I Nyoman Parta: Berkesenian adalah Jiwa Masyarakat Bali yang Menjaga Predikat Living Culture

 I Nyoman Parta: Berkesenian adalah Jiwa Masyarakat Bali yang Menjaga Predikat Living Culture

GIANYAR — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari daerah pemilihan Bali I Nyoman Parta menegaskan bahwa kegiatan berkesenian dan berkebudayaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Tradisi tersebut bahkan telah diwariskan sejak usia dini kepada generasi muda sehingga Pulau Dewata dikenal sebagai daerah dengan budaya yang hidup atau living culture.

Hal itu disampaikan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut saat menghadiri kegiatan seni dan budaya yang melibatkan anak-anak pendidikan usia dini hingga taman kanak-kanak se-Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.

Menurut Nyoman Parta, seni dan budaya di Bali tidak lahir semata-mata untuk memenuhi kebutuhan panggung pertunjukan atau festival, melainkan sebagai bagian dari jiwa dan identitas masyarakat Bali yang diwariskan secara turun-temurun.

“Berkesenian dan kemudian berkebudayaan adalah jiwa manusia Bali. Berkesenian bukan karena kebutuhan panggung atau festival, tetapi karena ada rasa jengah untuk merawat warisan leluhur,” kata Nyoman Parta.

Ia menjelaskan bahwa predikat Bali sebagai wilayah dengan living culture tidak muncul begitu saja, melainkan karena masyarakatnya secara konsisten menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, budaya di Bali terus hidup karena masyarakat secara aktif melestarikannya, mulai dari keluarga, lingkungan adat, hingga lembaga pendidikan.

“Bali mendapatkan predikat living culture karena masyarakatnya benar-benar merawat budaya sejak usia belia. Proses itu terjadi terus-menerus dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Nyoman Parta menilai kegiatan seni yang melibatkan anak-anak sejak usia dini merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Bali di masa depan.

Ia mencontohkan kegiatan seni yang diikuti anak-anak dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) di wilayah Kecamatan Sukawati sebagai bentuk nyata proses regenerasi budaya tersebut.

“Anak-anak PAUD dan TK se-Kecamatan Sukawati ini sejak kecil sudah dikenalkan pada seni dan budaya. Inilah yang membuat budaya Bali tetap hidup dan tidak terputus oleh zaman,” katanya.

Ia menambahkan, pendidikan budaya sejak usia dini tidak hanya membentuk keterampilan seni anak-anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kearifan lokal, rasa hormat kepada leluhur, serta kebanggaan terhadap identitas budaya daerah.

Menurut Nyoman Parta, generasi muda Bali memiliki tanggung jawab besar untuk terus merawat dan mengembangkan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.

“Ketika anak-anak sejak kecil sudah mencintai budaya, maka ke depan mereka akan menjadi generasi yang menjaga dan melanjutkan tradisi tersebut,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta komunitas seni dan budaya untuk terus memperkuat pembelajaran seni tradisional bagi generasi muda.

Menurutnya, seni dan budaya Bali tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan yang menjadi pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupan.

“Budaya Bali bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga mengandung nilai spiritual, filosofi hidup, serta hubungan manusia dengan alam dan sesama,” jelasnya.

Nyoman Parta berharap kegiatan seni budaya yang melibatkan anak-anak dapat terus diperluas sehingga semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam pelestarian budaya Bali.

Ia juga menilai kegiatan seperti ini penting untuk memastikan bahwa identitas budaya Bali tetap terjaga di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

“Selama masyarakat Bali terus merawat budayanya, maka Bali akan tetap dikenal sebagai daerah dengan living culture yang kuat,” pungkasnya.

Facebook Comments Box