RAMADHAN & DISIMULASI: Antara Spiritualitas Kolektif dan Kepalsuan Individual
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar
Ramadhan selalu menghadirkan pemandangan yang memukau. Masjid penuh, lantunan ayat suci menggema, sedekah mengalir deras, dan wajah-wajah tampak lebih teduh dari biasanya. Ada spiritualitas kolektif yang begitu terasa, sebuah energi bersama yang menggerakkan masyarakat menuju kebaikan.
Namun di balik gelombang kesalehan publik itu, ada ruang sunyi yang jarang diselami, yakni ruang hati individu. Di sanalah kejujuran diuji, di sanalah topeng bisa dikenakan.
Kita hidup di zaman citra. Apa yang tampak sering lebih dihargai daripada apa yang hakiki. Dalam konteks ini, lahirlah fenomena yang disebut disimulasi, yakni menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dan menampilkan sesuatu yang berbeda dari kenyataan.
Secara sederhana, disimulasi adalah kepura-puraan yang halus, bukan sekadar dusta, tetapi permainan citra. Ia bisa hadir dalam senyum yang menutupi iri, dalam ucapan yang menutup niat tersembunyi, bahkan dalam ibadah yang dipoles untuk dipuji.
Padahal Allah menembus segala tirai lahiriah:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS. Ghafir: 19)
Ayat ini seperti cahaya tajam yang menyingkap ruang paling gelap dalam diri manusia. Tak ada sudut batin yang tersembunyi dari-Nya. Maka bagaimana mungkin kita merasa aman di balik pencitraan?. Ramadhan sejatinya adalah madrasah kejujuran. Ia melatih manusia untuk beribadah tanpa sorotan. Puasa adalah ibadah yang paling sunyi, orang lain tak bisa memastikan apakah kita benar-benar menahan diri atau sekadar menampilkan diri.
Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mengapa puasa begitu istimewa? Karena ia membangun relasi langsung antara hamba dan Tuhannya, tanpa perantara tepuk tangan manusia. Di sanalah disimulasi runtuh, jika hati benar-benar jujur.
Namun realitas sosial sering menghadirkan paradoks. Di tengah spiritualitas kolektif yang menguat, kepalsuan individual bisa saja bersembunyi. Seseorang bisa khusyuk di barisan depan, tetapi keras dalam transaksi. Bisa lembut dalam doa, tetapi tajam dalam kezaliman. Inilah jarak antara simbol dan substansi.
Allah memperingatkan dengan tegas:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”
(QS. al-Ma‘un: 4–6)
Ini bukan celaan terhadap ibadah, melainkan terhadap kepura-puraan dalam ibadah. Riya adalah bentuk disimulasi spiritual, amal tetap ada, tetapi orientasinya bergeser dari Allah kepada manusia. Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ
قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟
قَالَ: الرِّيَاءُ
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Mereka bertanya, “Apakah itu?”
Beliau menjawab, “Riya.”
(HR. Ahmad)
Kekhawatiran Rasulullah SAW. bukan tanpa alasan. Riya merusak dari dalam, perlahan dan tak terasa. Ia mengubah ibadah menjadi panggung, dan kesalehan menjadi pertunjukan. Umar bin Khattab RA. pernah berkata:
مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ
“Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.”
Inilah kunci yang sering terlupakan, perbaikan kolektif harus dimulai dari kejujuran individual. Spiritualitas bersama akan menjadi rapuh jika individu-individunya hidup dalam disimulasi.
Allah menegaskan tujuan ibadah dengan sangat jernih:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”(QS. al-Bayyinah: 5).
Ikhlas adalah lawan dari disimulasi. Ia tidak mencari sorotan, tidak haus validasi. Ia tenang meski tak dilihat, kokoh meski tak dipuji.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
الإخلاص سرٌّ بين العبد وربه
“Ikhlas adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya.”
Ramadhan memberi kita kesempatan untuk menjaga rahasia itu tetap murni. Di tengah gemuruh takbir dan riuhnya ibadah publik, ia mengajak kita masuk ke ruang paling pribadi, itulah hati.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah gemuruh spiritualitas kolektif semata, tetapi kejujuran individual di hadapan Allah. Ketika topeng-topeng runtuh, ketika sorotan padam, ketika manusia tak lagi melihat, yang tersisa hanyalah hubungan sunyi antara hamba dan Rabb-nya.
Maka Ramadhan adalah undangan untuk menyatukan yang lahir dan batin. Agar spiritualitas kolektif bukan sekadar fenomena sosial, tetapi cerminan dari hati-hati yang benar-benar jujur.
Dan di situlah Ramadhan menemukan maknanya, bukan sekadar ramai di luar, tetapi juga terang di dalam.
#Wallahu a‘lam bish-shawab