Profil Tokoh: Sodik Mudjahid, Ketua Baznas RI yang Dorong Transformasi Zakat untuk Kemandirian Umat
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Dapil Jawa Barat I, Sodik Mudjahid foto: dpr.go.id
Tokoh intelektual Muslim sekaligus mantan legislator, Sodik Mudjahid dipercaya memimpin Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia untuk periode 2026–2031. Ia terpilih secara aklamasi oleh 11 pimpinan Baznas dan mengemban amanah untuk memperkuat pengelolaan zakat nasional agar semakin berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Bagi Sodik, zakat bukan sekadar kewajiban ibadah umat Islam, tetapi juga instrumen strategis pembangunan sosial dan ekonomi umat. Ia menilai potensi zakat nasional sangat besar dan dapat menjadi kekuatan penting dalam mengurangi kesenjangan sosial serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Zakat tidak boleh berhenti pada fungsi karitatif. Ia harus produktif, mampu mengangkat mustahik menjadi muzakki baru dan melahirkan kemandirian,” kata Sodik dalam keterangannya di Jakarta.
Pengalaman Politik dan Pengabdian Publik
Sodik Mudjahid memiliki pengalaman panjang di dunia politik dan kebijakan publik. Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia selama dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024 dari Partai Gerakan Indonesia Raya.
Pada periode pertama di parlemen, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi VIII yang membidangi urusan agama, sosial, kebencanaan, serta pemberdayaan perempuan dan anak. Pada periode berikutnya, ia menjabat sebagai Ketua Kelompok Fraksi di Komisi II yang menangani pemerintahan dalam negeri, agraria, dan reformasi birokrasi.
Pengalaman di parlemen tersebut memperkaya pemahaman Sodik tentang kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, serta strategi pembangunan nasional, yang kini menjadi bekal penting dalam memimpin Baznas.
Latar Belakang Pendidikan dan Aktivisme
Sodik dikenal sebagai figur yang memiliki latar belakang akademik kuat. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Bandung, kemudian melanjutkan studi di Universitas Padjadjaran pada Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian dan lulus pada 1980.
Ia kemudian meraih gelar magister agribisnis dari universitas yang sama pada 1992, serta menyelesaikan program doktor di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2011 dengan spesialisasi Total Quality Management untuk lembaga pendidikan.
Sejak masa muda, Sodik aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan dakwah, termasuk Pelajar Islam Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam. Aktivitas tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang kuat dalam pengembangan pemikiran Islam, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi keagamaan dan pendidikan, termasuk menjadi Ketua Yayasan Darul Hikam Bandung yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Gagasan Transformasi Zakat
Sebagai Ketua Baznas, Sodik menilai pengelolaan zakat di Indonesia perlu mengalami transformasi agar mampu menjawab tantangan sosial ekonomi yang semakin kompleks.
Ia memperkirakan potensi zakat profesi dari kalangan eksekutif, legislatif, TNI-Polri, BUMN, hingga lembaga keuangan negara dapat mencapai sekitar Rp14,6 triliun per tahun. Namun di sisi lain, jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan masih besar.
Menurutnya, pengelolaan zakat tidak boleh berhenti pada distribusi bantuan semata, tetapi harus diarahkan pada program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Indonesia memiliki lebih dari 66 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang mayoritas merupakan masyarakat Muslim. Jika mereka mendapat dukungan melalui zakat produktif, pelatihan manajemen, serta akses pasar, maka hal itu berpotensi menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus melahirkan muzakki baru.
Lima Langkah Strategis Baznas
Dalam visinya memimpin Baznas, Sodik mengusulkan lima langkah strategis untuk memperkuat pengelolaan zakat nasional, yaitu:
1. Membangun ekosistem zakat melalui sinergi pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil.
2. Mendorong digitalisasi zakat dengan basis data muzakki dan mustahik yang terintegrasi.
3. Memperkuat kapasitas amil zakat sebagai agen perubahan.
4. Membentuk unit khusus pemberdayaan zakat produktif yang fokus pada pendampingan usaha jangka panjang.
5. Memperluas kolaborasi dengan sektor pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan lingkungan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan zakat seharusnya dapat diukur melalui peningkatan kualitas hidup masyarakat, seperti indeks pembangunan manusia, indeks kesehatan, hingga tingkat kebahagiaan.
“Sudah saatnya Baznas menjadi motor kemandirian umat,” ujarnya.
Dengan latar belakang sebagai intelektual, aktivis dakwah, dan politisi berpengalaman, kepemimpinan Sodik Mudjahid di Baznas diharapkan mampu memperkuat peran zakat sebagai instrumen strategis dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi umat di Indonesia.
Pemuda LIRA Dukung Sodik Mudjahid Pimpin Baznas 2026–2031
Sekretaris Jenderal Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA), Habibie Mahabbah, menyatakan dukungan terhadap terpilihnya Sodik Mudjahid sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia periode 2026–2031.
Menurut Habibie, Sodik merupakan figur yang memiliki rekam jejak kuat dalam memperjuangkan berbagai isu keumatan serta memiliki kapasitas kepemimpinan yang relevan untuk membawa pengelolaan zakat nasional menjadi lebih modern, profesional, dan berdampak luas bagi pemberdayaan masyarakat.
“Sosok Sodik memiliki rekam jejak yang jelas dalam membela isu-isu keumatan. Selain itu, beliau juga memiliki kompetensi yang relevan untuk mentransformasi pengelolaan zakat nasional agar lebih modern dan berdampak luas bagi pemberdayaan umat,” kata Habibie dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Ia menilai Baznas membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami aspek teologis zakat, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang kuat serta visi strategis dalam mendorong pemberdayaan ekonomi umat.
“Baznas membutuhkan figur yang tidak hanya memahami aspek teologis zakat, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang kuat. Semua itu ada dalam sosok Sodik. Ia memiliki visi strategis dalam pemberdayaan umat,” ujarnya.
Habibie yang merupakan mantan wartawan TV Parlemen itu menilai pengalaman panjang Sodik di bidang legislatif dan aktivitas sosial-keagamaan menjadi modal penting untuk memperkuat sinergi antara kebijakan zakat dan agenda pembangunan nasional.
Ia mengaku cukup mengenal rekam jejak Sodik selama berkiprah di parlemen. Di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Sodik diketahui pernah memegang sejumlah posisi strategis, di antaranya sebagai Wakil Ketua Komisi VIII yang membidangi urusan agama, sosial, dan regulasi.
“Saya cukup memahami sosok beliau. Pengalaman beliau di parlemen sangat relevan untuk memimpin Baznas, terutama dalam memperkuat regulasi dan tata kelola zakat nasional,” jelasnya.
Habibie juga mengungkapkan bahwa dirinya beberapa kali berdiskusi langsung dengan Sodik mengenai berbagai isu keislaman dan fikih, termasuk pembahasan tentang regulasi zakat dan tata kelola lembaga zakat di Indonesia.
“Saya kerap berdiskusi dengan beliau soal urusan agama dan juga diskusi fikih. Beliau memiliki pemahaman mendalam tentang fikih, literasi, dan regulasi zakat,” ujarnya.
Selain memiliki pengalaman di bidang legislatif, Sodik juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Ia pernah menjabat sebagai Bendahara Bazis Jawa Barat serta aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Barat. Sodik juga dikenal sebagai pendiri dan Ketua Yayasan Darul Hikam Bandung yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan umat.
Habibie menilai pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting bagi Sodik untuk membawa Baznas semakin maju dan mampu menjawab tantangan zaman, khususnya dalam meningkatkan efektivitas zakat sebagai instrumen pembangunan sosial.
Ia juga menilai Sodik memiliki pandangan progresif dalam pengelolaan zakat. Menurutnya, Sodik tidak memandang zakat semata sebagai instrumen karitatif, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam pemberdayaan ekonomi umat.
“Beliau sering menekankan pentingnya zakat produktif bagi pelaku UMKM. Jika mereka mendapat dukungan dana zakat disertai pelatihan manajemen dan akses pasar, maka akan lahir kemandirian umat secara luas,” kata Habibie.
Habibie yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu menambahkan bahwa Sodik merupakan sosok senior di lingkungan aktivis Islam yang memiliki penguasaan kuat dalam isu perzakatan.
Karena itu, ia berharap kepemimpinan Sodik Mudjahid di Baznas dapat memperkuat transformasi pengelolaan zakat nasional agar lebih profesional, transparan, dan mampu menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi umat.
“Kami dari Pemuda LIRA mendukung penuh kepemimpinan Sodik Mudjahid di Baznas. Semoga di bawah kepemimpinannya, Baznas semakin kuat, modern, dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat,” pungkasnya.
Riwayat Pendidikan
Lulus SD Negeri Coblong 3 Bandung (1969)
Lulus SMP Negeri 5 Bandung (1972)
Lulus SMA Negeri 5 Bandung (1975)
Lulus S-1 Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1980)
Lulus S-2 Program Magister Spesialisasi Agribisnis, Universitas Padjadjaran (1992)
Lulus S-3 Program Doktor Spesialisasi Total Quality Management untuk Lembaga Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (2011)
Riwayat Organisasi
Sekretaris Pelajar Islam Indonesia Jawa Barat (1975–1980)
Sekretaris Lembaga Dakwah HMI Kota Bandung (1977)
Redaktur Majalah Kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (1978)
Wakil Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (1979)
Wakil Direktur Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (1998–2002)
Ketua Alumni Brigade Pelajar Islam Indonesia Jawa Barat (1998–2003)
Bendahara Bazis Jawa Barat (1998–2003)
Ketua MUI Jawa Barat (2000–2005)
Sekretaris Jenderal Komite Peduli Reformasi Jawa Barat (2000–2005)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Bandung Maksiat Watch (2006)
Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia Jawa Barat (2004–2008)
Sekretaris ICMI Jawa Barat (2006–2016)
Anggota Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah Jawa Barat (2007–2012)
Dewan Penasehat Himpunan Pendidik Anak Usia Dini Jawa Barat (2007–2012)
Badan Pembina Dewan Masjid Indonesia Jawa Barat (2008–2013)
Sekretaris Dewan Pakar Paguyuban Alumni PII Jawa Barat (2009–2014)
Badan Pengawas Bazis Jawa Barat (2009–2014)
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kota Bandung (2010–2015)
Anggota Dewan Pakar Majelis Ekonomi Syariah Jawa Barat (2010–2017)
Ketua Dewan Penasehat Badan Musyawarah Perguruan Swasta Kota Bandung (2011–2016)
Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta Jawa Barat (2012–2017)
Pendiri dan Ketua Majelis Syuro Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat
Ketua Yayasan Darul Hikam, Bandung
Karier
Direktur Perencanaan PT. Tricon Jaya Internasional Consulting Engineers (1980–1995)
Sekretaris LPPM Institut Manajemen Koperasi Indonesia (1990–2005)
Direktur Perguruan Yayasan Darul Hikam (1990–sekarang)
Pendiri dan Komisaris PT Qiblat Tour (2002–sekarang)
Dosen LIN IV Telkom Bandung (2010–2015)
Direktur Pusat Data dan Dinamika Ummat (2011–sekarang)
Komisaris PT Mitra Pratama Mandiri (2013–sekarang)
Anggota DPR-RI (2014–2019, 2019–2024)