Muzayyin Arief: Investasi Awal Danantara Akan Menentukan Arah Industrialisasi Indonesia

 Muzayyin Arief: Investasi Awal Danantara Akan Menentukan Arah Industrialisasi Indonesia

Muzayyin Arief

JAKARTA — Ketua Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (BP2EP) Muzayyin Arief menilai tahun 2026 akan menjadi titik uji rasionalitas kebijakan ekonomi nasional, seiring mulai beroperasinya Danantara sebagai instrumen investasi negara dengan dana sekitar US$12 miliar atau setara Rp202 triliun.

Menurut Muzayyin, keberhasilan Danantara tidak semestinya diukur dari besarnya dana kelolaan, melainkan dari ketepatan arah investasi awal yang diambil negara.

“Tidak semua kebijakan ekonomi diuji lewat pidato atau dokumen perencanaan. Sebagian justru diuji oleh keputusan sunyi—ke mana negara menaruh modalnya, dan untuk tujuan apa,” ujar Muzayyin dalam keterangannya, Jakarta, Senin (2/1/2026).

Muzayyin yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Mandiri Makassar (YPMM) serta kandidat doktor Universitas Islam Jakarta (UIJ) menegaskan, sejak awal Danantara harus diposisikan sebagai instrumen investasi jangka panjang, bukan sekadar perpanjangan tangan APBN.

“Danantara bukan dana talangan, bukan pula proyek politis lima tahunan. Ia harus mengunci arah pembangunan dan menopang proyek industri yang bankable, berdampak struktural, serta tahan terhadap perubahan rezim,” tegasnya.

Smelter Nikel dan Alumina Dinilai Paling Rasional

Dalam kerangka tersebut, Muzayyin menyebut sektor pertambangan dan energi, khususnya smelter nikel dan alumina, sebagai pilihan investasi paling rasional bagi Danantara pada fase awal operasionalnya. Kendaraan strategisnya, kata dia, adalah MIND ID sebagai holding tambang negara yang menguasai rantai nilai dari hulu ke hilir.

Ia menjelaskan, smelter nikel memiliki posisi strategis karena Indonesia telah menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global.

“Nilai tambah terbesar nikel tidak lagi pada bijih mentah, tetapi pada produk intermediate seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nickel matte. Di titik inilah Indonesia masuk ke jantung industri baterai dan kendaraan listrik dunia,” jelas Muzayyin.

Melalui PT Antam, pengembangan smelter nikel berorientasi hilirisasi dinilai mampu menarik investasi asing sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global. Dalam konteks ini, Danantara dipandang krusial sebagai anchor investor.

“Kehadiran Danantara bisa menurunkan risiko awal proyek dan menjamin kesinambungan pendanaan jangka panjang. Itu sinyal kuat bagi investor global,” katanya.

Alumina sebagai Penyangga Industrialisasi Domestik

Sementara itu, smelter alumina memiliki karakter berbeda. Muzayyin menilai permintaan alumina cenderung stabil dan berbasis kebutuhan dalam negeri, mulai dari konstruksi, kelistrikan, otomotif, hingga infrastruktur energi.

“Di bawah Inalum, alumina bukan sekadar soal margin, tetapi soal fondasi industrialisasi nasional dan pengurangan ketergantungan impor aluminium,” ujarnya.

Meski dinilai tidak seatraktif nikel dari sisi keuntungan jangka pendek, alumina memberikan kepastian pasar serta dampak luas bagi perekonomian domestik.

Ujian Arah Pembangunan Nasional

Muzayyin menegaskan, kombinasi investasi nikel dan alumina mencerminkan logika investasi negara yang seimbang—antara pertumbuhan dan ketahanan.

“Nikel adalah mesin pertumbuhan dengan orientasi global, sementara alumina menjadi jangkar stabilitas industri dalam negeri. Keduanya berbasis keunggulan komparatif Indonesia dan didukung kebijakan hilirisasi yang relatif konsisten,” paparnya.

Ia menambahkan, keputusan investasi awal Danantara akan menjadi ujian nyata arah kebijakan ekonomi nasional.

“Jika dana publik sebesar itu ditempatkan pada aset industri berumur panjang seperti smelter nikel dan alumina, negara tidak hanya mengejar imbal hasil finansial, tetapi mengunci nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri,” kata Muzayyin.

Menurutnya, smelter harus dipahami bukan sekadar sebagai pabrik.

“Smelter adalah pernyataan sikap negara. Apakah Indonesia sungguh-sungguh membangun fondasi industrialisasi, atau sekadar mengulang pola lama,” pungkasnya.

“Tahun 2026 akan memberi jawabannya,” tutup Muzayyin.

 

Facebook Comments Box