Prof. Sri Edi Swasono dan Masa Depan Taman Siswa

 Prof. Sri Edi Swasono dan Masa Depan Taman Siswa

“Seseorang yang kurang cerdas dapat diperbaiki, yang kurang trampil juga bisa diperbaiki. Tetapi yang kurang jujur sulit diperbaiki” (Bung Hatta).

Siapa yang tak kenal dengan Prof.Dr.Sri Edi Swasono?. Beliau adalah Guru Besar Fak.Ekonomi UI, pejuang koperasi dan ekonomi kerakyatan. Tetapi juga menantu Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia. Jadi kloplah bila beliau menjadi juru tafsir yang sah dari pemikiran ekonomi Bung Hatta, tokoh proklamator yang punya andil dalam merumuskan pasal 33 UUD 1945 tentang ekonomi yang berasaskan kekeluargaan.

Pada bulan Desember 2011, beliau mengalami peristiwa yang unik. Dia ditunjuk oleh Pak Probo Sutedjo, untuk memimpin sebuah organisi yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan yang sepuluh tahun lagi akan genap berusia satu abad, yaitu Tamansiswa.

Dikatakan unik, karena beliau tidak pernah mencalonkan diri untuk menjadi Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa dalam Konggres Tamansiswa ke-20 Desember 2011 yang lalu. Beliau juga bukan alumni Tamansiswa, dan lebih-lebih lagi, bukan Anggota Tamansiswa.

Kedekatan beliau dengan Tamansiswa, lebih karena kedekatan ideologi kerakyatan dan emosional antara Bung Hatta dengan Tamansiswa. Bung Hatta, mertua beliau, adalah sahabat Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa. Sekalipun begitu, kesediaan beliau untuk menyelamatkan organisasi Tamansisa patut diapresiasi.

Sebab Tamansiswa adalah organisasi yang bersifat wakaf merdeka sehingga Tamansiswa menjadi milik siapa saja yang menyetujui gagasan dan cita-cita Tamansiswa, yang sesungguhnya juga merupakan cita-cita seluruh bangsa Indonesia yang cinta damai, anti penindasan, menjujung tinggi kemanusiaan dan HAM, serta memperjuangkan terwujudnya masyarakat adil dan makmur sebagaimana yang dikehendaki Pancasila dan UUD 1945.

Kondisi internal organisasi Tamansiswa memang semakin carut marut dan terpuruk, begitu memasuki era reformasi. Tampaknya kelemahan internal Tamansiswa, mengakibatkan Tamansiswa bernasib malang bersama-sama sekolah swasta lemah lainnya, karena tidak siap menghadapi tantangan eksternal yang berubah dengan cepat begitu memasuki otonomi di bidang pendidikan. Pada era otonomi, persaingan pendidikan dasar dan menengah semakin ketat.

Sekolah-sekolah negeri menjadi pesaing utama bagi sekolah swasta dalam setiap masa penerimaan siswa baru. Di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, sekolah negeri dengan bebas bisa menerima siswa baru sampai 15 klas dengan kapasitas 40-42 siswa per kelas.

Walaupun begitu, daya tampung seluruh sekolah negeri, terutama di kota-kota padat penduduk, tak mungkin bisa menampung out put seluruh siswa yang berniat melanjutkan sekolah. Sisa peserta didik yang tidak diterima sekolah negeri itulah yang biasanya diperebutkan sekolah-sekolah swasta.

Jadi, konfigurasi persaingan memperebutkan siswa baru pada jenjang pendidikaan dasar dan menengah ada tiga pemain, yaitu sekolah negeri, swasta kuat dan swasta lemah. Swasta kuat sebenarnya tak perlu khawatir tidak dapat murid, sedang swasta lemah, ya harus menerima nasib malang yang menimpa dirinya dalam setiap penerimaan siswa baru.

Bagaimana posisi Tamansiswa dalam medan persaingan menjaring siswa dalam setiap penerimaan siswa baru ?. Harian Kompas tgl.8-Juli -2008 membuat berita yang menyedihkan judulnya, “Perguruan Tamansiswa Terancam Runtuh”. Terancam, berarti belum.

Bahkan kalau ancaman itu diubah jadi tantangan, akan menciptakan kesempatan untuk maju dan berubah. Tetapi kalau Majelis Cabangnya thenguk-thenguk saja kerjanya, ancaman itu akan bisa menjadi kenyataan. Dalam berita tersebut seorang pakar pendidikan Darmaningtyas membuat sebuah prediksi masa depan Tamansiswa yang menarik, ” Dari tahun ke tahun Perguruan Tamansiswa terus mengalami kemunduran dari segi peminat.

Tanpa ada upaya perbaikan dan perubahan, Tamansiswa diperkirakan akan collapse dalam lima tahun ke depan. Kini Tamansiswa tidak lagi dianggap sebagai sekolah berkualitas. Suara Tamansiswa juga sudah tidak diperhitungkan lagi oleh para penentu kebijakan nasional”.

Prediksi bahwa Perguruan Tamansiswa akan collapse itu, disampaikan dalam sarasehan yang bertajuk,”Peran Tamansiswa dalam Pendidikan, Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat yang diselenggarakan pada hari Jum’at, 4 Juli lima tahun yang lalu (2008 M).

Empat tahun kemudian, kembali tersiar berita dalam harian Kompas maupun media online Kompas.com (2-Mei 2012), bahwa ada 300 sekolah milik Tamansiswa mengalami mati suri, karena kekurangan dana.

Demikian dikemukakan oleh Ki Sunarno Hadiwijoyo, Wakil Ketua Majelis Luhur Tamansiswa dalam Sarasehan Tamansiswa Sekolah Kebangsaan, Kerakyatan dan Pekerti Luhur yang diselenggarakan di Balai Persatuan Tamansiswa Jakarta pada tanggal 2 Mei 2012, yang bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional.

Dari dua berita yang berselang empat tahun itu, sudah cukup memberikan gambaran posisi Tamansiswa dari tahun ke tahun, semakin merosot, setidak-tidaknya dalam periode lima tahun (2008-2012). Dan secara nasional Tamansiswa berada dalam posisi kritis, apabila trend menurunnya jumlah peminat ke Tamansiswa tidak bisa segera diatasi.

Dari dua berita tersebut sudah cukup untuk menarik kesimpulan bahwa sekolah-sekolah atau satuan pendidikan Tamansiswa pada level Cabang Tamansiswa sebagian besar terdiri dari sekolah-sekolah dengan kualifikasi sekolah swasta lemah yang bernasib malang, sehingga selalu kalah bersaing dengan swasta kuat.

Memang masih ada cabang Tamansiswa yang termasuk kategori kuat, sehingga mampu mengelola siswa 2000-4000 untuk tiga sekolah atau satuan pendidikan yang dikelolanya. Cabang-cabang yang demikian biasanya merupakan cabang yang dikelola dengan manajemen modern, jujur, bersih dari nepotisme dan KKN, transparant dan open manajemen. Tapi cabang Tamansiswa dengan kualifikasi demikian dapat dihitung dengan jari.

Sebagian besar cabang Tamansiswa di daerah-daerah adalah cabang-cabang yang bernasib malang, karena mengelola siswa hanya dibawah 1000 siswa untuk tiga atau hanya dua sekolah yang dikelolanya. Cabang yang demikian biasanya dikelola dengan manajemen thenguk-thenguk, primitif, tradisional, sarat korupsi,kolusi, nepotisme, pengelolaan keuangan tertutup, otoriter dan pengurusnya sering adigang, adigung, adiguna dan bersikap jumawa.
Mereka menganggap cabang Tamansiswa adalah miliknya, dengan demikian mereka menjelma menjadi raja-raja kecil yang menguasai cabang masing-masing dan mengelola cabang dan sekolah dengan manajemen semau gue.

Banyak cabang-cabang Tamansiswa yang lemah dengan kasus-kaus missmanajemen dan salah urus. Misalnya sering tejadi rangkap jabatan kepengurusan secara vertikal antara pengurus Majelis Cabang dengan jabatan kepala sekolah di sejumlah cabang Tamansiswa.

Ada cabang Tamansiswa, Ketua Cabangnya merangkap jabatan Kepala SMA, sedangkan istrinya menjadi Bendahara Majelis Cabang, merangkap Ketua Taman Kanak-Kanak. Ada lagi cabang Tamansiswa, Panitera Cabang, merangkap Kepala SMK Tamansiswa, masih merangkap lagi menjadi Ketua Persiapan Cabang di tempat lain.

Sementara itu, keponakan sang panitera merangkap pula jadi Kepala SMK di Cabang yang lain. Sedangkan Kepala SMP merangkap dengan jabatan Urusan Pembangunan di Majelis Cabang.Ada cabang yang aset tanahnya bukan atas nama organisasi wakaf merdeka, tetapi atas nama Ketua Cabangnya.

Bahkan ada Cabang yang menjual tanah milik organisasi, karena sertifikat atas nama pribadi, dijual begitu saja tanpa pemberitahuan atau laporan kepada para guru dan anggota Yayasan Cabang Tamansiswa. Demikianlah potret buram salah satu sekolah swasta yang lemah, yang dikelola secara tidak profesional.

Sekolah swasta lemah yang salah urus, bisa jadi tidak hanya terjadi dilingkungan Tamansiswa, tetapi juga pada sekolah swasta lain yang didirikan bukan dengan tujuan mencerdaskan bangsa. Kepentingan pribadi untuk meraih harta dan kehormatan, sering mendominasi sekolah-sekolah semacam ini.

Mampukah Sri-Edi Swasono membenahi carut-marut cabang-cabang Tamansiswa?. Kelemahan utama Tamansiswa dalam mengelola pendidikan dasar dan menengah, sebenarnya bukanlah pada manajemen Majelis Luhur selaku pimpinan pusat. Tetapi lebih pada level Majelis Cabang yang mengelola sekolah-sekolah Tamansiswa di daerah.

Mereka itulah yang harus menjadi sasaran reformasi dan penertiban. Gaya kepemimpinan model Jokowi dan Ahok yang sering turun dan blusukan ke bawah, adalah gaya kepemimpinan yang cocog diterapkan oleh Majelis Luhur Tamansiswa pimpinan Prof.Dr.Sri Edi-Swasono, jika ingin menyelamatkan Tamansiswa.

Turunlah ke cabang-cabang Tamansiswa, jewer pengurus cabang nakal. Kalau perlu lengserkan dan larang rangkap jabatan secara vertikal dan cegah jabatan dari dua orang atau lebih yang memiliki ikatan keluarga, untuk mencegah konflik kepentingan dan KKN.

Budayakan setiap cabang dibentuk Badan Pengawas Keuangan, lakukan verifikasi keuangan secara periodik minimal setahun sekali untuk mengawasi manajemen pengelolaan keuangan cabang.

Batasi masa jabatan kepala-kepala sekolah cukup dua periode agar ada siklus kepemimpinan dan proses kaderisasi level cabang berjalan lancar. Masih ada jalan untuk menyelamatkan keterpurukan Tamansiswa, asal Majelis Luhur sering turba dan menerapkan standar moral yang tinggi bagi pengurus cabang.

Terutama dengan membudayakan perilaku dan sikap jujur. Sebab, menurut Bung Hatta,”Seseorang yang kurang cerdas dapat diperbaiki, seorang yang kurang trampil juga dapat diperbaiki. Tetapi seseorang yang kurang jujur sulit diperbaiki”.

Jika yang kurang jujur saja sukar diperbaiki, apalagi yang tidak jujur. Bagi orang yang tidak jujur, menipu,memalsu dan membohongi publik dianggap hal biasa. Tapi bagi orang yang terbiasa jujur, perilaku demikian adalah luar biasa buruknya.

Bangsa Indonesia menunggu dengan penuh harap karya Prof.Dr.Edi-Swasono untuk menyelamatkan perguruan pelopor sekolah kebangsaan di tanah aair kita.Last but not least, mari kita doakan agar Prof.Dr.Edi-Swasono sukses memimpin Tamansiswa.
Prof.Dr.Sri-Edi Swasono, Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa, lahir di Ngawi, 16 September 1940 M. Beliau juga adalah Guru Besar Ekonomi di Universitas Indonesia,pernah menjadi anggota MPR utusan golongan pada masa Orde Baru.

Menantu pertama Bung Hatta ini menghabiskan sebagian hidupnya untuk menimba ilmu, seorang pejuang gigih koperasi dan ekonomi kerakyatan.

Penulis : Anwar Hadja, Ketua Forum Pamong Penegak Tertib Damai Tamansiswa Bandung

 

(Afditya Iman Fahlevi)

Digiqole ad

Berita Terkait