Evita Nursanty: Industri Farmasi RI Terlalu Rapuh, 95 Persen Bahan Baku Masih Impor

 Evita Nursanty: Industri Farmasi RI Terlalu Rapuh, 95 Persen Bahan Baku Masih Impor

JAKARTA — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menilai industri farmasi nasional berada dalam kondisi rentan akibat ketergantungan ekstrem terhadap bahan baku impor. Fakta bahwa sekitar 95 persen bahan baku obat masih didatangkan dari luar negeri disebut sebagai sinyal darurat bagi kemandirian sektor kesehatan Indonesia.

Hal itu disampaikan Evita usai memimpin kunjungan dan rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian di PT Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026) seperti dikutip di media DPR RI.

“Angka 95 persen itu sangat mengkhawatirkan. Ini bukan sekadar data, tapi peringatan keras bagi kita semua. Kenapa sampai sekarang Indonesia belum mampu memproduksi bahan baku obat sendiri?” ujar Evita.

Dalam pertemuan tersebut, Komisi VII DPR RI juga berdialog dengan jajaran Holding BUMN Farmasi, yakni Direktur Utama Bio Farma, Kimia Farma, dan Indofarma. Dari paparan yang disampaikan, terungkap dua persoalan krusial yang membelit industri farmasi nasional, yakni ketergantungan bahan baku obat yang masih di atas 90 persen serta tekanan persaingan harga melalui sistem e-katalog.

Evita menegaskan, kondisi ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan jangka pendek. Ia menilai pembangunan industri farmasi selama ini terlalu berorientasi pada produksi obat jadi, sementara sektor hulunya justru diabaikan.

“Kalau kita terus fokus di hilir, maka industri kita akan selalu tergantung pada pasokan luar. Padahal, yang membuat industri kuat itu justru penguasaan bahan bakunya,” kata legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Terkait arah investasi nasional, Evita secara terbuka mendorong agar pemerintah dan lembaga pengelola investasi seperti Danantara mengalihkan fokus ke pembangunan industri bahan baku strategis. Ia mengingatkan agar investasi tidak sekadar mengikuti tren, tetapi menjawab kebutuhan mendasar bangsa.

“Saya baca Danantara sedang mempertimbangkan investasi di sektor tekstil. Tapi menurut saya, yang jauh lebih mendesak saat ini adalah industri bahan baku, khususnya bahan baku obat. Ketergantungan kita sudah terlalu parah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Evita menekankan bahwa sektor kesehatan seharusnya ditempatkan sejajar dengan pertanian dan pertahanan sebagai pilar strategis negara. Tanpa kemandirian bahan baku obat, Indonesia dinilai akan terus berada dalam posisi rawan ketika terjadi krisis global.

“Industri kesehatan harus masuk program strategis nasional. Negara tidak boleh bergantung pada impor untuk kebutuhan dasar rakyatnya, terutama yang menyangkut keselamatan dan kesehatan,” pungkas Evita.

Facebook Comments Box