I Nyoman Parta Apresiasi Karya Ogoh-Ogoh “Tugu Mayang” di Ubud: Simbol Arah Kehidupan dan Keseimbangan Alam

 I Nyoman Parta Apresiasi Karya Ogoh-Ogoh “Tugu Mayang” di Ubud: Simbol Arah Kehidupan dan Keseimbangan Alam

BALI – Anggota DPR RI dari Dapil Bali Fraksi PDIP I Nyoman Parta mengungkapkan kekagumannya terhadap karya seni ogoh-ogoh yang dibuat oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) Pandawa, Banjar Tarukan Mas, Ubud. Hal tersebut disampaikannya melalui unggahan di media sosial miliknya, Rabu (18/3/2026).

Dalam kunjungannya itu, Parta mengaku terkesima dengan detail dan konsep artistik ogoh-ogoh bertajuk “Tugu Mayang” yang dinilai tidak hanya unggul dari segi visual, tetapi juga sarat makna filosofis.

“Kami dibuat diam, bengong, takjub akan karya seni ogoh-ogoh yang dibuat. Bukan saja bentuk dan wujudnya yang luar biasa, seperti tidak percaya rasanya, kok bisa imajinasi yang diturunkan lewat karya tangan anak-anak muda ini bisa persis seperti menggunakan batu alam asli,” tulisnya.

Menurut Parta, kekuatan utama karya tersebut terletak pada sinopsis yang mengalir kuat, menggambarkan hubungan antara alam, ruang, dan kesadaran manusia. Ia bahkan meminta izin kepada para kreator untuk membagikan narasi lengkapnya kepada publik agar bisa dipahami lebih luas.

Dalam narasi yang dibagikan, “Tugu Mayang” digambarkan sebagai refleksi kondisi Bali saat ini yang tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan terhadap alam hingga perubahan nilai sosial di tengah arus modernisasi.

Karya tersebut mengangkat konsep Bhuana Purnaning Jiwa, yakni kondisi ideal ketika alam, ruang, dan manusia berada dalam keseimbangan. Simbol utama berupa tugu diangkat dari konsep tata ruang tradisional Bali, khususnya Catus Patha, sebagai titik temu empat arah yang menjadi pusat orientasi kehidupan.

Struktur ogoh-ogoh ini dibangun dari bataran berbentuk segi empat yang melambangkan keseimbangan, dengan empat figur Mayang yang saling menopang di atasnya. Keempat figur tersebut merepresentasikan kondisi manusia modern—yang terkadang mampu melihat namun tidak memahami, mendengar namun tidak menyimak, atau bergerak tanpa arah.

Detail artistik karya ini juga menjadi perhatian, mulai dari ukiran khas Banjar Tarukan Mas, patung butha penjaga di setiap penjuru, hingga penggunaan material daur ulang seperti besi bekas dan elemen ramah lingkungan lainnya. Finishing dengan tekstur menyerupai kerak telur serta teknik cat pointilis semakin memperkaya nilai estetika sekaligus filosofinya.

Parta menilai karya ini bukan sekadar ogoh-ogoh untuk perayaan, tetapi juga sebagai media refleksi sosial dan budaya.

“Pada akhirnya, Tugu Mayang bukan hanya sebuah ogoh-ogoh, melainkan sebuah pengingat bahwa kehidupan membutuhkan arah,” ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi semangat generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Bali melalui karya kreatif yang tetap berakar pada nilai-nilai tradisional.

Adapun ogoh-ogoh “Tugu Mayang” merupakan hasil karya tim kreator yang dikoordinatori oleh I Gede Fajar Juni Saputra, bersama I Ketut Pande Nuriana dan I Kadek Veridya Artha Sedana, serta didukung penuh oleh anggota ST Pandawa dan krama Banjar Tarukan, Desa Mas, Ubud.

Karya ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus pengingat pentingnya menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam di tengah dinamika zaman.

Facebook Comments Box