura Bale Agung Tajun, Tegaskan Nilai Sakral Harmoni Kehidupan

BULELENG – Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi Partai Golkar Gde Sumarjaya Linggih (Demer) menghadiri rangkaian Upacara Ngeeb yang digelar di Pura Bale Agung Tajun. Kehadiran tokoh yang akrab disapa Demer ini menjadi bagian dari dukungan terhadap pelestarian tradisi adat Bali yang sarat makna spiritual.

Dalam suasana khidmat, prosesi upacara berlangsung dengan diikuti oleh krama desa yang datang dengan penuh rasa bhakti. Upacara Ngeeb sendiri merupakan salah satu ritual penting dalam tradisi Hindu Bali yang dilaksanakan sebagai bentuk penyucian sekaligus penguatan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Upacara Ngeeb sebagai Simbol Penyucian dan Kebersamaan

Upacara Ngeeb biasanya menjadi bagian dari siklus upacara di desa adat yang berpusat di Pura Bale Agung, yang merupakan pura utama tempat pemujaan bagi masyarakat desa. Ritual ini mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, serta kesadaran spiritual masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan hidup.

Prosesi Ngeeb tidak hanya melibatkan persembahyangan, tetapi juga rangkaian kegiatan adat yang menyatukan warga desa dalam satu tujuan, yakni memohon keselamatan dan keharmonisan bagi seluruh lingkungan desa.

Demer: Budaya Adalah Pondasi Kehidupan Bali

Dalam keterangannya, Gde Sumarjaya Linggih menegaskan bahwa Upacara Ngeeb memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar tradisi tahunan.

“Ini bukan hanya seremoni, tetapi pengingat bahwa hidup harus selalu seimbang. Ada hubungan yang harus kita jaga dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam,” ujar Demer seperti dikutip di akun Instagram miliknya, Selasa (24/3/2026).

Ia menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam upacara seperti Ngeeb merupakan implementasi nyata dari filosofi hidup masyarakat Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Perubahan Zaman

Demer juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, generasi muda perlu dilibatkan secara aktif agar tidak kehilangan akar budaya.

“Kalau tradisi ini tidak dijaga, kita akan kehilangan jati diri. Upacara seperti Ngeeb adalah warisan yang harus terus hidup,” tegasnya.

Ia mengapresiasi masyarakat Desa Tajun yang tetap konsisten melaksanakan tradisi dengan penuh ketulusan, serta menjadikan pura sebagai pusat kehidupan sosial dan spiritual.

Refleksi Nilai Dharma dalam Kehidupan

Momentum Upacara Ngeeb, lanjut Demer, menjadi ruang refleksi bagi setiap individu untuk kembali pada nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga setiap langkah kita dilandasi ketulusan dan nilai dharma. Apa yang kita lakukan harus membawa kebaikan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Komitmen Pelestarian Budaya Bali

Kehadiran Gde Sumarjaya Linggih dalam Upacara Ngeeb di Pura Bale Agung Tajun menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya Bali sebagai bagian dari kekayaan bangsa.

Ia berharap, tradisi seperti ini tidak hanya dijaga, tetapi juga terus diperkenalkan secara luas sebagai identitas budaya yang memiliki nilai universal tentang harmoni dan keseimbangan hidup.

Dengan semangat #BudayaBali #UpacaraNgeeb #GSL #PuraBaleAgungTajun #PelestarianBudaya, nilai-nilai luhur Bali diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi lintas generasi.

Facebook Comments Box