Film ‘SAYAP-SAYAP PATAH 2’: Mengelola emosi hasil karya Denny Siregar-Islah Bahrawi

 Film ‘SAYAP-SAYAP PATAH 2’: Mengelola emosi hasil karya Denny Siregar-Islah Bahrawi

Oleh: Akbar Faizal, Mantan Anggota DPR RI

—————-

Sejak Christina Hakim pada Tjoet Nyakdien atau Kereta Terakhir Alex Komang dan Gito Rollies dan beberapa film lainnya dlm bilangan jari, saya secara sadar berhenti menonton film-film Indonesia. Menolak jadi bego. Salah satunya oleh kegagalan banyak aktor-aktris memahami dan memerankan karakter secara cerdas.

Tapi penyebab utama keengganan saya menghabiskan waktu menonton film produksi para kreator sinema kita yg sebenarnya bertalenta besar seperti Riri Riza, Garin Nugroho dan beberapa nama lainnya lagi adalah dunia film kita menghindari realitas. Bagi saya, mereka seharusnya hadir dan berbicara tentang kondisi masyarakatnya dan tak melulu melebih-lebihkan kesedihan oleh peristiwa putus cinta. Cetek banget.

Pikiran sama juga mendatangiku semalam saat memenuhi undangan dua sahabat saya, Denny Siregar dan Islah Bahrawi, pada pemutaran perdana film kesekian mereka, “Sayap-sayap patah 2”. Mereka produsernya. Saya hadir semata untuk memberi dukungan atas alasan lain. Mereka aktifis medsos yang narasinya dibutuhkan ruang publik yang kosong oleh literasi melompong. Tapi film? Ya …sudahlah. Saya harus hadir. Juga beberapa sahabat lainnya seperti Komjen Pol Martinus Hukom yang membawa istri, juga sahabat saya, Rita. Bang Gories Mere, legenda pemberantasan terorisme malah hadir lebih dulu. Puluhan politisi dan cendekiawan politik hadir pula. Kusempatkan diskusi dgn Yunarto ‘Totok’ Wijaya tentang situasi politik terkini. “Gak dampingi Jokowi di Polda Metro Tok?” godaku. Totok nyengir.

Tapi saya salah. Meski tetap ragu pada adegan pembuka saat Leong yang diperankan dengan baik Iwa K keluar penjara sebagai narapidana terorisme, adegan demi adegan berikutnya semakin membaik. Emosi penonton mulai dikocok saat bom teror meledak dikafe. Booomm…. Pergerakan kamera yang pas, pencahayaan yang baik, logika cerita yang terbangun, setting yang terukur, manajemen properti yang lumayan ciamik hingga kemampuan para pemain memerankan karakternya. Saya memang agak terganggu dukungan musik pada 30 menit awal yang lebih seperti sinetron-sinetron TV melelahkan itu.

Film ini berkisah tentang dunia kepolisian khususnya Detasemen Khusus 88 (Densus 88) dalam mengejaran dan pemberantasan terorisme. Penulis naskah dan sutradara (Ferry Fei) berhasil meramu kisah tentang manusia-manusia yang memilih menjadi ‘manusia terpilih’ dalam ideologi sesat mereka sendiri dengan cara penciptaan rasa takut melalui teror untuk memaksakan paham dan kehendak mereka.

Leong (Iwa K) alias Abu Askar dan anaknya bernama Askar, tokoh Agus Sukarron alias Wabil dan seorang dedengkot teroris yang telah tertangkap namun masih mengendalikan dunia teror menjadi inti cerita. Disebelahnya, para polisi anti teror tak kalah bagusnya memainkan katakter yang pas. Pandu sang perwira muda yang menjadi bintang utama (dimainkan dgn baik pula oleh Arya Seloka) dan Suri, guru TK cantik menjadi bumbu film khas film Indonesia, percintaan. Saya harus memuji karakter Kombes Sadikin yang dimainkan dgn ‘polisi banget’ oleh penyanyi Nugie.

Namun bintang sebenarnya film ini adalah pemeran Olivia, gadis kecil yang kemudian tewas dalam ledakan bom yang telah dipasang Askar, anak Leong yang dendam kepada Pandu karena telah membunuh bapaknya dalam penyergapan di pembakaran batu bata itu. Askar merancang bom dengan berpura-pura sebagai vendor EO acara perayaan kecil TK disekolah Olivia. Bom ditanam tepat dibawah panggung tempat Olivia berdiri untuk bernyanyi.

Dimarkas Densus 88, Kombes Sadikin berhasil mengidentifikasi Askar mengejar Pandu. Sayang, Pandu yang akhirnya punya waktu luang menemani Olivia (Pandu orangtua tunggal) yang dirawat Ibunya (diperankan Meriam Bellina) berdiri jauh dari panggung. “Kamu diincar Askar,”teriak Sadikin diujung telepon. Terlambat. Timer bom berdetak. 06..05..04..03..02…..01…Duuuaaaar…

Usai pemutaran film, saya bertemu pemeran Olivia dan mengatakan,”Kamu akan jadi bintang film besar kelak”. Jenderal Martin yang duduk disebelahku menyebut ini mirip kisah peristiwa ledakan bom di Samarinda 2014 yang menewaskan Intan Olivia Banjarnahor. Ternyata film ini diilhami sebuah peristiwa nyata.

Pada akhirnya sebuah film yang berani berbicara jujur tentang masyarakatnya hadir. Sayap-sayap patah 2 ini, kata Rita Martinus, bahkan jauh lebih baik dari ‘Sayap-sayap patah (1)’ sebelumnya yang juga sukses ditonton dua juta orang. Saya tak pintar memuji. Anda tahu itu. Tapi untuk kali ini, saya harus angkat topi untuk film ini. Jangan membayangkan akan sama dgn Film ‘13 Hour’ yang kini diputar di Netflix tentang penyerangan kedutaan AS di Libya oleh pasukan jihad setempat. Tp ‘Sayap-sayap patah 2’ memberi kita pelajaran bahwa terorisme adalah jalan sesat untuk menjadi manusia terpilih. Suguhan sinematik dari film ini jauh diatas film-film serupa lainnya yg pernah dibuat. Itupun jika pernah ada. Ini parameter sederhana ala tontotan bioskop: Jika 15 menit pertama mulai banyak yang meninggalkan kursinya dan tak balik lagi maka itu film buruk. Tadi malam, hanya seorang yang pergi meninggalkan kursi. Itupun karena dia menerima telepon dari seorang jenderal polisi yang tak bisa dia abaikan. Selebihnya, tertancap dikursi masing-masing. Beberapa rutin mengusap mata. Mungkin juga saya meski saya pasti membantahnya. Takut dibilangin cengeng. Terutama saat adegan tangan kecil Olivia yang hangus penuh perban terguling kesamping. Meninggal. Sungguh tega mereka membunuh seorang anak kecil berusia 6 tahun yang tak lagi punya ibu. Disempurnakan Pandu yang melangkah kosong lalu terduduk menderita kehilangan di tangga rumah sakit.

Jaga keluarga kita. Jangan sampai terpapar paham teroris. Bahkan sutradata film ini, Ferry, mengaku pernah terpapar TII puluhan tahun lalu. Kepada Denny dan Islah, tak kusampaikan kegusaran saya kenapa anak kecil Olivia harus mati mengenaskan dalam kondisi gosong oleh bom kaum durjana itu. Tak banyak film yang berani ‘membunuh’ anak kecil diujung cerita. Kubawa pulang kedongkolan itu. Siapa tahu membawaku menonton film ini kedua kalinya. Tentu saja dengan membeli tiket sebab yang semalam itu gratis alias premiere. Dalam bayangan saya, film ini seharusnya menembus minimal empat juta penonton. Sebab film ini jujur, cerdas dan digarap dengan hati-hari. Selamat bro Denny dan cak islah. Tapi tentang isu lain diluar film jangan sampai kendor ya. Tak ada pujian seperti ini jika kalian berubah. Merdekaaaaaaa……

 

Facebook Comments Box